Hidup penuh perjuangan

Jumat, 13 Mei 2016


Perencanaan pondasi tiang pada umumnya mengikuti 7 langkah berikut :
1.      Menentukan profil dan katrakteristik teknis tanah
Penentuan stratifikasi atau pelapisan tanah, penggambaran profil kadar air dan batas-batas aterberg, menentukan kuat geser tak teralir (undrained) dari uji triaxial UU atau uji geser baling (Vane shear test), dan menggambarkan hasil uji lapangan (In-situ test). Muka air tanah juga perlu diketahui.
Pada lapisan tanah lempung yang jenuh air dan kompresibel perlu dilakukan uji konsolidasi jika diperlukan informasi penurunan jangka panjang dan evaluasi gaya hisap pada tiang, sedangkan pada tanah ekspansif perlu digambarkan profil potensi pengembangan (Swelling). Untuk evaluasi perilaku tiang terhadap beban lateral, modulus of subgrade reaction perlu ditentukan.
Bila terdapat beberapa pemboran dan uji sondir, gambarkan penampang potongan melalui titik-titik uji tersebut. Penggambaran penampang melintang melalui beberapa titik bor akan lebih memudahkan untuk mengevaluasi kondisi tanah dalam arah potongan tersebut. Dalam hal tertentu bilamana uji laboratorium tidak dilakukan, profil tanah dari uji sondir atau nilai SPT dapat ditampilkan.
2.      Penentuan kedalaman pondasi
Tentukan lapisan pendukung yang cukup baik dan dapat memikul beban berdasarkan profil tanah di lapangan. Bila terdapat lapisan yang kompresibel dibawahnya, pondasi dapat diperdalam atau perkiraan penurunan perlu dilakukan. Bila lapisan tanah keras tidak didapatkan hingga kedalaman tertentu, tiang dapat direncanakan sebagai tiang gesekan.
Bila pondasi tiang digunakan untuk menahan longsoran, maka kedalaman pondasi harus melampaui bidang longsor tersebut, dan bila digunakan menahan galian maka kedalaman pondasi harus masuk secukupnya agar jepitan memadai.
3.      Penentuan jenis dan dimensi pondasi
Tentukan jenis dan dimensi pondasi tiang baik tiang pancang atau tiang bor atau pondasi khusus berdasarkan pertimbangan beberapa faktor :
·         Jenis tanah sehubungan dengan kemampuan penetrasi tiang
·         Daya dukung tanah baik aksial dan lateral
·         Kapasitas penampang struktur tiang terhadap tekan, tarik dan lentur
·         Ketersediaan peralatan
·         Pengalaman konstruksi di lokasi proyek
·         Pertimbangan lingkungan (suara, getaran, jalan akses, dan lain-lain)
·         Ekonomi (biaya)
4.      Perencanaan pondasi tiang
Prosedur perencanaan pondasi tiang untuk bangunan gedung dan jembatan mengikuti cara yang belum umum, yaitu penentuan daya dukung ujung tiang, daya dukung gesekan selimut dan daya dukung lateral. Peralihan lateral pada beberapa kombinasi beban umumnya ditentukan untuk mengetahui kemapuan tiang untuk menahan beban lateral.
Masalah yang sangat penting dalam perencanaan adalah menetukan parameter tanah yang tepat. Dalam banyak hal, meskipun metode analisis untuk daya dukung cukup banyak dan dapat memberikan jawaban yang bervariasi, tetapi kesalahan yang terjadi akibat kekeliruan parameter tanah adalah lebih fatal (Peck, 1988)
5.      Penentuan konfigurasi tiang
6.      Berdasarkan beban yang bekerja, pengelompokan atau konfigurasi tiang dapat ditentukan. Pada beban yang relatif kecil kemungkinan beban dapat dipikul oleh tiang tunggal, sedangkan pada beban aksial atau beban momen yang besar, kelompok tiang dapat direncanakan untuk disatukan dalam sebuah pile cap. Dalam perencanaan juga perlu diperhatikan efisiensi dari kelompok tiang. Penurunan pondasi tiang baik secara individual mapun pada kelompok kemudian dapat dihitung.
7.      Pengaruh konstruksi pada bangunan disekitar proyek
Pengaruh penggalian unuk pile cap mapun basement terhadap kesetabilan lereng disekitar proyek mapun pengaruh vibrasi akibat pemancangan harus ikut diperhitungkan perubahan muka air tanah akibat adanya pemompaan air atau dewatering juga perlu diantisipasi pengaruhnya terhadap bangunan disekitar proyek.

Terutama pada tiang pancang, ada potensi terjadi dorongan akibat pemancangan (dalam arah aksial maupun lateral) terhadap tanah disekitar. hal ini perlu dipertimbangkan karena pengaruh desakan tanah akibat pemancangan ini dapat menyebabkan konstruksi yang ada disekitarnya mengalami kerusakan akibat hal tersebut. Isu penting yang lain adalah besarnya tekanan air pori ekses yang timbul akibat pemancangan. (Rahardjo dkk, 2013).


Perencanaan pondasi tiang pada umumnya mengikuti 7 langkah berikut :
1.      Menentukan profil dan katrakteristik teknis tanah
Penentuan stratifikasi atau pelapisan tanah, penggambaran profil kadar air dan batas-batas aterberg, menentukan kuat geser tak teralir (undrained) dari uji triaxial UU atau uji geser baling (Vane shear test), dan menggambarkan hasil uji lapangan (In-situ test). Muka air tanah juga perlu diketahui.
Pada lapisan tanah lempung yang jenuh air dan kompresibel perlu dilakukan uji konsolidasi jika diperlukan informasi penurunan jangka panjang dan evaluasi gaya hisap pada tiang, sedangkan pada tanah ekspansif perlu digambarkan profil potensi pengembangan (Swelling). Untuk evaluasi perilaku tiang terhadap beban lateral, modulus of subgrade reaction perlu ditentukan.
Bila terdapat beberapa pemboran dan uji sondir, gambarkan penampang potongan melalui titik-titik uji tersebut. Penggambaran penampang melintang melalui beberapa titik bor akan lebih memudahkan untuk mengevaluasi kondisi tanah dalam arah potongan tersebut. Dalam hal tertentu bilamana uji laboratorium tidak dilakukan, profil tanah dari uji sondir atau nilai SPT dapat ditampilkan.
2.      Penentuan kedalaman pondasi
Tentukan lapisan pendukung yang cukup baik dan dapat memikul beban berdasarkan profil tanah di lapangan. Bila terdapat lapisan yang kompresibel dibawahnya, pondasi dapat diperdalam atau perkiraan penurunan perlu dilakukan. Bila lapisan tanah keras tidak didapatkan hingga kedalaman tertentu, tiang dapat direncanakan sebagai tiang gesekan.
Bila pondasi tiang digunakan untuk menahan longsoran, maka kedalaman pondasi harus melampaui bidang longsor tersebut, dan bila digunakan menahan galian maka kedalaman pondasi harus masuk secukupnya agar jepitan memadai.
3.      Penentuan jenis dan dimensi pondasi
Tentukan jenis dan dimensi pondasi tiang baik tiang pancang atau tiang bor atau pondasi khusus berdasarkan pertimbangan beberapa faktor :
·         Jenis tanah sehubungan dengan kemampuan penetrasi tiang
·         Daya dukung tanah baik aksial dan lateral
·         Kapasitas penampang struktur tiang terhadap tekan, tarik dan lentur
·         Ketersediaan peralatan
·         Pengalaman konstruksi di lokasi proyek
·         Pertimbangan lingkungan (suara, getaran, jalan akses, dan lain-lain)
·         Ekonomi (biaya)
4.      Perencanaan pondasi tiang
Prosedur perencanaan pondasi tiang untuk bangunan gedung dan jembatan mengikuti cara yang belum umum, yaitu penentuan daya dukung ujung tiang, daya dukung gesekan selimut dan daya dukung lateral. Peralihan lateral pada beberapa kombinasi beban umumnya ditentukan untuk mengetahui kemapuan tiang untuk menahan beban lateral.
Masalah yang sangat penting dalam perencanaan adalah menetukan parameter tanah yang tepat. Dalam banyak hal, meskipun metode analisis untuk daya dukung cukup banyak dan dapat memberikan jawaban yang bervariasi, tetapi kesalahan yang terjadi akibat kekeliruan parameter tanah adalah lebih fatal (Peck, 1988)
5.      Penentuan konfigurasi tiang
6.      Berdasarkan beban yang bekerja, pengelompokan atau konfigurasi tiang dapat ditentukan. Pada beban yang relatif kecil kemungkinan beban dapat dipikul oleh tiang tunggal, sedangkan pada beban aksial atau beban momen yang besar, kelompok tiang dapat direncanakan untuk disatukan dalam sebuah pile cap. Dalam perencanaan juga perlu diperhatikan efisiensi dari kelompok tiang. Penurunan pondasi tiang baik secara individual mapun pada kelompok kemudian dapat dihitung.
7.      Pengaruh konstruksi pada bangunan disekitar proyek
Pengaruh penggalian unuk pile cap mapun basement terhadap kesetabilan lereng disekitar proyek mapun pengaruh vibrasi akibat pemancangan harus ikut diperhitungkan perubahan muka air tanah akibat adanya pemompaan air atau dewatering juga perlu diantisipasi pengaruhnya terhadap bangunan disekitar proyek.

Terutama pada tiang pancang, ada potensi terjadi dorongan akibat pemancangan (dalam arah aksial maupun lateral) terhadap tanah disekitar. hal ini perlu dipertimbangkan karena pengaruh desakan tanah akibat pemancangan ini dapat menyebabkan konstruksi yang ada disekitarnya mengalami kerusakan akibat hal tersebut. Isu penting yang lain adalah besarnya tekanan air pori ekses yang timbul akibat pemancangan. (Rahardjo dkk, 2013).

Kamis, 21 April 2016

Memang tak mudah hidup di jaman sekarang. Serba sulit, serba bingung, en tentunya serba was-was. Maklum, hidup di jaman sekarang membutuhkan beragam trik. Agar di jalan nggak memancing lirikan mata copet, maka kamu kudu waspada dalam menjaga penampilan. Maklum, "lirikan" copet bisa merobek kantongmu. Rasa aman memang mahal. Begitupun supaya dapur tetep ngebul, kita kudu lihai putar otak. Maklum, jaman krismon harga sembako dan harga barang lainnya serba mahal. Sulit dikejar deh.
Nah, karena alasan ini pula, sebagian ibu-ibu merasa nggak betah dengan penghasilan sang suami. Uang 10 ribu perak rasanya cuma ngepas untuk belanja sehari dengan menu makanan yang standar. Maksudnya, standar kere. Aduh, kasihan deh. Makanya, banyak ibu-ibu yang terjun untuk membanting tulang ngebantuin suami. Akhirnya, sektor publik banyak dipenuhi kaum Hawa. Di pasar, di kantor, dan juga di pabrik. Semua berlomba menuai harapan dan mimpi menjadi wanita karir dan banyak duit.
Lisma, sebut saja begitu. Selepas kuliah langsung terjun mengais rupiah di kantor mentereng di lokasi se-strategis kawasan segi tiga emas Jakarta. Jabatan yang disandangnya pun bikin kaum cowok yang minder bisa ketar-ketir. Lisma sebagai manager marketing andalan kantornya. Untuk itu ia harus ikhlas (baca: terpaksa) mengikuti aturan main yang dibuat perusahaannya. Pakaian harus yang elegan, tapi dengan mengorbankan bagian tubuhnya dilirik dan dinikmati banyak orang. Gaya bicara harus sopan dan menjaga etika bisnis. Waktu, baginya terasa tak bermakna lagi. Sebab, hampir sepanjang pagi sampai malam, harus bisa memberikan yang terbaik buat perusahaan. Imbalannya? Tentu saja karir dan duit. Sampe-sampe di usianya yang udah berkepala tiga ini, Lisma kesulitan mencari pendamping hidup. Mungkin, karena ia nggak punya waktu untuk mikirin begituan, atau bisa juga kaum Adam rada keder kalo harus berhadapan dengan wanita yang status sosialnya lebih tinggi dari dirinya. Banyak hal, selain tentunya faktor jodoh.
Bagi sebagian kalangan yang mendukung gerakan feminisme, Lisma adalah contoh konkrit gerakan mereka. Bahwa wanita harus tumbuh, berkembang, luwes, cerdas, dan mampu menjadi dirinya sendiri tanpa kudu merasa tergantung kepada kaum Adam. Begitulah, Kartini yang satu ini. Modern, enerjik, tapi melupakan segala hal yang berkaitan dengan dunia kewanitaannya. Kasihan memang.
Sobat muda muslim, inilah satu fakta tentang geliat kaum Hawa saat ini. Masih ada lho yang lainnya. Marina, demikian sapaan akrab gadis manis anak cikal seorang petani di kampungnya. Marina dibesarkan dalam kultur yang membekap dan mengekang gerak kaum wanita. Beruntung, Marina bisa sekolah di kota, meski tidak seberuntung Lisma yang bisa mengecap bangku kuliah. Pengalamannya bergaul dengan banyak kalangan membuatnya tumbuh menjadi aktivis pejuang hak-hak wanita. Di pabrik tempat dirinya bekerja, Marina terkenal sebagai penggerak demo buruh. Utamanya berkaitan dengan tuntutan hak-hak pekerja wanita. Marina, bukan Marsina. Tapi emang punya kesamaan jalan hidup. Meski nggak sampe didzalimi seperti Marsina. Karuan aja, Marina jadi andalan kaumnya yang kebanyakan memang bersikap melunak alias nggak mau ambil pusing. Sebagai seorang wanita, teman-teman Marina di pabrik memang cenderung nrimo aja dengan kondisi yang menimpa mereka. Hanya Marina yang mau bersuara lantang menentang sikap sewenang-wenang kaum borju-begitu biasanya mereka menyebut bosnya.
Sobat muda muslim, Marina adalah "Kartini" Millenium yang kental dengan perjuangannya membela hak-hak wanita. Sebab, dalam pandangan dara dari desa ini, kaum lelaki sudah melanggar hak kaum wanita. "Harusnya sama dong hak kita dengan kaum lelaki!" cetusnya suatu saat.
Nggak betah di rumah
Rumah adalah penjara. Begitu kata sebagian kaum Hawa yang nekat terjun menjalani kehidupan di jalan-jalan. Rela bergelantungan di bis dan KRL, nggak takut lagi dari ancaman penodong dan penjahat. Alasannya, itulah bagian dari realitas hidup. Bahkan sangat boleh jadi, bagi para aktivis pejuang hak wanita, itu adalah bagian dari sebuah perjuangan. Pengorbanan adalah bumbunya. Wah, heroik sekali.
Sobat muda muslim, "Kartini-Kartini" yang tadi udah bisa mewakili kondisi kaumnya saat ini. Di jaman millenium. Tentu aja, sebab fakta ini yang dominan di tengah kehidupan abad digital ini. Emang sih ada juga yang baik-baik. Tapi ya.. jumlahnya bisa diitung dengan jari. Maksudnya dikit banget.
Fakta ini tentu aja bikin kita ketar-ketir dengan masa depan generasi mendatang. Khawatir banget deh. Kamu bisa bayangkan sendiri, gimana jadinya masa depan kita, dan adik-adik kita nanti. Sebab, gimana bisa merasakan kasih sayang sang ibu, kalo tiap hari ia harus belajar sendiri tanpa didampingi sang ibu. Ortunya lebih banyak di luar rumah. Kasihan memang. Percaya atau nggak, kondisi ini bisa menyumbang angka kerusakan dan kejahatan sosial. Sebab, anak-anak akan belajar sendiri tentang kehidupannya.
Anak-anak yang hidup tanpa bimbingan ortu, cenderung lepas kendali, alias liar. Akibatnya, ia bisa saja salah gaul. Nggak heran kan kalo kemudian ditemukan anak yang nenggak miras, ngisep putauw, atau pelaku aktif seks bebas. Walah, rusak banget kan?
Seandainya para ibu dan juga kaum wanita memahami posisinya yang benar dalam Islam, rasanya kondisi ini bisa ditekan dan dikontrol. Nggak bebas bin liar seperti sekarang.
Kartini Vs "Kartini"
Kayaknya nggak banyak anak puteri atau kaum wanita dewasa saat ini yang ngerti betul perjuangan Kartini. Yang mereka paham hanya satu: emansipasi. Itupun dengan tafsir sendiri dan terkesan suka-suka. RA. Kartini yang tekun memberikan wacana berpikirnya tentang wanita, ternyata dipahami salah oleh "Kartini" Millenium. Contohnya aja, kalo Kartini dulu rela dimadu, "Kartini" Millenium menganggapnya sebagai pelecehan atas kebebasan wanita. Kan kebalik-balik ya? Wajar, sebab, perjuangan mereka udah kecampur dengan perjuangan kaum kapitalis. Rusak deh.
Sobat muda muslim, rasanya, Kartini juga nggak mengajarkan kebebasan bagi kaum wanita yang kelewat batas seperti sekarang. Kudu malu dong "Kartini-Kartini" millenium. Jangan ngaku-ngaku mengikuti jejak Kartini dengan aktivitas liarnya yang kelewat batas. Seolah-olah Kartini mengajarkan itu. Padahal, nggak seliar itu kan Kartini mengajarkan wawasannya?
Gaung emansipasi yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan wanita saat ini, sebenarnya bukan madu, tapi adalah racun. Sebab, untuk sekadar merasa tidak terikat dan tidak tergantung kepada lelaki, para wanita banyak yang terjun di sektor publik; khususnya di industri. Merasa bahwa itu adalah sebuah bagian dari kebebasan, kaum wanita banyak yang lupa diri. Nggak heran kalo sekarang banyak bermunculan profesi kaum wanita yang sebetulnya telah menjerumuskan mereka sendiri kepada kerusakan. Iklan misalnya, telah merenggut kebebasan wanita. Karena mereka ternyata tetap dikendalikan dengan tuntutan profesinya. Apakah itu yang diinginkan kaum hawa dengan emansipasinya? Rasanya, bagi yang mikir-mikir, nggak bakalan nekat menerjuni karir seperti itu. Bila demikian, emansipasi adalah racun, bukan madu. Ngeri banget ya?
Pada masyarakat bebas kayak begini, wanita dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif, kecuali kepentingan industri. Tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Coba bayangin, betapa konyolnya, iklan mobil mewah rasanya belum lengkap kalau tak hadir disampingnya gadis berbodi aduhai. Permen rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual mengunyah permen. Dengan mengesankan adegan udah mandi, Lisa Natalia mengiklankan produk pompa air. Apa hubungannya coba? Udah gitu, gaya dan kata-katanya bikin gimanaaa.. gitu. Walah, bikin deg-degan gitu, lho.
Akibat lanjutnya, pelecehan seksual menjadi tren tersendiri. Digandrungi sekaligus dikecam. Saling tunjuk hidung antara kaum cowok dan kaum cewek sudah biasa. Sama-sama tak mau disalahkan. Kaum pria protes ketika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual. Ramai-ramai para pria berdalih menirukan gaya sebuah iklan layanan masyarakat yang bunyinya, "Bagaimana angka perkosaan akan semakin rendah kalau pakaian anda semakin tinggi?" Masalahnya beres? Tak cukup sampai di situ, ternyata kaum wanita juga menuduh para cowok karena tak mampu menahan nafsu. Tak ada yang mau kalah dan disalahkan. Kacau banget kan? Itulah kapitalisme.
Berkaca kepada Islam
Amat bijak tentunya bila kita mencoba mengembalikan semuanya kepada kebenaran ajaran Islam. Artinya, kita merujuk kepada Islam. Anna Rued yang menulis dalam sebuah bukunya-Eastern Mail, ia menyebutkan bahwa "Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak-yang tidak saja menyalahi kodrat-tetapi bisa menghancurkan kehormatannya."
Yup, demikian pengakuan jujur seorang penulis bule. Bagaimana dengan kita? Padahal, kita udah punya panutan, yakni Nabi Muhammad saw. yang senantiasa memberikan bimbingan dalam banyak hadisnya. Banyak pula wanita teladan di masa kejayaan Islam yang patut diacungi jempol. Kenapa tidak meneladani mereka?
Suatu ketika-saat sidang Asma melontarkan pertanyaan yang membebani kaum wanita. "Ya Rasulullah. Aku mewakili kaum wanita untuk menanyakan kepadamu tentang beberapa hal. Bukankah engkau diutus oleh Allah untuk rahmat bagi manusia-laki-laki dan wanita? Namun dalam beberapa masalah ternyata kami merasa dibedakan dengan laki-laki. Kami sama-sama beriman dan bertakwa, namun kami juga merasa iri dengan perbuatan kaum laki-laki yang seolah menempatkan mereka pada posisi yang baik untuk mendapatkan pahala yang besar. Mereka boleh berjihad, sementara kami hanya mengurus anak-anak dan menjahit pakaian mereka. Mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan pahala sholat jumat, sementara kaum wanita tak boleh. Bagaimana ini ya Rasulullah?"
Rasulullah tersenyum dan berkata kepada Asma': "Wahai Asma' kau pahami dan sampaikan nanti pada kaummu. Kebaktianmu pada suami dan usaha mencari kerelaannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan suami kalian (kaum pria)," jawab Rasulullah singkat, namun padat dan bermakna tinggi.
Sobat muda muslim, Islam juga memuliakan kaum wanita. Untuk itu, kaum wanita ditempatkan pada posisi yang aman, terhormat dan terjaga kesuciannya. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria-.terletak antara wilayah Irak dan Syam-berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu'tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan saja sang pejabat, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan.

Sayangnya, kondisi seperti itu belum bisa kita saksikan sekarang. Dan nggak bakalan kita saksikan selama sistem kehidupannya bukan Islam. Dalam sistem kapitalisme seperti sekarang ini, rasa aman, kehormatan, dan kesucian diri amat mahal. Nggak bisa kita beli kalo kita nggak punya duit. Negara bukannya memberikan rasa aman, tapi sebaliknya, menyediakan fasilitas dan suasana yang bisa bikin kaum wanita menderita. Untuk itu, berkacalah kepada Islam, khususnya bagi "Kartini-Kartini" millenium ini. Dengan taat dan patuh kepada ajaran Islam, insya Allah selamat dunia dan akhirat. Gimana mulainya? Mari belajar tentang Islam. Islam sebagai sebuah ideologi.
Sumber : Buletin Studia 

Memang tak mudah hidup di jaman sekarang. Serba sulit, serba bingung, en tentunya serba was-was. Maklum, hidup di jaman sekarang membutuhkan beragam trik. Agar di jalan nggak memancing lirikan mata copet, maka kamu kudu waspada dalam menjaga penampilan. Maklum, "lirikan" copet bisa merobek kantongmu. Rasa aman memang mahal. Begitupun supaya dapur tetep ngebul, kita kudu lihai putar otak. Maklum, jaman krismon harga sembako dan harga barang lainnya serba mahal. Sulit dikejar deh.
Nah, karena alasan ini pula, sebagian ibu-ibu merasa nggak betah dengan penghasilan sang suami. Uang 10 ribu perak rasanya cuma ngepas untuk belanja sehari dengan menu makanan yang standar. Maksudnya, standar kere. Aduh, kasihan deh. Makanya, banyak ibu-ibu yang terjun untuk membanting tulang ngebantuin suami. Akhirnya, sektor publik banyak dipenuhi kaum Hawa. Di pasar, di kantor, dan juga di pabrik. Semua berlomba menuai harapan dan mimpi menjadi wanita karir dan banyak duit.
Lisma, sebut saja begitu. Selepas kuliah langsung terjun mengais rupiah di kantor mentereng di lokasi se-strategis kawasan segi tiga emas Jakarta. Jabatan yang disandangnya pun bikin kaum cowok yang minder bisa ketar-ketir. Lisma sebagai manager marketing andalan kantornya. Untuk itu ia harus ikhlas (baca: terpaksa) mengikuti aturan main yang dibuat perusahaannya. Pakaian harus yang elegan, tapi dengan mengorbankan bagian tubuhnya dilirik dan dinikmati banyak orang. Gaya bicara harus sopan dan menjaga etika bisnis. Waktu, baginya terasa tak bermakna lagi. Sebab, hampir sepanjang pagi sampai malam, harus bisa memberikan yang terbaik buat perusahaan. Imbalannya? Tentu saja karir dan duit. Sampe-sampe di usianya yang udah berkepala tiga ini, Lisma kesulitan mencari pendamping hidup. Mungkin, karena ia nggak punya waktu untuk mikirin begituan, atau bisa juga kaum Adam rada keder kalo harus berhadapan dengan wanita yang status sosialnya lebih tinggi dari dirinya. Banyak hal, selain tentunya faktor jodoh.
Bagi sebagian kalangan yang mendukung gerakan feminisme, Lisma adalah contoh konkrit gerakan mereka. Bahwa wanita harus tumbuh, berkembang, luwes, cerdas, dan mampu menjadi dirinya sendiri tanpa kudu merasa tergantung kepada kaum Adam. Begitulah, Kartini yang satu ini. Modern, enerjik, tapi melupakan segala hal yang berkaitan dengan dunia kewanitaannya. Kasihan memang.
Sobat muda muslim, inilah satu fakta tentang geliat kaum Hawa saat ini. Masih ada lho yang lainnya. Marina, demikian sapaan akrab gadis manis anak cikal seorang petani di kampungnya. Marina dibesarkan dalam kultur yang membekap dan mengekang gerak kaum wanita. Beruntung, Marina bisa sekolah di kota, meski tidak seberuntung Lisma yang bisa mengecap bangku kuliah. Pengalamannya bergaul dengan banyak kalangan membuatnya tumbuh menjadi aktivis pejuang hak-hak wanita. Di pabrik tempat dirinya bekerja, Marina terkenal sebagai penggerak demo buruh. Utamanya berkaitan dengan tuntutan hak-hak pekerja wanita. Marina, bukan Marsina. Tapi emang punya kesamaan jalan hidup. Meski nggak sampe didzalimi seperti Marsina. Karuan aja, Marina jadi andalan kaumnya yang kebanyakan memang bersikap melunak alias nggak mau ambil pusing. Sebagai seorang wanita, teman-teman Marina di pabrik memang cenderung nrimo aja dengan kondisi yang menimpa mereka. Hanya Marina yang mau bersuara lantang menentang sikap sewenang-wenang kaum borju-begitu biasanya mereka menyebut bosnya.
Sobat muda muslim, Marina adalah "Kartini" Millenium yang kental dengan perjuangannya membela hak-hak wanita. Sebab, dalam pandangan dara dari desa ini, kaum lelaki sudah melanggar hak kaum wanita. "Harusnya sama dong hak kita dengan kaum lelaki!" cetusnya suatu saat.
Nggak betah di rumah
Rumah adalah penjara. Begitu kata sebagian kaum Hawa yang nekat terjun menjalani kehidupan di jalan-jalan. Rela bergelantungan di bis dan KRL, nggak takut lagi dari ancaman penodong dan penjahat. Alasannya, itulah bagian dari realitas hidup. Bahkan sangat boleh jadi, bagi para aktivis pejuang hak wanita, itu adalah bagian dari sebuah perjuangan. Pengorbanan adalah bumbunya. Wah, heroik sekali.
Sobat muda muslim, "Kartini-Kartini" yang tadi udah bisa mewakili kondisi kaumnya saat ini. Di jaman millenium. Tentu aja, sebab fakta ini yang dominan di tengah kehidupan abad digital ini. Emang sih ada juga yang baik-baik. Tapi ya.. jumlahnya bisa diitung dengan jari. Maksudnya dikit banget.
Fakta ini tentu aja bikin kita ketar-ketir dengan masa depan generasi mendatang. Khawatir banget deh. Kamu bisa bayangkan sendiri, gimana jadinya masa depan kita, dan adik-adik kita nanti. Sebab, gimana bisa merasakan kasih sayang sang ibu, kalo tiap hari ia harus belajar sendiri tanpa didampingi sang ibu. Ortunya lebih banyak di luar rumah. Kasihan memang. Percaya atau nggak, kondisi ini bisa menyumbang angka kerusakan dan kejahatan sosial. Sebab, anak-anak akan belajar sendiri tentang kehidupannya.
Anak-anak yang hidup tanpa bimbingan ortu, cenderung lepas kendali, alias liar. Akibatnya, ia bisa saja salah gaul. Nggak heran kan kalo kemudian ditemukan anak yang nenggak miras, ngisep putauw, atau pelaku aktif seks bebas. Walah, rusak banget kan?
Seandainya para ibu dan juga kaum wanita memahami posisinya yang benar dalam Islam, rasanya kondisi ini bisa ditekan dan dikontrol. Nggak bebas bin liar seperti sekarang.
Kartini Vs "Kartini"
Kayaknya nggak banyak anak puteri atau kaum wanita dewasa saat ini yang ngerti betul perjuangan Kartini. Yang mereka paham hanya satu: emansipasi. Itupun dengan tafsir sendiri dan terkesan suka-suka. RA. Kartini yang tekun memberikan wacana berpikirnya tentang wanita, ternyata dipahami salah oleh "Kartini" Millenium. Contohnya aja, kalo Kartini dulu rela dimadu, "Kartini" Millenium menganggapnya sebagai pelecehan atas kebebasan wanita. Kan kebalik-balik ya? Wajar, sebab, perjuangan mereka udah kecampur dengan perjuangan kaum kapitalis. Rusak deh.
Sobat muda muslim, rasanya, Kartini juga nggak mengajarkan kebebasan bagi kaum wanita yang kelewat batas seperti sekarang. Kudu malu dong "Kartini-Kartini" millenium. Jangan ngaku-ngaku mengikuti jejak Kartini dengan aktivitas liarnya yang kelewat batas. Seolah-olah Kartini mengajarkan itu. Padahal, nggak seliar itu kan Kartini mengajarkan wawasannya?
Gaung emansipasi yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan wanita saat ini, sebenarnya bukan madu, tapi adalah racun. Sebab, untuk sekadar merasa tidak terikat dan tidak tergantung kepada lelaki, para wanita banyak yang terjun di sektor publik; khususnya di industri. Merasa bahwa itu adalah sebuah bagian dari kebebasan, kaum wanita banyak yang lupa diri. Nggak heran kalo sekarang banyak bermunculan profesi kaum wanita yang sebetulnya telah menjerumuskan mereka sendiri kepada kerusakan. Iklan misalnya, telah merenggut kebebasan wanita. Karena mereka ternyata tetap dikendalikan dengan tuntutan profesinya. Apakah itu yang diinginkan kaum hawa dengan emansipasinya? Rasanya, bagi yang mikir-mikir, nggak bakalan nekat menerjuni karir seperti itu. Bila demikian, emansipasi adalah racun, bukan madu. Ngeri banget ya?
Pada masyarakat bebas kayak begini, wanita dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif, kecuali kepentingan industri. Tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Coba bayangin, betapa konyolnya, iklan mobil mewah rasanya belum lengkap kalau tak hadir disampingnya gadis berbodi aduhai. Permen rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual mengunyah permen. Dengan mengesankan adegan udah mandi, Lisa Natalia mengiklankan produk pompa air. Apa hubungannya coba? Udah gitu, gaya dan kata-katanya bikin gimanaaa.. gitu. Walah, bikin deg-degan gitu, lho.
Akibat lanjutnya, pelecehan seksual menjadi tren tersendiri. Digandrungi sekaligus dikecam. Saling tunjuk hidung antara kaum cowok dan kaum cewek sudah biasa. Sama-sama tak mau disalahkan. Kaum pria protes ketika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual. Ramai-ramai para pria berdalih menirukan gaya sebuah iklan layanan masyarakat yang bunyinya, "Bagaimana angka perkosaan akan semakin rendah kalau pakaian anda semakin tinggi?" Masalahnya beres? Tak cukup sampai di situ, ternyata kaum wanita juga menuduh para cowok karena tak mampu menahan nafsu. Tak ada yang mau kalah dan disalahkan. Kacau banget kan? Itulah kapitalisme.
Berkaca kepada Islam
Amat bijak tentunya bila kita mencoba mengembalikan semuanya kepada kebenaran ajaran Islam. Artinya, kita merujuk kepada Islam. Anna Rued yang menulis dalam sebuah bukunya-Eastern Mail, ia menyebutkan bahwa "Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak-yang tidak saja menyalahi kodrat-tetapi bisa menghancurkan kehormatannya."
Yup, demikian pengakuan jujur seorang penulis bule. Bagaimana dengan kita? Padahal, kita udah punya panutan, yakni Nabi Muhammad saw. yang senantiasa memberikan bimbingan dalam banyak hadisnya. Banyak pula wanita teladan di masa kejayaan Islam yang patut diacungi jempol. Kenapa tidak meneladani mereka?
Suatu ketika-saat sidang Asma melontarkan pertanyaan yang membebani kaum wanita. "Ya Rasulullah. Aku mewakili kaum wanita untuk menanyakan kepadamu tentang beberapa hal. Bukankah engkau diutus oleh Allah untuk rahmat bagi manusia-laki-laki dan wanita? Namun dalam beberapa masalah ternyata kami merasa dibedakan dengan laki-laki. Kami sama-sama beriman dan bertakwa, namun kami juga merasa iri dengan perbuatan kaum laki-laki yang seolah menempatkan mereka pada posisi yang baik untuk mendapatkan pahala yang besar. Mereka boleh berjihad, sementara kami hanya mengurus anak-anak dan menjahit pakaian mereka. Mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan pahala sholat jumat, sementara kaum wanita tak boleh. Bagaimana ini ya Rasulullah?"
Rasulullah tersenyum dan berkata kepada Asma': "Wahai Asma' kau pahami dan sampaikan nanti pada kaummu. Kebaktianmu pada suami dan usaha mencari kerelaannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan suami kalian (kaum pria)," jawab Rasulullah singkat, namun padat dan bermakna tinggi.
Sobat muda muslim, Islam juga memuliakan kaum wanita. Untuk itu, kaum wanita ditempatkan pada posisi yang aman, terhormat dan terjaga kesuciannya. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria-.terletak antara wilayah Irak dan Syam-berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu'tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan saja sang pejabat, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan.

Sayangnya, kondisi seperti itu belum bisa kita saksikan sekarang. Dan nggak bakalan kita saksikan selama sistem kehidupannya bukan Islam. Dalam sistem kapitalisme seperti sekarang ini, rasa aman, kehormatan, dan kesucian diri amat mahal. Nggak bisa kita beli kalo kita nggak punya duit. Negara bukannya memberikan rasa aman, tapi sebaliknya, menyediakan fasilitas dan suasana yang bisa bikin kaum wanita menderita. Untuk itu, berkacalah kepada Islam, khususnya bagi "Kartini-Kartini" millenium ini. Dengan taat dan patuh kepada ajaran Islam, insya Allah selamat dunia dan akhirat. Gimana mulainya? Mari belajar tentang Islam. Islam sebagai sebuah ideologi.
Sumber : Buletin Studia 

Kamis, 14 April 2016



Plaxis 3D Foundation adalah suatu software bidang geoteknik yang membahas pondasi, ini terlihat pada nama software tersebut dilabel dengan Foundation, softaware ini bisa anda pergunakan untuk memecahkan kasus-kasus mengenai ponasi raft, tiang pancang, tiang bor, dan pile-raft, berikut ini adalah link tutorial Plaxis 3D Foundation Download




Plaxis 3D Foundation adalah suatu software bidang geoteknik yang membahas pondasi, ini terlihat pada nama software tersebut dilabel dengan Foundation, softaware ini bisa anda pergunakan untuk memecahkan kasus-kasus mengenai ponasi raft, tiang pancang, tiang bor, dan pile-raft, berikut ini adalah link tutorial Plaxis 3D Foundation Download


Sabtu, 26 Maret 2016

Mengamati aktivitas remaja, emang asyik. Betul, nggak bohong, kok. Dunia remaja yang kaya warna itu menyimpan pesona yang “wah”. Jujur saja, bila kita ngomongin remaja, kayaknya seperti nggak ada abisnya. Selalu saja ada hal-hal baru—meskipun kadang itu daur ulang dari tren sebelumnya. Lucunya lagi, apa yang dilakukan remaja sering menjadi tren dan heboh. Meskipun hal itu menyebalkan. Sebab, urusan salah or bener bukan perkara pokok, yang penting tren. So, akhirnya kamu juga suka lihat, bahwa banyak di antara teman remaja yang suka bertingkah aneh; yang penting dikenal orang dan dianggap eksis.
Herannya pula, acapkali orang kemudian menganggap bahwa jejak yang ditinggalkan remaja bisa mengubah jalannya sejarah. Dulu, jaman nyokap sama bokap kita remaja, kayaknya mereka juga kecipratan tren 60-an. Ya, itu jamannya kejayaan ‘generasi bunga’. Saat itu, “perang dingin” membuat jenuh kawula muda yang muak dengan konflik ideologi, dan kemudian menumbuhkan aksi damai anti-perang, terutama di AS dan negeri industri maju lainnya. Aksi protes kawula muda memperjuangkan kebebasan diwarnai anarki populisme, menanggalkan aturan formalitas dan memunculkan budaya urakan sejak pertengahan 60-an.
Aksi protes cara damai kawula muda dengan sebutan Generasi Bunga (Flower Generation) dengan gaya hidup eksentrik; rambut panjang melewati bahu, pakaian serba kumal menjadi tren anak muda kota-kota besar. Rasa solidaritas kebersamaan universal sesama kawula muda disatukan dengan bahasa "kasih" dan menjadi universal dengan acungan dua jari berbentuk "V", diartikan "Peace, brother", dan itu menyebar di kalangan muda di berbagai penjuru dunia.(Suara Pembaruan)
Itu salah satu contoh, betapa tren yang dibuat anak muda sering dianggap bisa mengubah jalannya sejarah. Nggak mesti anak muda sih sebetulnya, orangtua juga bisa berbuat hal yang sama. Pokoknya, bila itu rada-rada aneh--baik or buruk--akan mudah dikenal dan dijadikan patokan, malah bukan tak mungkin bakal digandrungi dan dikagumi.
Coba, kalo kamu buka-buka Guinness Book of Record. Di buku itu bisa kamu temukan yang “langka tapi nyata”. Ada orang yang manjangin kuku tangannya selama puluhan tahun, ada yang nekat nidurin papan berpaku, ada juga yang matanya bisa melotot sampe hampir mau keluar. Wah, pokoknya banyak sekali hal-hal yang nggak lazim. Dan konon kabarnya, mereka telah berhasil mewarnai sejarah hidup manusia. Ya, begitulah. Termasuk bila ada orang yang memang bisa mengubah maksud dan arah jalannya sejarah suatu masa atau orang lain, tergantung kebutuhan yang diinginkan oleh penutur sejarah itu. Celakanya, bila kemudian sejarah yang telah dibelokkan menjadi bahan rujukan terhadap masalah yang sebenarnya terjadi pada masa itu. Nah, ini dia persoalannya.



Politik Islam
Ngomong-ngomong soal sejarah, penulis jadi teringat kembali tentang sejarah perpolitikan umat Islam yang saat ini sedang mandek. Kalaupun disebut jalan, tetapi sayangnya hal itu jalan di tempat. Pedih dan perihnya lagi, jika sebagian dari kita menganggap bahwa kondisi sekarang sudah oke buat umat Islam. Ibaratnya seorang bujangan yang lagi enak-enaknya tidur siang dan sedang ngimpi dikipasin bidadari. Salah-salah, kalo kita ngebangunin, doi bisa uring-uringan sehari semalam saking keselnya.
Nah, ini dia yang terjadi pada remaja kita sekarang. Saat lagi enak-enaknya dibuai mimpi indah kehidupan sekarang, terus kita usik supaya sadar tentang Islam, atau diusik supaya ngeh tentang masalah politik umat Islam, itu namanya ngebangunin macan tidur. Udah untung nggak murka juga. Salah-salah saking keselnya mereka lalu mencap bahwa politik itu penghasut, politik itu najis, politik itu kotor, dan politik cuma bikin sengsara hidup. Mereka beralasan, lihat aja bagaimana “tersungkurnya” Gus Dur dan melenggangnya Megawati. Bukankah itu bagian dari praktik kotor politik?
Well, itu pasti bukan murni pendapat kamu sebagai seorang muslim. Sebab, seorang muslim yang mengerti betul Islam, kagak bakalan sewot begitu bila ngomongin soal politik. Kamu, dan juga orang yang berpendapat begitu, pasti pikirannya udah dijejali dengan model kehidupan asing. Kamu udah berpikir dan berperasaan yang bukan Islam. Pikiran dan perasaan kamu telah teracuni oleh pemikiran dan perasaan ideologi lain di luar Islam. Itu sebabnya kamu bisa marah bila disadarkan supaya kembali kepada Islam. Itu sebabnya pula kamu bisa gondok banget kalo harus diingatkan supaya bergaya hidup Islam.
Ini wajar, sebab, sebagian besar umat Islam ini—termasuk remaja Islam tentunya—menganggap bahwa sekarang sedang menikmati mimpi indah kehidupan. Segala pesona kehidupan yang ditawarkan saat ini betul-betul memanjakan hidup. Mau minum alkohol, nggak dilarang, mau berzina, monggo saja, mau korupsi juga diberikan jalan dan cara-caranya, mau bergaya busana apa saja silakan. Nggak ada yang ngelarang or usil. Bebas merdeka aja tuh. Kalo pun kemudian ada yang berani ngutak-ngatik, yang merasa terusik suka bilang, “Jangan ganggu kami. Ini HAM”. Nha, lho?
Kalo mereka diarahkan supaya merhatiin masalah politik—khususnya politik Islam, mereka suka marah dan masa bodoh karena ketidaktahuannya. Itu pasti. Sebab, problemnya emang udah berlangsung amat lama. Ibaratnya udah mendarah-daging dalam tubuh. Atau kalo besi udah banyak karatnya, hingga nyaris sulit untuk dibersihkan lagi. Jangankan remajanya, orangtuanya pun nggak ada jaminan untuk sadar politik Islam saat ini. Aduh, betul-betul menyakitkan banget kenyataan hidup kita saat ini. Antara Islam dan umatnya malah berseberangan jauh. Jauuuuh sekali.
Padahal, kalo kita buka lembaran sejarah, Islam dan umatnya telah meraih berbagai kemajuan yang mencengangkan untuk ukuran saat itu. Berbagai futuhat (penaklukan); baik dengan damai maupun perang, telah mengantarkan Islam menjadi negara super power alias adidaya di jamannya. Dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang dan lama. Bayangkan, sejak masa Rasulullah saw., kemudian dilanjutkan oleh khulafa ar-Rasyiddin, lalu diteruskan oleh sahabat-sahabat yang lain dari kalangan tabiin, juga tabiit tabiin, dan seterusnya hingga berakhir di Turki pada 3 Maret 1924 M. Emang, itulah akhir yang sangat menyakitkan. Sangat mengherankan bila kita terus tinggal diam.
Kamu wajib tahu lho, sejak dibubarkannya Khilafah Islamiyah (pemerintahan Islam) oleh Musthafa Kemal at-Taturk yang bekerjasama dengan Inggris itu, umat Islam mengalami berbagai keterpurukan. Ancaman dan gangguan datang silih berganti. Berbagai pergolakan muncul dimana-mana. Umat Islam, yang tadinya bersatu, kini berpencar memiliki “negara” masing-masing dalam bingkai nasionalisme. Tentu, dengan negeri-negeri kerdil seperti ini--yang juga merupakan skenario Barat dalam memotong-motong wilayah Islam--umat Islam sulit untuk menyebut kata sepakat. Sejak saat itu sampai sekarang, kita betul-betul menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam.
Akhirnya, umat Islam mengalami “depolitisasi” yang amat hebat. Kita dijauhkan banget dengan istilah yang namanya politik. Kita menjauh, sebab istilah itu telah diplintir menjadi sesuatu yang buruk. Hal itu dilakukan bisa lewat bacaan, bisa lewat pendapat para pakar, atau menyaksikan sendiri praktik-praktik politik. Padahal, pendapat para pakar yang diekspos media massa nggak lepas dari ideologi yang beragam alias tidak hanya Islam. Bisa kapitalis, atau bisa juga sosialis-komunis. Walhasil, sampai pada kesimpulan bahwa politik itu kejam, politik itu kotor, politik itu najis, penghasut dan seabreg julukan jelek lainnya tentang politik.
Padahal pengertian politik yang bener adalah seperti terdapat dalam kitab Mafahim Siyasiyah, dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan ummat. Adapun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain. Dalam pandangan Islam, nggak dikenal praktik politik seperti jaman sekarang. Yang cuma urusan kekuasaan tok, tapi rakyatnya malah sengsara dan tidak membawa nikmat. Bukan tak mungkin bila ujung-ujungnya malah memunculkan sikap antipati terhadap politik dari umat Islam. Dengan alasan, politik bikin bulu kuduk merinding.
Umat Islam sekarang tersungkur dan terjerembab ke dalam jurang penderitaan yang amat dalam. Berbagai konflik nyaris tak bisa diselesaikan dengan baik dan cepat. Hal itu disebabkan, selain karena umat Islam ini tidak bersatu, juga karena mereka sudah tergoda untuk mewarnai kehidupannya dengan aturan hidup lain selain Islam.
Coba saja kita perhatikan, saudara-saudara kita di Ambon dibantai kaum Salib, sebagian yang lain malah sibuk ngurus kehidupannya sendiri. Peran negara pun yang seharusnya menjadi pelindung, nyaris tak terdengar suaranya. Para pejabatnya aja malah sibuk mengamankan jabatannya masing-masing. Di jalanan banyak anak terlantar, tapi di sisi lain, gaya hidup para konglomerat udah mewah banget (super premium), yang tanpa ada sedikitpun rasa iba untuk membantu yang lemah. Padahal, dulu di masa kejayaan Islam, penguasa begitu peduli terhadap keadaan rakyatnya. Ambil contoh, suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria—terletak antara wilayah Irak dan Syam—berteriak meminta pertolongan karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. 
Teriakan itu ternyata “terdengar” oleh Khalifah al-Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan tersebut. Dan bukan saja sang pejabat nekat itu, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwiyatkan, “kepala” pasukan sudah berada di Amuria sedangkan “ekornya” berakhir di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang. Fantastis! Dan untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan.
Nah, inilah buktinya bila Islam diterapkan sebagai akidah dan syariat. Sebab Islam adalah ideologi. Urusan dunia sama pentingnya dengan urusan akhirat. Itu sebabnya, dalam pandangan Islam, untuk mengatur kehidupan dunia pun kudu ada hubungannya dengan akhirat. Ini membuktikan bahwa Islam itu sempurna. Firman Allah Swt.:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Mâidah [5]: 3)
Jelas ini juga membuktikan bahwa Islam bertentangan banget dengan sekularisme. Sebab dalam sekularisme, agama dipisahkan dari politik (kehidupan). Dengan kata lain, agama nggak boleh mencampuri urusan duniawi (negara). Napsi-napsi aja deh. Makanya wajar kalo ada yang sholatnya getol, tapi maksiatnya juga nggak pernah absen. Malah ada juga yang sulit ngebedain mana perintah Allah, dan mana larangan-Nya. Akhirnya wajar kalo suka ketuker-tuker tuh. Yang halal malah diharamkan, dan yang haram disulap jadi halal. Ya, inilah kapitalisme dengan akidah sekularismenya.

Perlu kesadaran politik
Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamiy menyebutkan bahwa kesadaran politik (wa’yu siyasi) haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama, kesadaran itu haruslah bersifat universal atau mendunia (internasional). Bukan kesadaran yang bersifat lokal semata. Kalo kamu yang sudah hidup di jaman yang serba digital tapi pikirannya masih lokal apalagi nggak punya pikiran model begitu, wah nggak kelas deh. Tengok dong saudara-saudara kita di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau saudara kita di Maluku, Aceh, dan berbagai belahan dunia lainnya. Kita harus tahu dan peduli dengan keadaan mereka. Apakah sekarang lagi menderita atau bahagia. Harus sampai ke situ. Itulah namanya mondial alias mendunia. Jangan cuma tahu perkembangan artis doang, nggak ada gunanya kayak begituan mah. Catet ya!
Nah, unsur yang kedua adalah kesadaran politik yang dimiliki remaja harus berdasarkan pada sudut pandang tertentu alias zawiyatun khosshoh. Dengan kata lain remaja Islam harus bertindak subyektif dan obyektif dalam menilai peristiwa politik yang terjadi. Maksudnya, subyektif karena memang harus didasari pada sudut pandang Islam. Obyektif artinya tekun dan teliti dalam ‘membaca’ peristiwa yang terjadi. Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika puluhan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga.
Apa kenyataannya sekarang? Sayangnya, pendidikan politik untuk remaja tak bisa dibilang bagus. Justru malah sebaliknya. Remaja dilarang mencicipi manisnya politik. Akibatnya, remaja malah “dipolitikin” oleh ideologi selain Islam. Buktinya? Banyak remaja yang malah menjadi plagiator budaya Barat. Kalo sudah begitu, wajar bila sekarang, dan juga nanti di masa depan, hanya akan bermunculan generasi “politik” yang hanya bisa kwek, kwek,kwek!

Sumber : Buletin Cendekia

Mengamati aktivitas remaja, emang asyik. Betul, nggak bohong, kok. Dunia remaja yang kaya warna itu menyimpan pesona yang “wah”. Jujur saja, bila kita ngomongin remaja, kayaknya seperti nggak ada abisnya. Selalu saja ada hal-hal baru—meskipun kadang itu daur ulang dari tren sebelumnya. Lucunya lagi, apa yang dilakukan remaja sering menjadi tren dan heboh. Meskipun hal itu menyebalkan. Sebab, urusan salah or bener bukan perkara pokok, yang penting tren. So, akhirnya kamu juga suka lihat, bahwa banyak di antara teman remaja yang suka bertingkah aneh; yang penting dikenal orang dan dianggap eksis.
Herannya pula, acapkali orang kemudian menganggap bahwa jejak yang ditinggalkan remaja bisa mengubah jalannya sejarah. Dulu, jaman nyokap sama bokap kita remaja, kayaknya mereka juga kecipratan tren 60-an. Ya, itu jamannya kejayaan ‘generasi bunga’. Saat itu, “perang dingin” membuat jenuh kawula muda yang muak dengan konflik ideologi, dan kemudian menumbuhkan aksi damai anti-perang, terutama di AS dan negeri industri maju lainnya. Aksi protes kawula muda memperjuangkan kebebasan diwarnai anarki populisme, menanggalkan aturan formalitas dan memunculkan budaya urakan sejak pertengahan 60-an.
Aksi protes cara damai kawula muda dengan sebutan Generasi Bunga (Flower Generation) dengan gaya hidup eksentrik; rambut panjang melewati bahu, pakaian serba kumal menjadi tren anak muda kota-kota besar. Rasa solidaritas kebersamaan universal sesama kawula muda disatukan dengan bahasa "kasih" dan menjadi universal dengan acungan dua jari berbentuk "V", diartikan "Peace, brother", dan itu menyebar di kalangan muda di berbagai penjuru dunia.(Suara Pembaruan)
Itu salah satu contoh, betapa tren yang dibuat anak muda sering dianggap bisa mengubah jalannya sejarah. Nggak mesti anak muda sih sebetulnya, orangtua juga bisa berbuat hal yang sama. Pokoknya, bila itu rada-rada aneh--baik or buruk--akan mudah dikenal dan dijadikan patokan, malah bukan tak mungkin bakal digandrungi dan dikagumi.
Coba, kalo kamu buka-buka Guinness Book of Record. Di buku itu bisa kamu temukan yang “langka tapi nyata”. Ada orang yang manjangin kuku tangannya selama puluhan tahun, ada yang nekat nidurin papan berpaku, ada juga yang matanya bisa melotot sampe hampir mau keluar. Wah, pokoknya banyak sekali hal-hal yang nggak lazim. Dan konon kabarnya, mereka telah berhasil mewarnai sejarah hidup manusia. Ya, begitulah. Termasuk bila ada orang yang memang bisa mengubah maksud dan arah jalannya sejarah suatu masa atau orang lain, tergantung kebutuhan yang diinginkan oleh penutur sejarah itu. Celakanya, bila kemudian sejarah yang telah dibelokkan menjadi bahan rujukan terhadap masalah yang sebenarnya terjadi pada masa itu. Nah, ini dia persoalannya.



Politik Islam
Ngomong-ngomong soal sejarah, penulis jadi teringat kembali tentang sejarah perpolitikan umat Islam yang saat ini sedang mandek. Kalaupun disebut jalan, tetapi sayangnya hal itu jalan di tempat. Pedih dan perihnya lagi, jika sebagian dari kita menganggap bahwa kondisi sekarang sudah oke buat umat Islam. Ibaratnya seorang bujangan yang lagi enak-enaknya tidur siang dan sedang ngimpi dikipasin bidadari. Salah-salah, kalo kita ngebangunin, doi bisa uring-uringan sehari semalam saking keselnya.
Nah, ini dia yang terjadi pada remaja kita sekarang. Saat lagi enak-enaknya dibuai mimpi indah kehidupan sekarang, terus kita usik supaya sadar tentang Islam, atau diusik supaya ngeh tentang masalah politik umat Islam, itu namanya ngebangunin macan tidur. Udah untung nggak murka juga. Salah-salah saking keselnya mereka lalu mencap bahwa politik itu penghasut, politik itu najis, politik itu kotor, dan politik cuma bikin sengsara hidup. Mereka beralasan, lihat aja bagaimana “tersungkurnya” Gus Dur dan melenggangnya Megawati. Bukankah itu bagian dari praktik kotor politik?
Well, itu pasti bukan murni pendapat kamu sebagai seorang muslim. Sebab, seorang muslim yang mengerti betul Islam, kagak bakalan sewot begitu bila ngomongin soal politik. Kamu, dan juga orang yang berpendapat begitu, pasti pikirannya udah dijejali dengan model kehidupan asing. Kamu udah berpikir dan berperasaan yang bukan Islam. Pikiran dan perasaan kamu telah teracuni oleh pemikiran dan perasaan ideologi lain di luar Islam. Itu sebabnya kamu bisa marah bila disadarkan supaya kembali kepada Islam. Itu sebabnya pula kamu bisa gondok banget kalo harus diingatkan supaya bergaya hidup Islam.
Ini wajar, sebab, sebagian besar umat Islam ini—termasuk remaja Islam tentunya—menganggap bahwa sekarang sedang menikmati mimpi indah kehidupan. Segala pesona kehidupan yang ditawarkan saat ini betul-betul memanjakan hidup. Mau minum alkohol, nggak dilarang, mau berzina, monggo saja, mau korupsi juga diberikan jalan dan cara-caranya, mau bergaya busana apa saja silakan. Nggak ada yang ngelarang or usil. Bebas merdeka aja tuh. Kalo pun kemudian ada yang berani ngutak-ngatik, yang merasa terusik suka bilang, “Jangan ganggu kami. Ini HAM”. Nha, lho?
Kalo mereka diarahkan supaya merhatiin masalah politik—khususnya politik Islam, mereka suka marah dan masa bodoh karena ketidaktahuannya. Itu pasti. Sebab, problemnya emang udah berlangsung amat lama. Ibaratnya udah mendarah-daging dalam tubuh. Atau kalo besi udah banyak karatnya, hingga nyaris sulit untuk dibersihkan lagi. Jangankan remajanya, orangtuanya pun nggak ada jaminan untuk sadar politik Islam saat ini. Aduh, betul-betul menyakitkan banget kenyataan hidup kita saat ini. Antara Islam dan umatnya malah berseberangan jauh. Jauuuuh sekali.
Padahal, kalo kita buka lembaran sejarah, Islam dan umatnya telah meraih berbagai kemajuan yang mencengangkan untuk ukuran saat itu. Berbagai futuhat (penaklukan); baik dengan damai maupun perang, telah mengantarkan Islam menjadi negara super power alias adidaya di jamannya. Dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang dan lama. Bayangkan, sejak masa Rasulullah saw., kemudian dilanjutkan oleh khulafa ar-Rasyiddin, lalu diteruskan oleh sahabat-sahabat yang lain dari kalangan tabiin, juga tabiit tabiin, dan seterusnya hingga berakhir di Turki pada 3 Maret 1924 M. Emang, itulah akhir yang sangat menyakitkan. Sangat mengherankan bila kita terus tinggal diam.
Kamu wajib tahu lho, sejak dibubarkannya Khilafah Islamiyah (pemerintahan Islam) oleh Musthafa Kemal at-Taturk yang bekerjasama dengan Inggris itu, umat Islam mengalami berbagai keterpurukan. Ancaman dan gangguan datang silih berganti. Berbagai pergolakan muncul dimana-mana. Umat Islam, yang tadinya bersatu, kini berpencar memiliki “negara” masing-masing dalam bingkai nasionalisme. Tentu, dengan negeri-negeri kerdil seperti ini--yang juga merupakan skenario Barat dalam memotong-motong wilayah Islam--umat Islam sulit untuk menyebut kata sepakat. Sejak saat itu sampai sekarang, kita betul-betul menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam.
Akhirnya, umat Islam mengalami “depolitisasi” yang amat hebat. Kita dijauhkan banget dengan istilah yang namanya politik. Kita menjauh, sebab istilah itu telah diplintir menjadi sesuatu yang buruk. Hal itu dilakukan bisa lewat bacaan, bisa lewat pendapat para pakar, atau menyaksikan sendiri praktik-praktik politik. Padahal, pendapat para pakar yang diekspos media massa nggak lepas dari ideologi yang beragam alias tidak hanya Islam. Bisa kapitalis, atau bisa juga sosialis-komunis. Walhasil, sampai pada kesimpulan bahwa politik itu kejam, politik itu kotor, politik itu najis, penghasut dan seabreg julukan jelek lainnya tentang politik.
Padahal pengertian politik yang bener adalah seperti terdapat dalam kitab Mafahim Siyasiyah, dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan ummat. Adapun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain. Dalam pandangan Islam, nggak dikenal praktik politik seperti jaman sekarang. Yang cuma urusan kekuasaan tok, tapi rakyatnya malah sengsara dan tidak membawa nikmat. Bukan tak mungkin bila ujung-ujungnya malah memunculkan sikap antipati terhadap politik dari umat Islam. Dengan alasan, politik bikin bulu kuduk merinding.
Umat Islam sekarang tersungkur dan terjerembab ke dalam jurang penderitaan yang amat dalam. Berbagai konflik nyaris tak bisa diselesaikan dengan baik dan cepat. Hal itu disebabkan, selain karena umat Islam ini tidak bersatu, juga karena mereka sudah tergoda untuk mewarnai kehidupannya dengan aturan hidup lain selain Islam.
Coba saja kita perhatikan, saudara-saudara kita di Ambon dibantai kaum Salib, sebagian yang lain malah sibuk ngurus kehidupannya sendiri. Peran negara pun yang seharusnya menjadi pelindung, nyaris tak terdengar suaranya. Para pejabatnya aja malah sibuk mengamankan jabatannya masing-masing. Di jalanan banyak anak terlantar, tapi di sisi lain, gaya hidup para konglomerat udah mewah banget (super premium), yang tanpa ada sedikitpun rasa iba untuk membantu yang lemah. Padahal, dulu di masa kejayaan Islam, penguasa begitu peduli terhadap keadaan rakyatnya. Ambil contoh, suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria—terletak antara wilayah Irak dan Syam—berteriak meminta pertolongan karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. 
Teriakan itu ternyata “terdengar” oleh Khalifah al-Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan tersebut. Dan bukan saja sang pejabat nekat itu, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwiyatkan, “kepala” pasukan sudah berada di Amuria sedangkan “ekornya” berakhir di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang. Fantastis! Dan untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan.
Nah, inilah buktinya bila Islam diterapkan sebagai akidah dan syariat. Sebab Islam adalah ideologi. Urusan dunia sama pentingnya dengan urusan akhirat. Itu sebabnya, dalam pandangan Islam, untuk mengatur kehidupan dunia pun kudu ada hubungannya dengan akhirat. Ini membuktikan bahwa Islam itu sempurna. Firman Allah Swt.:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Mâidah [5]: 3)
Jelas ini juga membuktikan bahwa Islam bertentangan banget dengan sekularisme. Sebab dalam sekularisme, agama dipisahkan dari politik (kehidupan). Dengan kata lain, agama nggak boleh mencampuri urusan duniawi (negara). Napsi-napsi aja deh. Makanya wajar kalo ada yang sholatnya getol, tapi maksiatnya juga nggak pernah absen. Malah ada juga yang sulit ngebedain mana perintah Allah, dan mana larangan-Nya. Akhirnya wajar kalo suka ketuker-tuker tuh. Yang halal malah diharamkan, dan yang haram disulap jadi halal. Ya, inilah kapitalisme dengan akidah sekularismenya.

Perlu kesadaran politik
Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamiy menyebutkan bahwa kesadaran politik (wa’yu siyasi) haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama, kesadaran itu haruslah bersifat universal atau mendunia (internasional). Bukan kesadaran yang bersifat lokal semata. Kalo kamu yang sudah hidup di jaman yang serba digital tapi pikirannya masih lokal apalagi nggak punya pikiran model begitu, wah nggak kelas deh. Tengok dong saudara-saudara kita di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau saudara kita di Maluku, Aceh, dan berbagai belahan dunia lainnya. Kita harus tahu dan peduli dengan keadaan mereka. Apakah sekarang lagi menderita atau bahagia. Harus sampai ke situ. Itulah namanya mondial alias mendunia. Jangan cuma tahu perkembangan artis doang, nggak ada gunanya kayak begituan mah. Catet ya!
Nah, unsur yang kedua adalah kesadaran politik yang dimiliki remaja harus berdasarkan pada sudut pandang tertentu alias zawiyatun khosshoh. Dengan kata lain remaja Islam harus bertindak subyektif dan obyektif dalam menilai peristiwa politik yang terjadi. Maksudnya, subyektif karena memang harus didasari pada sudut pandang Islam. Obyektif artinya tekun dan teliti dalam ‘membaca’ peristiwa yang terjadi. Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika puluhan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga.
Apa kenyataannya sekarang? Sayangnya, pendidikan politik untuk remaja tak bisa dibilang bagus. Justru malah sebaliknya. Remaja dilarang mencicipi manisnya politik. Akibatnya, remaja malah “dipolitikin” oleh ideologi selain Islam. Buktinya? Banyak remaja yang malah menjadi plagiator budaya Barat. Kalo sudah begitu, wajar bila sekarang, dan juga nanti di masa depan, hanya akan bermunculan generasi “politik” yang hanya bisa kwek, kwek,kwek!

Sumber : Buletin Cendekia

Kamis, 17 Maret 2016


Berikut ini saya lampirkan Rumah Type 100, monggo silahkan download Type 100


Berikut ini saya lampirkan Rumah Type 100, monggo silahkan download Type 100

Minggu, 14 Februari 2016

Hari Valentine’s memang kerap bikin heboh remaja. Gimana nggak heboh, di hari itu, semua orang—khususnya remaja—merasa ‘diwajibkan’ untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap orang-orang yang dikasihinya. Pada hari itu semua orang di seluruh dunia merasa terpanggil untuk menumpahkan kasih sayangnya. Meski sebetulnya yang terjadi kemudian adalah ajang baku syahwat yang sangat liar. Nah, itu fakta dari tahun ke tahun. Budaya bejat yang seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan remaja itu terus berlangsung sampai hari ini. Dan bukan tak mungkin akan menjasad dalam kehidupan kita bila tidak segera diubah.
Valentine’s adalah pesta remaja sedunia. Sedunia? Yap, karena yang melakukan bukan cuma kamu dan teman-teman kamu di sini, tapi pesta itu sudah menjadi hajatan global. Artinya, hajatan resmi sedunia. Menjelang tanggal 14 Februari semua orang di seluruh dunia dibikin sibuk—khususnya remaja. Segala perlengkapan pesta mulai disiapkan; balon, pita warna-warni, kostum spesial, minyak wangi dan asesoris lainnya, juga nggak ketinggalan kado istimewa buat sang kekasih pujaan hati. Dan kamu pun pasti udah paham bahwa pelaksanaan pesta “Kasih Sayang” itu akan berubah menjadi ajang gaul yang liar dan bebas nian. Gimana nggak bebas, cowok-cewek gabung jadi satu, bahkan bukan tak mungkin terjadi baku syahwat. Karena justru hal itulah yang sebenarnya menjadi tujuan mulianya. Wow, parah Boo...!
Sekadar tahu saja, sejatinya pesta itu bukan berasal dari ajaran Islam, Non. Tapi pesta itu awalnya adalah bagian dari ritual para penyembah berhala di Yunani, tapi kemudian pada perkembangan berikutnya pesta ini ‘dimodifikasi’ oleh para petinggi Kristen untuk mengenang kematian Saint Valentine yang dipenggal penguasa Roma. Jadi memang nggak ada dalam kamus ajaran Islam pesta tersebut (untuk mengingat kembali, kamu bisa buka Studia edisi 003/Tahun I).
Nah, pembahasan soal Valentine kali ini akan kita fokuskan pada pengaruh budaya global. Tepatnya ekspansi budaya global. Ini perlu kamu ketahui, karena pesta Valentine adalah bagian dari upaya globalisasi gaya hidup. Globalisasi adalah upaya orang-orang Barat—yakni musuh-musuh Islam—untuk menyamakan persepsi yang ada dalam benak mereka dengan orang-orang lain di seluruh dunia. Tapi celakanya, persepsi yang diemban oleh mereka kebanyakan adalah persepsi-persepsi yang berbahaya. Yang pada gilirannya nanti mereka bisa menguasai dan mengendalikan orang-orang di belahan dunia lain untuk tunduk dan patuh dengan apa yang mereka inginkan. Walhasil, globalisasi adalah senjata Barat dan Amerika yang cukup berbahaya dan sangat mengancam kehidupan kita.
Coba kamu perhatiin deh, sekarang orang Indonesia pun udah merasa bangga bila makanan, hiburan, maupun dandanannya adalah yang juga disukai dan dipakai oleh orang-orang Barat dan Amerika. Jujur saja, masih banyak teman remaja yang geregetan pengen makan di resto Amerika ketimbang ‘nongkrong’ di warung yang menjajakan makanan pribumi. So, mungkin kamu juga merasa besar kepala bila tanganmu menenteng jajanan McDonald’s atawa minuman Coca-Cola. Iya kan? Ngaku aja deh! (Idih, nuduh)
John Naisbitt dan Patricia Aburdene yang mengarang buku Megatrends 2000 mengungkapkan bahwa dunia ketiga akan dibanjiri produk-produk dunia maju. So, sekarang udah kejadian, tuh. Food, Fun, dan Fashion di seluruh dunia hampir seragam. Seolah produk-produk tersebut sudah menjadi daftar belanjaan rutin yang wajib dipenuhi. Semua orang di seluruh dunia makan makanan yang sama: humberger, hotdog, pizza, spaghetti, dan yang lainnya. Anak-anak di seluruh dunia bicara dan bercerita tentang hiburan yang sama, dari mulai film, video game, musik, sampai nyanyian. Kamu pasti udah biasa nonton film-film keluaran Hollywood. Produk Hollywood sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Lalu siapa sih yang nggak gaul dengan mesin fantasi keluaran Sony Corp.? Yang udah nyetel dengan mesin fantasi itu pasti kenal banget dengan yang namanya PlayStation. Apalagi ada ‘sekuel’-nya—PS 2. Dijamin kagak bete lagi.
Kalo soal musik dan nyanyian? Wow, jangan ditanya deh, dari mulai penyanyi sampai grup musiknya anak-anak ndeso di sini juga udah hapal betul. Karena televisi dan radio getol memutar lagu-lagu ‘bule’ itu. Walhasil, nyanyian dan musik menjadi seragam di seluruh dunia. Begitupun dengan urusan mode, semua orang di dunia ingin berdandan dengan model pakaian yang sama dengan yang udah dipakai supermodel dunia yang dipamerkan di rumah mode kelas dunia pula. Pokoknya, seragam!
Nggak terkecuali masalah budaya dan gaya hidup lainnya—termasuk pesta valentine ini. Akibatnya, semua anak remaja di seluruh dunia—termasuk di sini—merasa perlu untuk merayakannya. Bener kan?
Ini namanya globalisasi, Brur. Malah bila kita mau rajin menelusuri, ternyata persoalan itu hanya bagian kecil dari rencana licik Barat dan Amerika untuk menguasi dunia—khususnya dunia Islam. Karena yang lebih berbahaya dari itu masih banyak. Contohnya? Wah, kamu juga kudu gaul tampaknya. Ya, sistem kehidupan yang selama ini mengatur kehidupan kita itu nggak lepas dari rencana jahat mereka dalam menguasi dunia Islam. Lihat saja, semua negeri Islam sepakat mengamalkan dan bahkan membela matian-matian sistem demokrasi—produk hukum mereka yang rusak itu. Nggak terkecuali di negeri ini. Nah, itu juga adalah bagian dari globalisasi, Brur. Bahaya memang!

Sebuah Tantangan
Sekali lagi, nggak usah heran bila kita dan adik-adik kita bicara tentang film yang sama. Meski nggak seluruh film buatan Hollywood memang—bisa juga dari Jepang, Inggris, Jerman, dan bisa jadi Indonesia kalo mampu memproduksi film untuk konsumsi dunia. Tapi perlu diingat, meski demikian biasanya Amerika akan menerapkan standardisasi tertentu untuk membatasi gerak dunia ketiga agar jangan sampai mengalahkan dominasi mereka.
Namun, harus diakui bahwa dampak dari globalisasi itu bukan berarti salah semua. Masih ada sisi baik—meski sedikit—dari globalisasi ini. Contohnya perkembangan iptek yang kian pesat. Baik teknologi informasi: seperti internet dan komputer, juga teknologi militer, kimia, biologi, fisika, dan teknologi ramah lingkungan lainnya. Dipikir-pikir, emang Ibarat ‘pisau’ bermata dua. Artinya bisa kita pakai untuk menikam, tapi juga bisa menikam kita. Weleh weleh, ribet juga ya? Di sinilah perlunya kita membentengi diri dengan ‘ilmu’ yang cukup. Perkembangan ini kan bisa baik tapi sekaligus bisa jahat. Maka sikap bijaksana itu wajib kita miliki. Supaya nggak keburu nafsu menghukumi yang halal menjadi haram—atau sebaliknya. Apalagi kalo sampai terjebak menjadi pengikut budaya global yang nggak bener. Itu sih, kebangetan dah. Pendek kata, harus bertanggung jawab. Yang benar kita ambil, dan yang salah kita buang. Inilah tantangannya bagi kita. Tentu, tantangan yang harus dihadapi dengan bijaksana dan butuh penyelesaian jitu. Iya nggak?
Malah, kayaknya sekarang kita harus lebih cerdas lagi dalam menyikapinya. Bukan apa-apa, ekspansi bukan global ini makin berbahaya karena ditunjang dengan teknologi canggih. Jaringan internet misalnya, sudah merupakan kebutuhan tersendiri. Dengan kata lain, bukan fasilitas mewah. Berarti setiap orang hampir bisa dipastikan mampu mengakses dengan mudah. Wah, padahal nggak semua informasi yang ditampilkan jaringan ini mendidik. Jadi, jaringan maya ini ternyata perlu diperhitungkan juga, Non.  Kenapa? Ya, itu tadi, karena di jaringan ini akses informasi nyaris tanpa batas dan sulit dibendung.
Serangan musuh-musuh Islam yang berlindung di balik kedok globalisasi ini dampaknya cukup parah juga. Terutama bila itu berhubungan dengan informasi yang salah. Arena Woodstock Festival yang tiap empat tahun sekali diadakan itu gaungnya sampai juga di sini, lho. Lengkap dengan budaya dan gaya hidup yang diciptakannya. Akibatnya, dengan cepat menjalar di kalangan para remaja. Sebagai contoh saja, acara Woodstock pernah mendapat publikasi luas di seluruh pelosok Amerika. Dengan hasil yang cukup sukses itu, 4 bulan kemudian dilakukan pergelaran musik di Kota Altamonte, California, pantai Barat AS, menampilkan musik rock The Rolling Stones dari Inggris. Namun pergelaran itu tidak semulus seperti di New York, karena kacau oleh kehadiran suara ingar-bingar sepeda motor kelompok Hell's Angels. Acara diiringi aksi tawuran hingga empat orang tewas. ‘Lucu’nya, di sini pun remaja-remaja sering melakukan hal yang sama. Bila demikian, bisa jadi itu karena terpengaruh dengan kejadian di sana. Kayaknya remaja kita asal contek aja tuh.
Brur, budaya-budaya yang salah inilah yang sebenarnya sering ‘dijual’ oleh Barat dan Amerika kepada penghuni dunia ketiga (baca: dunia Islam). Dan celakanya, justru budaya ini yang laku. Lihat aja, remaja di negeri ini gayanya udah kayak remaja Paris or Amrik aja. Mulai dari makanan, hiburan, dandanan, sampai gaya hidup. Udah gitu merasa bangga lagi. Malu-maluin aja!

Tetap Waspada
Nggak ada jalan lain kecuali waspada memang. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan budaya baru yang bukan berasal dari Islam. Kamu harus pilih-pilih dulu. Jangan langsung caplok aja. Pokoknya pandai memilih dan memilah. Dan perlu dingat, patokan yang kamu pakai untuk menilai budaya tersebut adalah ajaran Islam. Kalo menurut Islam haram, maka kamu jangan maksa mengambil atau melakukan sesuatu itu. Dan sebaliknya bila menurut Islam itu boleh atau halal, kamu nggak dilarang untuk mengambil atau mengamalkan­nya. Well, jadi kamu dituntut untuk bisa bertanggung jawab. Dan itu cuma bisa dilakukan bila kamu udah paham tentang Islam. Maka, kalo belum paham soal Islam, jangan nekat melabrak. Harus tahu diri, berati kamu kudu belajar dulu tentang ajaran dan nilai-nilai Islam. Tapi memang harus diakui juga sih, penjagaan diri itu nggak cukup. Harus didukung oleh pengawasan masyarakat dan kekuasaan sebuah negara. Tujuannya? Supaya lebih joss! 
Selain kita kudu waspada, kita juga nggak boleh menjadikan musuh-musuh Islam sebagai teladan atau teman kita. Apalagi kalo kita mau aja ngikutin gaya hidup mereka. Hati-hati, jangan sampai deh! Allah Swt. berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudha­ratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 118).
Waduh, ngeri juga kan? Makanya nggak usahlah kamu bergaya hidup seperti kaum lain. Jangan sampai pengaruh jelek globalisasi menjadikan kamu lepas dari Islam. Karena ketika kamu terpengaruh dan kemudian ikut bergaya hidup seperti musuh-musuh Islam itu, berarti kamu telah menjadi pengikutnya (baca: temannya). Ih, syerem banget!
Makanya kamu nggak boleh latah ikut-ikutan budaya yang bukan berasal dari Islam. Nggak bener dan memang nggak baik. Bahkan kewajiban kamu adalah mengamalkan (ajaran) Islam, bukan ajaran kaum atau peradaban lain. Karena tentu saja, dengan adanya globalisasi ini musuh-musuh Islam sengaja membuat jalan agar kaum muslimin—khususnya remaja—untuk mengikuti kehendak mereka. Ini jelas sangat berbahaya. Karena bila kita masuk perangkap mereka, alamat hidup kita ancur-ancuran, Brur. Nah, termasuk dalam urusan Valentine’s ini. Karena pesta itu adalah bagian dari globalisasi budaya mereka. Ya, itulah gaya hidup mereka yang sengaja disusupkan ke benak kaum muslimin—khususnya remaja. Allah Swt menggambarkan bagaimana kebencian musuh-musuh Islam—yakni kaum Yahudi dan Nasrani—dalam menghancurkan ummat Islam. Firman Allah Swt.:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. al-Baqarah [2]: 120)
Dengan demikian, kita wajib waspada, jangan sampai terjerumus mengikuti budaya dan gaya hidup selain Islam. Kita bisa menang kawan. Karena Allah sudah menjanjikan kemenangan itu. Tentu jika kita mau berupaya membela Islam. Firman Allah Swt.
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
“…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141)
Sekali lagi Brur, pesta Valentine’s adalah bagian dari ekspansi budaya global. Dan sayangnya, pesta itu merupakan rencana jahat mereka untuk menghancurkan kepribadian Islam kita. Jangan salah, lho. Di balik ‘senyum manisnya’ tersimpan kebusukan. Hati-hati.
Ayo, kita harus bangga menjadi muslim!

Hari Valentine’s memang kerap bikin heboh remaja. Gimana nggak heboh, di hari itu, semua orang—khususnya remaja—merasa ‘diwajibkan’ untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap orang-orang yang dikasihinya. Pada hari itu semua orang di seluruh dunia merasa terpanggil untuk menumpahkan kasih sayangnya. Meski sebetulnya yang terjadi kemudian adalah ajang baku syahwat yang sangat liar. Nah, itu fakta dari tahun ke tahun. Budaya bejat yang seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan remaja itu terus berlangsung sampai hari ini. Dan bukan tak mungkin akan menjasad dalam kehidupan kita bila tidak segera diubah.
Valentine’s adalah pesta remaja sedunia. Sedunia? Yap, karena yang melakukan bukan cuma kamu dan teman-teman kamu di sini, tapi pesta itu sudah menjadi hajatan global. Artinya, hajatan resmi sedunia. Menjelang tanggal 14 Februari semua orang di seluruh dunia dibikin sibuk—khususnya remaja. Segala perlengkapan pesta mulai disiapkan; balon, pita warna-warni, kostum spesial, minyak wangi dan asesoris lainnya, juga nggak ketinggalan kado istimewa buat sang kekasih pujaan hati. Dan kamu pun pasti udah paham bahwa pelaksanaan pesta “Kasih Sayang” itu akan berubah menjadi ajang gaul yang liar dan bebas nian. Gimana nggak bebas, cowok-cewek gabung jadi satu, bahkan bukan tak mungkin terjadi baku syahwat. Karena justru hal itulah yang sebenarnya menjadi tujuan mulianya. Wow, parah Boo...!
Sekadar tahu saja, sejatinya pesta itu bukan berasal dari ajaran Islam, Non. Tapi pesta itu awalnya adalah bagian dari ritual para penyembah berhala di Yunani, tapi kemudian pada perkembangan berikutnya pesta ini ‘dimodifikasi’ oleh para petinggi Kristen untuk mengenang kematian Saint Valentine yang dipenggal penguasa Roma. Jadi memang nggak ada dalam kamus ajaran Islam pesta tersebut (untuk mengingat kembali, kamu bisa buka Studia edisi 003/Tahun I).
Nah, pembahasan soal Valentine kali ini akan kita fokuskan pada pengaruh budaya global. Tepatnya ekspansi budaya global. Ini perlu kamu ketahui, karena pesta Valentine adalah bagian dari upaya globalisasi gaya hidup. Globalisasi adalah upaya orang-orang Barat—yakni musuh-musuh Islam—untuk menyamakan persepsi yang ada dalam benak mereka dengan orang-orang lain di seluruh dunia. Tapi celakanya, persepsi yang diemban oleh mereka kebanyakan adalah persepsi-persepsi yang berbahaya. Yang pada gilirannya nanti mereka bisa menguasai dan mengendalikan orang-orang di belahan dunia lain untuk tunduk dan patuh dengan apa yang mereka inginkan. Walhasil, globalisasi adalah senjata Barat dan Amerika yang cukup berbahaya dan sangat mengancam kehidupan kita.
Coba kamu perhatiin deh, sekarang orang Indonesia pun udah merasa bangga bila makanan, hiburan, maupun dandanannya adalah yang juga disukai dan dipakai oleh orang-orang Barat dan Amerika. Jujur saja, masih banyak teman remaja yang geregetan pengen makan di resto Amerika ketimbang ‘nongkrong’ di warung yang menjajakan makanan pribumi. So, mungkin kamu juga merasa besar kepala bila tanganmu menenteng jajanan McDonald’s atawa minuman Coca-Cola. Iya kan? Ngaku aja deh! (Idih, nuduh)
John Naisbitt dan Patricia Aburdene yang mengarang buku Megatrends 2000 mengungkapkan bahwa dunia ketiga akan dibanjiri produk-produk dunia maju. So, sekarang udah kejadian, tuh. Food, Fun, dan Fashion di seluruh dunia hampir seragam. Seolah produk-produk tersebut sudah menjadi daftar belanjaan rutin yang wajib dipenuhi. Semua orang di seluruh dunia makan makanan yang sama: humberger, hotdog, pizza, spaghetti, dan yang lainnya. Anak-anak di seluruh dunia bicara dan bercerita tentang hiburan yang sama, dari mulai film, video game, musik, sampai nyanyian. Kamu pasti udah biasa nonton film-film keluaran Hollywood. Produk Hollywood sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Lalu siapa sih yang nggak gaul dengan mesin fantasi keluaran Sony Corp.? Yang udah nyetel dengan mesin fantasi itu pasti kenal banget dengan yang namanya PlayStation. Apalagi ada ‘sekuel’-nya—PS 2. Dijamin kagak bete lagi.
Kalo soal musik dan nyanyian? Wow, jangan ditanya deh, dari mulai penyanyi sampai grup musiknya anak-anak ndeso di sini juga udah hapal betul. Karena televisi dan radio getol memutar lagu-lagu ‘bule’ itu. Walhasil, nyanyian dan musik menjadi seragam di seluruh dunia. Begitupun dengan urusan mode, semua orang di dunia ingin berdandan dengan model pakaian yang sama dengan yang udah dipakai supermodel dunia yang dipamerkan di rumah mode kelas dunia pula. Pokoknya, seragam!
Nggak terkecuali masalah budaya dan gaya hidup lainnya—termasuk pesta valentine ini. Akibatnya, semua anak remaja di seluruh dunia—termasuk di sini—merasa perlu untuk merayakannya. Bener kan?
Ini namanya globalisasi, Brur. Malah bila kita mau rajin menelusuri, ternyata persoalan itu hanya bagian kecil dari rencana licik Barat dan Amerika untuk menguasi dunia—khususnya dunia Islam. Karena yang lebih berbahaya dari itu masih banyak. Contohnya? Wah, kamu juga kudu gaul tampaknya. Ya, sistem kehidupan yang selama ini mengatur kehidupan kita itu nggak lepas dari rencana jahat mereka dalam menguasi dunia Islam. Lihat saja, semua negeri Islam sepakat mengamalkan dan bahkan membela matian-matian sistem demokrasi—produk hukum mereka yang rusak itu. Nggak terkecuali di negeri ini. Nah, itu juga adalah bagian dari globalisasi, Brur. Bahaya memang!

Sebuah Tantangan
Sekali lagi, nggak usah heran bila kita dan adik-adik kita bicara tentang film yang sama. Meski nggak seluruh film buatan Hollywood memang—bisa juga dari Jepang, Inggris, Jerman, dan bisa jadi Indonesia kalo mampu memproduksi film untuk konsumsi dunia. Tapi perlu diingat, meski demikian biasanya Amerika akan menerapkan standardisasi tertentu untuk membatasi gerak dunia ketiga agar jangan sampai mengalahkan dominasi mereka.
Namun, harus diakui bahwa dampak dari globalisasi itu bukan berarti salah semua. Masih ada sisi baik—meski sedikit—dari globalisasi ini. Contohnya perkembangan iptek yang kian pesat. Baik teknologi informasi: seperti internet dan komputer, juga teknologi militer, kimia, biologi, fisika, dan teknologi ramah lingkungan lainnya. Dipikir-pikir, emang Ibarat ‘pisau’ bermata dua. Artinya bisa kita pakai untuk menikam, tapi juga bisa menikam kita. Weleh weleh, ribet juga ya? Di sinilah perlunya kita membentengi diri dengan ‘ilmu’ yang cukup. Perkembangan ini kan bisa baik tapi sekaligus bisa jahat. Maka sikap bijaksana itu wajib kita miliki. Supaya nggak keburu nafsu menghukumi yang halal menjadi haram—atau sebaliknya. Apalagi kalo sampai terjebak menjadi pengikut budaya global yang nggak bener. Itu sih, kebangetan dah. Pendek kata, harus bertanggung jawab. Yang benar kita ambil, dan yang salah kita buang. Inilah tantangannya bagi kita. Tentu, tantangan yang harus dihadapi dengan bijaksana dan butuh penyelesaian jitu. Iya nggak?
Malah, kayaknya sekarang kita harus lebih cerdas lagi dalam menyikapinya. Bukan apa-apa, ekspansi bukan global ini makin berbahaya karena ditunjang dengan teknologi canggih. Jaringan internet misalnya, sudah merupakan kebutuhan tersendiri. Dengan kata lain, bukan fasilitas mewah. Berarti setiap orang hampir bisa dipastikan mampu mengakses dengan mudah. Wah, padahal nggak semua informasi yang ditampilkan jaringan ini mendidik. Jadi, jaringan maya ini ternyata perlu diperhitungkan juga, Non.  Kenapa? Ya, itu tadi, karena di jaringan ini akses informasi nyaris tanpa batas dan sulit dibendung.
Serangan musuh-musuh Islam yang berlindung di balik kedok globalisasi ini dampaknya cukup parah juga. Terutama bila itu berhubungan dengan informasi yang salah. Arena Woodstock Festival yang tiap empat tahun sekali diadakan itu gaungnya sampai juga di sini, lho. Lengkap dengan budaya dan gaya hidup yang diciptakannya. Akibatnya, dengan cepat menjalar di kalangan para remaja. Sebagai contoh saja, acara Woodstock pernah mendapat publikasi luas di seluruh pelosok Amerika. Dengan hasil yang cukup sukses itu, 4 bulan kemudian dilakukan pergelaran musik di Kota Altamonte, California, pantai Barat AS, menampilkan musik rock The Rolling Stones dari Inggris. Namun pergelaran itu tidak semulus seperti di New York, karena kacau oleh kehadiran suara ingar-bingar sepeda motor kelompok Hell's Angels. Acara diiringi aksi tawuran hingga empat orang tewas. ‘Lucu’nya, di sini pun remaja-remaja sering melakukan hal yang sama. Bila demikian, bisa jadi itu karena terpengaruh dengan kejadian di sana. Kayaknya remaja kita asal contek aja tuh.
Brur, budaya-budaya yang salah inilah yang sebenarnya sering ‘dijual’ oleh Barat dan Amerika kepada penghuni dunia ketiga (baca: dunia Islam). Dan celakanya, justru budaya ini yang laku. Lihat aja, remaja di negeri ini gayanya udah kayak remaja Paris or Amrik aja. Mulai dari makanan, hiburan, dandanan, sampai gaya hidup. Udah gitu merasa bangga lagi. Malu-maluin aja!

Tetap Waspada
Nggak ada jalan lain kecuali waspada memang. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan budaya baru yang bukan berasal dari Islam. Kamu harus pilih-pilih dulu. Jangan langsung caplok aja. Pokoknya pandai memilih dan memilah. Dan perlu dingat, patokan yang kamu pakai untuk menilai budaya tersebut adalah ajaran Islam. Kalo menurut Islam haram, maka kamu jangan maksa mengambil atau melakukan sesuatu itu. Dan sebaliknya bila menurut Islam itu boleh atau halal, kamu nggak dilarang untuk mengambil atau mengamalkan­nya. Well, jadi kamu dituntut untuk bisa bertanggung jawab. Dan itu cuma bisa dilakukan bila kamu udah paham tentang Islam. Maka, kalo belum paham soal Islam, jangan nekat melabrak. Harus tahu diri, berati kamu kudu belajar dulu tentang ajaran dan nilai-nilai Islam. Tapi memang harus diakui juga sih, penjagaan diri itu nggak cukup. Harus didukung oleh pengawasan masyarakat dan kekuasaan sebuah negara. Tujuannya? Supaya lebih joss! 
Selain kita kudu waspada, kita juga nggak boleh menjadikan musuh-musuh Islam sebagai teladan atau teman kita. Apalagi kalo kita mau aja ngikutin gaya hidup mereka. Hati-hati, jangan sampai deh! Allah Swt. berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudha­ratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 118).
Waduh, ngeri juga kan? Makanya nggak usahlah kamu bergaya hidup seperti kaum lain. Jangan sampai pengaruh jelek globalisasi menjadikan kamu lepas dari Islam. Karena ketika kamu terpengaruh dan kemudian ikut bergaya hidup seperti musuh-musuh Islam itu, berarti kamu telah menjadi pengikutnya (baca: temannya). Ih, syerem banget!
Makanya kamu nggak boleh latah ikut-ikutan budaya yang bukan berasal dari Islam. Nggak bener dan memang nggak baik. Bahkan kewajiban kamu adalah mengamalkan (ajaran) Islam, bukan ajaran kaum atau peradaban lain. Karena tentu saja, dengan adanya globalisasi ini musuh-musuh Islam sengaja membuat jalan agar kaum muslimin—khususnya remaja—untuk mengikuti kehendak mereka. Ini jelas sangat berbahaya. Karena bila kita masuk perangkap mereka, alamat hidup kita ancur-ancuran, Brur. Nah, termasuk dalam urusan Valentine’s ini. Karena pesta itu adalah bagian dari globalisasi budaya mereka. Ya, itulah gaya hidup mereka yang sengaja disusupkan ke benak kaum muslimin—khususnya remaja. Allah Swt menggambarkan bagaimana kebencian musuh-musuh Islam—yakni kaum Yahudi dan Nasrani—dalam menghancurkan ummat Islam. Firman Allah Swt.:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. al-Baqarah [2]: 120)
Dengan demikian, kita wajib waspada, jangan sampai terjerumus mengikuti budaya dan gaya hidup selain Islam. Kita bisa menang kawan. Karena Allah sudah menjanjikan kemenangan itu. Tentu jika kita mau berupaya membela Islam. Firman Allah Swt.
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
“…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141)
Sekali lagi Brur, pesta Valentine’s adalah bagian dari ekspansi budaya global. Dan sayangnya, pesta itu merupakan rencana jahat mereka untuk menghancurkan kepribadian Islam kita. Jangan salah, lho. Di balik ‘senyum manisnya’ tersimpan kebusukan. Hati-hati.
Ayo, kita harus bangga menjadi muslim!

Senin, 08 Februari 2016

Dalam perhitungan campuran beton kita akan mendapatkan nilai masing-masing bahan dalam kebutuhan satuan berat, sedangkan dalam teknis pelaksanaan dilapangan untuk mencampurkan bahan dalam satuan berat akan menyulitkan pekerja, Oleh karena itu, untuk pekerjaan campuran beton dilapangan, kita memerlukan suatu konversi dari takaran berat ke volume, untuk melakukan konversi ini anda harus memperoleh data berat isi dari masing-masing material… Berikut salahsatu contoh perhitungan berat isi agregat :
Uraian
Berat Isi
Diameter mould  Ø (cm)
15.30
Tinggi mould      H (cm)
22.30
Volume mould    V (dm3)
4.10
Berat mould     W1 (kg)
8.24
Berat mould + agregat (kg)
13.82
Berat agregat W3 = W2 - W1
5.58
Berat volume (W3/V) kg/dm3
1.361

Catatan :
V mould = (1/4) .π  (15,3)2 . (22,3)                  = 4097.86 cm3
                                                                        = 4.10 dm3

Berikut contoh perhitungan konversi berat ke volume dalam pengujian beton :
Diketahui :
Kebutuhan campuran dalam berat :
Pasir                = 840.40 kg
Split                 = 907.46 kg
Semen             = 341.67 kg
Air                   = 210.48 kg  +
Berat isi beton = 2300 kg/m3
Kemudian kebutuhan bahan 1 m3 dibagi dengan bilangan tertentu dengan semen sebagai patokan perhitungan :
Semen 341.67 : 50 = 6.83
sehingga kebutuhan bahan dibagi bilangan 6.83 :
Pasir                = 122.98 kg
Split                 = 132.80 kg
Semen             = 50 kg/Zak
Air                   = 30.8 kg  +

Berikut ini contoh hasil uji berat isi bahan :
Pasir                = 1.59 kg/dm3
Split                 = 1.37 kg/dm3
Semen              = 1.25 kg/dm3
Kemudian bagi  dengan masing-masing uji berat isinya :
Pasir                = 77.21 dm3
Split                 = 96.71 dm3
Semen             = 40 dm3
Air                   = 30.8 liter
Jadi perbandingan volume dihitung dengan membagi jumlah semen (semen = 40) :
Pasir                = 1.93
Split                 = 2.42
Semen              = 1
Air                   = 0.77

Sehingga jika dibuat takaran dengan ukuran panjang dan lebar 30 cm x 30 cm maka :
Pasir                = 30 x 30 x jumlah takaran (contoh = 3 takaran) = tinggi takaran?
                        = ((Jumlah pasir/(3x3))/jumlah takaran)*10
                        = ((77.21/(3x3))/3)*10
= 28.6
Dengan cara yang sama maka :
Semen              = 50 kg                                    = 1 zak
Split                 = 30 cm x 30 cm x 26.86        = 4 takaran
Pasir                = 30 cm x 30 cm x 28.60        = 3 takaran
Air                   = 30.80 liter

Jika digambarkan :






Dalam perhitungan campuran beton kita akan mendapatkan nilai masing-masing bahan dalam kebutuhan satuan berat, sedangkan dalam teknis pelaksanaan dilapangan untuk mencampurkan bahan dalam satuan berat akan menyulitkan pekerja, Oleh karena itu, untuk pekerjaan campuran beton dilapangan, kita memerlukan suatu konversi dari takaran berat ke volume, untuk melakukan konversi ini anda harus memperoleh data berat isi dari masing-masing material… Berikut salahsatu contoh perhitungan berat isi agregat :
Uraian
Berat Isi
Diameter mould  Ø (cm)
15.30
Tinggi mould      H (cm)
22.30
Volume mould    V (dm3)
4.10
Berat mould     W1 (kg)
8.24
Berat mould + agregat (kg)
13.82
Berat agregat W3 = W2 - W1
5.58
Berat volume (W3/V) kg/dm3
1.361

Catatan :
V mould = (1/4) .π  (15,3)2 . (22,3)                  = 4097.86 cm3
                                                                        = 4.10 dm3

Berikut contoh perhitungan konversi berat ke volume dalam pengujian beton :
Diketahui :
Kebutuhan campuran dalam berat :
Pasir                = 840.40 kg
Split                 = 907.46 kg
Semen             = 341.67 kg
Air                   = 210.48 kg  +
Berat isi beton = 2300 kg/m3
Kemudian kebutuhan bahan 1 m3 dibagi dengan bilangan tertentu dengan semen sebagai patokan perhitungan :
Semen 341.67 : 50 = 6.83
sehingga kebutuhan bahan dibagi bilangan 6.83 :
Pasir                = 122.98 kg
Split                 = 132.80 kg
Semen             = 50 kg/Zak
Air                   = 30.8 kg  +

Berikut ini contoh hasil uji berat isi bahan :
Pasir                = 1.59 kg/dm3
Split                 = 1.37 kg/dm3
Semen              = 1.25 kg/dm3
Kemudian bagi  dengan masing-masing uji berat isinya :
Pasir                = 77.21 dm3
Split                 = 96.71 dm3
Semen             = 40 dm3
Air                   = 30.8 liter
Jadi perbandingan volume dihitung dengan membagi jumlah semen (semen = 40) :
Pasir                = 1.93
Split                 = 2.42
Semen              = 1
Air                   = 0.77

Sehingga jika dibuat takaran dengan ukuran panjang dan lebar 30 cm x 30 cm maka :
Pasir                = 30 x 30 x jumlah takaran (contoh = 3 takaran) = tinggi takaran?
                        = ((Jumlah pasir/(3x3))/jumlah takaran)*10
                        = ((77.21/(3x3))/3)*10
= 28.6
Dengan cara yang sama maka :
Semen              = 50 kg                                    = 1 zak
Split                 = 30 cm x 30 cm x 26.86        = 4 takaran
Pasir                = 30 cm x 30 cm x 28.60        = 3 takaran
Air                   = 30.80 liter

Jika digambarkan :