Hidup penuh perjuangan

Sabtu, 19 Desember 2015

Sori, dengan judul seperti ini bukan maksud kita mau ngeledekin kamu-kamu yang pacaran, tapi kita mau menertawakan kamu-kamu yang pacaran. Lho, sama aja atuh ya? Jangan bingung begitu deh, karena memang itulah faktanya. Pacaran, adalah aktivitas yang udah kuno. Mungkin bukan saja kuno, tapi sekaligus norak. Bener lho.
Kenapa sih? Islam, sebagai agama ‘modern’ dan mencerahkan pemikiran, selalu memberikan yang terbaik untuk pemeluknya. Misalnya saja, di jaman purbakala, saat manusia terbiasa buligir, alias kagak make sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya, Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Jilbab salah satunya, adalah ajaran Islam yang memberikan kehormatan kepada kaum wanita dalam berpakaian. Jadi, kalo sekarang masih ada anak puteri yang kagak pake jilbab, itu artinya masih ‘kagum’ dengan kebudayaannya Homo Soloensis dan Pythecantropus Erectus yang masih primitif, alias kuno. Gubrag! (yang tersinggung dilarang bangga) ?
Lha, pacaran apa hubungannya dengan kuno dan modern? Sabar dulu sobat. Begini, sebelum Islam datang sebagai agama penyempurna bagi kehidupan manusia, kehidupan di masa jahiliyah dulu rusak banget. Salah satunya dalam pergaulan. Mungkin, kalo kita mau kejam, seperti dunia binatang. Kok bisa sih? Iya, soalnya hubungan antara pria dan wanita di masa jahiliyah dulu kagak ada aturannya. Main seruduk, main selonong sana selonong sini. Suka-suka aja gitu lho. Waduh!
Sobat muda muslim, itulah sebabnya kenapa kita bilang bahwa pacaran adalah aktivitas kuno dan sekaligus norak. Lihat saja model gaul anak muda sekarang (termasuk paling banyak di antaranya adalah remaja muslim) makin tak terkendali alias liar banget. Kata seorang teman, remaja sekarang dalam bergaul dengan lawan jenisnya menggunakan prinsip 3T; ta’aruf (saling mengenal), taqarrub (saling mendekat), dan tak tubruk (terjemahkan dan tafsirkan sendiri deh, he..he..he..). mentang-mentang saling cinta dan saling sayang, lalu merasa halal aja main elus, main peluk, main tendang, main cekik, dan main banting (smackdown kali yee…? He..he..he..) Jadi, pacaran memang aktivitas yang deket-deket banget dengan z-i-n-a. Naudzubillahi min dzalik!
Benar banget sobat, kita ngeri deh dengan perkembangan gaul remaja sekarang. Remaja yang awam memang paling banyak melakukan aktivitas baku syahwat yang diharamkan Islam ini, but nggak sedikit yang ngakunya anak masjid juga jadi aktivis pacaran. Wackss… kacau-beliau dong? Begitulah…
Hmm…, kamu yang masih pacaran dan lagi seneng-senengnya bermesraan bareng gandengan kamu, pastinya bakalan sutris baca tulisan ini. Mungkin juga tuh sumpah serapah bakalan keluar dalam mulut kamu. Tapi inget sobat, justru lebih parah kalo kagak ada yang mau susah payah ngingetin kita-kita. Sebab, sebagai manusia kita selalu nggak lepas dari kesalahan. Di sinilah perlunya kita saling menasihati dan ngingetin satu sama lain. Tul nggak? Jadi, jangan marah ya kalo kita ngingetin kamu, meski dengan sindiran.
Kenapa sih pada pengen pacaran?
Bener. Kenapa sih kamu-kamu pada pengen ngelakuin pacaran? Apa enaknya pacaran? He..he..he.. jangan bingung dulu Mas, kita coba bantu ngasih bocorannya. Ada beberapa alasan yang bisa kita telusuri di balik maraknya aktivitas ilegal dalam ajaran Islam ini:
Pertama, biar disebut dewasa. Banyak teman remaja yang melakukan pacaran, biar disebut udah dewasa. Maklum aja, aktivitas baku syahwat itu kayaknya ganjil banget kalo dilakukan oleh bocah cilik. Selain ganjil, anak kecil nggak pantes ngelakuin pacaran.
Sobat muda, secara biologis boleh jadi kamu dewasa. Kamu yang cowok udah mimpi basah, tubuhmu udah mulai memproduksi sel sperma, suaramu pun udah berubah jadi berat, udah tumbuh rambut di sana-sini, jakunmu pun mulai kelihatan. Kamu yang puteri, sudah mulai haidh, tubuhmu udah memproduki sel telur, beberapa bagian tubuh mengalami pertumbuhan pesat. Itu secara fisik. Dan itu nggak salah kamu disebut dewasa.
Tapi, ukuran dewasa nggak selalu ditentukan dengan perubahan fisikmu, tapi ditentukan pula dengan cara kamu berpikir dan cara kamu bersikap. Nah, dewasa dalam berpikir dan bersikap harus kamu miliki juga dong. Sebab, banyak orang mengaku udah dewasa, tapi ternyata nggak bisa atau belum bisa berpikir dewasa. Seperti apa sih berpikir dewasa? Kamu berani bertanggung jawab dan bisa menentukan masa depan kamu sendiri. Dengan cara yang benar tentunya. Itu baru dewasa.
Itu sebabnya, kalo kamu menganggap bahwa untuk bisa dikatakan udah dewasa adalah dengan melakukan pacaran, berarti kamu sebetulnya belum bisa dikatakan dewasa, terutama dalam berpikir dan bersikap. Why? Sebab, aktivitas pacaran jelas mendekati zina. Dan itu dosa. Jika kamu masih tetap melakukannya, itu artinya kamu belum tahu arti sebuah kedewasaan. Padahal, orang yang berpikir dan bersikap dewasa, akan lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Nggak asal jalan aja. Tapi penuh perhitungan, bila perlu mengkalkulasi untung-rugi dari sebuah perbuatan yang kamu lakukan. Sebab, itulah yang namanya bertanggungjawab. Lha, yang pacaran? Rata-rata cuma seneng-seneng aja tuh. Berarti nggak punya prinsip dong? Berarti belum dewasa dong? Tepat. Kejam amat ya? ?
Kedua, having fun. Walah, ini juga asal-asalan. Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi. Banyak teman remaja yang mengaku bahwa alasan melakukan pacaran sekadar having fun aja. Sekadar bersenang-senang. Nggak punya alasan lain. Barangkali teman remaja yang begitu menganggap bahwa pacaran sekadar hiburan di masa sulit dan obat stres saat menghadapi persoalan hidup.
Bisa jadi, teman-teman remaja yang nggak mendapatkan kasih sayang di rumah, karena kebetulan orangtuanya jarang di rumah, ia nyari kesenangan di luar. Bisa dengan kekasihnya (baca: pacaran), bisa juga lari ke minuman keras dan narkoba. Di rumah sumpek, maka pelampiasan untuk mencari kesenangannya lewat pacaran. Pacaran sering diyakini sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres. Gimana nggak senang, wong, jalan berdua, mojok berdua, bisa curhat, bisa menikmati hidup ini dengan nyaman dan tenang.
Benarkah pacaran selalu memberikan kesenangan? Ternyata nggak tuh. Banyak pasangan yang pacaran justru cek-cok melulu. Belum lagi kalo beda ambisi. Maklum masih pada muda, emosinya masih meletup-letup. Jadi, gimana mau senang-senang jika tiap hari ‘panas’ melulu. Nggak banyak sih yang begitu, tapi tetap, bahwa alasan berpacaran semata untuk having fun, juga nggak dibenarkan. Baik secara hitung-hitungan logika, apalagi hukum syara.
Ketiga, pacar sebagai motivator dan katalisator. Duh, emangnya pacaran sejenis suplemen, pake menambah semangat segala? Tapi itulah yang terjadi. Alasan yang asal-asalan memang. Namun inilah yang juga banyak diakui teman remaja. Ada yang ngedadak jadi getol dateng ke sekolah en rajin belajar. Rela datang lebih awal ke sekolah. Tujuannya, biar bisa berlama-lama dengan sang gacoan. Maklum, kalo di sekolah sang gebetan ada, rasanya muncul semangat untuk belajar. Ah, yang benar nih? Jangan ngigau begitu, ah!
Benarkah pacaran bisa tambah semangat belajar? Naga-naganya sih alasan itu cuma direkayasa. Coba aja kamu pikirin, gimana bisa belajar jadi getol kalo di sekolah aja yang diingetin cuma kekasihnya. Boleh jadi pelajaran yang diikuti di kelas memantul sempurna, karena otaknya udah full dengan memori tentang sang kekasih hati. Lagi pula, yang berhasil jadi juara kelas or juara umum di sekolah bukan karena mereka pacaran. Kalo memang pacaran nambah semangat untuk belajar, harusnya semua yang pacaran tambah pinter, karena belajar terus. Buktinya? Justru yang pacaran selalu bermasalah dalam belajarnya.
Memang sih ada satu-dua yang pacaran tapi prestasinya tetep bagus. Tapi itu bukan jadi alasan lho untuk kamu teladani. Sebab, puluhan, atau mungkin ratusan remaja yang pacaran, justru prestasi akademiknya jeblok. Yang pinter itu pun, karena emang otaknya tokcer banget. Selain memang mereka nggak nafsu-nafsu amat untuk pacaran. Karena doi biasanya lebih mementingkan belajar. Nah lho?
Jadi, emang nggak ada pengaruh secara signifikan sih antara pacaran dan prestasi belajar. Nggak ada. Itu mah, cuma alasan klise alias dibuat-buat aja untuk melegalkan ajang baku syahwat yang dilarang itu. Tapi sejujurnya, pendapat kita neh, yang udah-udah, makin kuat pacarannya, biasanya malah makin malas belajarnya. Ngaku aja deh. (Idih kayak interogasi aja ya? He...he…he..)
Tapi terlepas dari itu semua, entah pacaran itu bisa menumbuhkan semangat belajar atau malah memadamkan semangat belajar, tetep aja perbuatan tersebut haram untuk dilakukan. Karena ukuran manfaat dan mafsadat (keburukan) bukan dinilai oleh kita. Kita, kaum muslim, diajarkan untuk melakukan perbuatan yang ihsan. Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Baik niat maupun caranya. Dua-duanya kudu sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah Swt.: “...supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (TQS al-Mulk [67] : 2)
Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.”
Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”
Nah, meskipun niatnya bagus untuk menambah semangat belajar (mungkin ikhlas karena Allah), tapi pacaran adalah perbuatan maksiat. Jadi nggak klop tuh. Nah lho?
Menertawakan pacaran
Sobat muda muslim, kalo melihat teman-teman kamu yang pacaran, kita suka geli dan lucu lho. Kita tertawa. Bener. Abisnya, teman remaja yang aktivis berat pacaran adalah tipe manusia yang suka ngakalin gitu lho. Sebab, alasan-alasan utama mereka berpacaran justru semuanya klise. Intinya, semua itu cuma direkayasa untuk melegalkan aktivitas baku syahwat terlarang itu. Bener. Kagak bohong!
Oke deh, singkat kata, bagi kamu yang masih aktif pacaran, segera melakukan pembenahan; putusin aja pacar kamu. Pelajari Islam. Yakinlah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kamu. Nggak usah ragu, jodoh di tangan Allah, bukan di tangan hansip (maksudnya kalo kamu kepergok lagi “begituan” sama hansip, he..he..he..).
Bagi kamu yang belum terjun ke dalam aktivitas ini, hindari segala peluang yang bakal menyeret kamu ke dalam pergaulan bebas ini. Pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Insya Allah itu bakal meredam keinginan kamu terhadap aktivitas gaul bebas yang emang berbahaya dan dosa itu.
Firman Allah Swt: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS an-Nûr [24]: 30).
Sobat, pacaran adalah salah satu pemenuhan yang salah dari naluri mempertahankan jenis. Sebab, pemenuhan dan penyaluran yang sah menurut Islam adalah dengan menikah. Sabda Rasulullah saw.: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu memiliki kemampuan untuk menikah, maka nikahlah, sebab nikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; tetapi barangsiapa belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung” (HR Bukhari)
Jadi, jangan pada nekat pacaran ya? Pacaran itu nggak ada manfaatnya sama sekali. Kalo pun mungkin ada ‘manfaat’, tapi itu biasanya cuma diukur dengan penilaian hawa nafsu kita, bukan berdasarkan aturan Allah Swt. Kalo kamu nekat pacaran? Huahaha… udah kuno, norak, dosa lagi. Amit-amit deh. Tinggalin ya..!? sumber : Buletin studia

Sori, dengan judul seperti ini bukan maksud kita mau ngeledekin kamu-kamu yang pacaran, tapi kita mau menertawakan kamu-kamu yang pacaran. Lho, sama aja atuh ya? Jangan bingung begitu deh, karena memang itulah faktanya. Pacaran, adalah aktivitas yang udah kuno. Mungkin bukan saja kuno, tapi sekaligus norak. Bener lho.
Kenapa sih? Islam, sebagai agama ‘modern’ dan mencerahkan pemikiran, selalu memberikan yang terbaik untuk pemeluknya. Misalnya saja, di jaman purbakala, saat manusia terbiasa buligir, alias kagak make sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya, Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Jilbab salah satunya, adalah ajaran Islam yang memberikan kehormatan kepada kaum wanita dalam berpakaian. Jadi, kalo sekarang masih ada anak puteri yang kagak pake jilbab, itu artinya masih ‘kagum’ dengan kebudayaannya Homo Soloensis dan Pythecantropus Erectus yang masih primitif, alias kuno. Gubrag! (yang tersinggung dilarang bangga) ?
Lha, pacaran apa hubungannya dengan kuno dan modern? Sabar dulu sobat. Begini, sebelum Islam datang sebagai agama penyempurna bagi kehidupan manusia, kehidupan di masa jahiliyah dulu rusak banget. Salah satunya dalam pergaulan. Mungkin, kalo kita mau kejam, seperti dunia binatang. Kok bisa sih? Iya, soalnya hubungan antara pria dan wanita di masa jahiliyah dulu kagak ada aturannya. Main seruduk, main selonong sana selonong sini. Suka-suka aja gitu lho. Waduh!
Sobat muda muslim, itulah sebabnya kenapa kita bilang bahwa pacaran adalah aktivitas kuno dan sekaligus norak. Lihat saja model gaul anak muda sekarang (termasuk paling banyak di antaranya adalah remaja muslim) makin tak terkendali alias liar banget. Kata seorang teman, remaja sekarang dalam bergaul dengan lawan jenisnya menggunakan prinsip 3T; ta’aruf (saling mengenal), taqarrub (saling mendekat), dan tak tubruk (terjemahkan dan tafsirkan sendiri deh, he..he..he..). mentang-mentang saling cinta dan saling sayang, lalu merasa halal aja main elus, main peluk, main tendang, main cekik, dan main banting (smackdown kali yee…? He..he..he..) Jadi, pacaran memang aktivitas yang deket-deket banget dengan z-i-n-a. Naudzubillahi min dzalik!
Benar banget sobat, kita ngeri deh dengan perkembangan gaul remaja sekarang. Remaja yang awam memang paling banyak melakukan aktivitas baku syahwat yang diharamkan Islam ini, but nggak sedikit yang ngakunya anak masjid juga jadi aktivis pacaran. Wackss… kacau-beliau dong? Begitulah…
Hmm…, kamu yang masih pacaran dan lagi seneng-senengnya bermesraan bareng gandengan kamu, pastinya bakalan sutris baca tulisan ini. Mungkin juga tuh sumpah serapah bakalan keluar dalam mulut kamu. Tapi inget sobat, justru lebih parah kalo kagak ada yang mau susah payah ngingetin kita-kita. Sebab, sebagai manusia kita selalu nggak lepas dari kesalahan. Di sinilah perlunya kita saling menasihati dan ngingetin satu sama lain. Tul nggak? Jadi, jangan marah ya kalo kita ngingetin kamu, meski dengan sindiran.
Kenapa sih pada pengen pacaran?
Bener. Kenapa sih kamu-kamu pada pengen ngelakuin pacaran? Apa enaknya pacaran? He..he..he.. jangan bingung dulu Mas, kita coba bantu ngasih bocorannya. Ada beberapa alasan yang bisa kita telusuri di balik maraknya aktivitas ilegal dalam ajaran Islam ini:
Pertama, biar disebut dewasa. Banyak teman remaja yang melakukan pacaran, biar disebut udah dewasa. Maklum aja, aktivitas baku syahwat itu kayaknya ganjil banget kalo dilakukan oleh bocah cilik. Selain ganjil, anak kecil nggak pantes ngelakuin pacaran.
Sobat muda, secara biologis boleh jadi kamu dewasa. Kamu yang cowok udah mimpi basah, tubuhmu udah mulai memproduksi sel sperma, suaramu pun udah berubah jadi berat, udah tumbuh rambut di sana-sini, jakunmu pun mulai kelihatan. Kamu yang puteri, sudah mulai haidh, tubuhmu udah memproduki sel telur, beberapa bagian tubuh mengalami pertumbuhan pesat. Itu secara fisik. Dan itu nggak salah kamu disebut dewasa.
Tapi, ukuran dewasa nggak selalu ditentukan dengan perubahan fisikmu, tapi ditentukan pula dengan cara kamu berpikir dan cara kamu bersikap. Nah, dewasa dalam berpikir dan bersikap harus kamu miliki juga dong. Sebab, banyak orang mengaku udah dewasa, tapi ternyata nggak bisa atau belum bisa berpikir dewasa. Seperti apa sih berpikir dewasa? Kamu berani bertanggung jawab dan bisa menentukan masa depan kamu sendiri. Dengan cara yang benar tentunya. Itu baru dewasa.
Itu sebabnya, kalo kamu menganggap bahwa untuk bisa dikatakan udah dewasa adalah dengan melakukan pacaran, berarti kamu sebetulnya belum bisa dikatakan dewasa, terutama dalam berpikir dan bersikap. Why? Sebab, aktivitas pacaran jelas mendekati zina. Dan itu dosa. Jika kamu masih tetap melakukannya, itu artinya kamu belum tahu arti sebuah kedewasaan. Padahal, orang yang berpikir dan bersikap dewasa, akan lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Nggak asal jalan aja. Tapi penuh perhitungan, bila perlu mengkalkulasi untung-rugi dari sebuah perbuatan yang kamu lakukan. Sebab, itulah yang namanya bertanggungjawab. Lha, yang pacaran? Rata-rata cuma seneng-seneng aja tuh. Berarti nggak punya prinsip dong? Berarti belum dewasa dong? Tepat. Kejam amat ya? ?
Kedua, having fun. Walah, ini juga asal-asalan. Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi. Banyak teman remaja yang mengaku bahwa alasan melakukan pacaran sekadar having fun aja. Sekadar bersenang-senang. Nggak punya alasan lain. Barangkali teman remaja yang begitu menganggap bahwa pacaran sekadar hiburan di masa sulit dan obat stres saat menghadapi persoalan hidup.
Bisa jadi, teman-teman remaja yang nggak mendapatkan kasih sayang di rumah, karena kebetulan orangtuanya jarang di rumah, ia nyari kesenangan di luar. Bisa dengan kekasihnya (baca: pacaran), bisa juga lari ke minuman keras dan narkoba. Di rumah sumpek, maka pelampiasan untuk mencari kesenangannya lewat pacaran. Pacaran sering diyakini sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres. Gimana nggak senang, wong, jalan berdua, mojok berdua, bisa curhat, bisa menikmati hidup ini dengan nyaman dan tenang.
Benarkah pacaran selalu memberikan kesenangan? Ternyata nggak tuh. Banyak pasangan yang pacaran justru cek-cok melulu. Belum lagi kalo beda ambisi. Maklum masih pada muda, emosinya masih meletup-letup. Jadi, gimana mau senang-senang jika tiap hari ‘panas’ melulu. Nggak banyak sih yang begitu, tapi tetap, bahwa alasan berpacaran semata untuk having fun, juga nggak dibenarkan. Baik secara hitung-hitungan logika, apalagi hukum syara.
Ketiga, pacar sebagai motivator dan katalisator. Duh, emangnya pacaran sejenis suplemen, pake menambah semangat segala? Tapi itulah yang terjadi. Alasan yang asal-asalan memang. Namun inilah yang juga banyak diakui teman remaja. Ada yang ngedadak jadi getol dateng ke sekolah en rajin belajar. Rela datang lebih awal ke sekolah. Tujuannya, biar bisa berlama-lama dengan sang gacoan. Maklum, kalo di sekolah sang gebetan ada, rasanya muncul semangat untuk belajar. Ah, yang benar nih? Jangan ngigau begitu, ah!
Benarkah pacaran bisa tambah semangat belajar? Naga-naganya sih alasan itu cuma direkayasa. Coba aja kamu pikirin, gimana bisa belajar jadi getol kalo di sekolah aja yang diingetin cuma kekasihnya. Boleh jadi pelajaran yang diikuti di kelas memantul sempurna, karena otaknya udah full dengan memori tentang sang kekasih hati. Lagi pula, yang berhasil jadi juara kelas or juara umum di sekolah bukan karena mereka pacaran. Kalo memang pacaran nambah semangat untuk belajar, harusnya semua yang pacaran tambah pinter, karena belajar terus. Buktinya? Justru yang pacaran selalu bermasalah dalam belajarnya.
Memang sih ada satu-dua yang pacaran tapi prestasinya tetep bagus. Tapi itu bukan jadi alasan lho untuk kamu teladani. Sebab, puluhan, atau mungkin ratusan remaja yang pacaran, justru prestasi akademiknya jeblok. Yang pinter itu pun, karena emang otaknya tokcer banget. Selain memang mereka nggak nafsu-nafsu amat untuk pacaran. Karena doi biasanya lebih mementingkan belajar. Nah lho?
Jadi, emang nggak ada pengaruh secara signifikan sih antara pacaran dan prestasi belajar. Nggak ada. Itu mah, cuma alasan klise alias dibuat-buat aja untuk melegalkan ajang baku syahwat yang dilarang itu. Tapi sejujurnya, pendapat kita neh, yang udah-udah, makin kuat pacarannya, biasanya malah makin malas belajarnya. Ngaku aja deh. (Idih kayak interogasi aja ya? He...he…he..)
Tapi terlepas dari itu semua, entah pacaran itu bisa menumbuhkan semangat belajar atau malah memadamkan semangat belajar, tetep aja perbuatan tersebut haram untuk dilakukan. Karena ukuran manfaat dan mafsadat (keburukan) bukan dinilai oleh kita. Kita, kaum muslim, diajarkan untuk melakukan perbuatan yang ihsan. Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Baik niat maupun caranya. Dua-duanya kudu sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah Swt.: “...supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (TQS al-Mulk [67] : 2)
Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.”
Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”
Nah, meskipun niatnya bagus untuk menambah semangat belajar (mungkin ikhlas karena Allah), tapi pacaran adalah perbuatan maksiat. Jadi nggak klop tuh. Nah lho?
Menertawakan pacaran
Sobat muda muslim, kalo melihat teman-teman kamu yang pacaran, kita suka geli dan lucu lho. Kita tertawa. Bener. Abisnya, teman remaja yang aktivis berat pacaran adalah tipe manusia yang suka ngakalin gitu lho. Sebab, alasan-alasan utama mereka berpacaran justru semuanya klise. Intinya, semua itu cuma direkayasa untuk melegalkan aktivitas baku syahwat terlarang itu. Bener. Kagak bohong!
Oke deh, singkat kata, bagi kamu yang masih aktif pacaran, segera melakukan pembenahan; putusin aja pacar kamu. Pelajari Islam. Yakinlah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kamu. Nggak usah ragu, jodoh di tangan Allah, bukan di tangan hansip (maksudnya kalo kamu kepergok lagi “begituan” sama hansip, he..he..he..).
Bagi kamu yang belum terjun ke dalam aktivitas ini, hindari segala peluang yang bakal menyeret kamu ke dalam pergaulan bebas ini. Pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Insya Allah itu bakal meredam keinginan kamu terhadap aktivitas gaul bebas yang emang berbahaya dan dosa itu.
Firman Allah Swt: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS an-Nûr [24]: 30).
Sobat, pacaran adalah salah satu pemenuhan yang salah dari naluri mempertahankan jenis. Sebab, pemenuhan dan penyaluran yang sah menurut Islam adalah dengan menikah. Sabda Rasulullah saw.: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu memiliki kemampuan untuk menikah, maka nikahlah, sebab nikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; tetapi barangsiapa belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung” (HR Bukhari)
Jadi, jangan pada nekat pacaran ya? Pacaran itu nggak ada manfaatnya sama sekali. Kalo pun mungkin ada ‘manfaat’, tapi itu biasanya cuma diukur dengan penilaian hawa nafsu kita, bukan berdasarkan aturan Allah Swt. Kalo kamu nekat pacaran? Huahaha… udah kuno, norak, dosa lagi. Amit-amit deh. Tinggalin ya..!? sumber : Buletin studia

Jumat, 18 Desember 2015

Setelah mengenal SAP 2000, Selanjutnya kita akan membahas rangka batang, kalau kita ingat-ingat waktu kuliah, mengerjakan rangka batang dalam perhitungan atap ditemukan pada matakuliah Mekanika Rekayasa II, dalam perhitungan tersebut kita dikenalkan bagaimana cara menghitung rangka tersebut dengan berbagai macam metode, mulai dari metode titik buhul, cremona dll... memang lumayan melelahkan perhitungan ini, kita harus mencari batang tekan dan tarik dari setiap beban yang ada, mulai dari beban mati, beban hidup dan beban angin... padahal dalam satu rangka bisa mencapai lebih dari 10 titik buhul... luamyan buat latihan otak sih... hehe... oleh karena itu untuk memudahkan temaan-temaan semua, saya sediakan e-book mengenai perhitungan rangka batang dengan bantuan prgrm SAP 2000... monggo di download materinya... area download

Setelah mengenal SAP 2000, Selanjutnya kita akan membahas rangka batang, kalau kita ingat-ingat waktu kuliah, mengerjakan rangka batang dalam perhitungan atap ditemukan pada matakuliah Mekanika Rekayasa II, dalam perhitungan tersebut kita dikenalkan bagaimana cara menghitung rangka tersebut dengan berbagai macam metode, mulai dari metode titik buhul, cremona dll... memang lumayan melelahkan perhitungan ini, kita harus mencari batang tekan dan tarik dari setiap beban yang ada, mulai dari beban mati, beban hidup dan beban angin... padahal dalam satu rangka bisa mencapai lebih dari 10 titik buhul... luamyan buat latihan otak sih... hehe... oleh karena itu untuk memudahkan temaan-temaan semua, saya sediakan e-book mengenai perhitungan rangka batang dengan bantuan prgrm SAP 2000... monggo di download materinya... area download

Seiring dengan perkembangan teknologi sekarang ini, secara otomatis tuntutan penggunaan teknologi mutlak diperlukan, berbagai macam dampak perkembangan teknologi adalah munculnya berbagai software, baik pada bidang desain grafis maupun pada bidang Perencanaan bangunan, adapun salah satu wujud teknologi pada bidang perencanaan adalah SAP (Structural Analysis Program), yang mana SAP ini adalah program yang digunakan untuk menganalisis dan mendesain suatu struktur.
Program SAP merupakan program yang berasal dari Universitas of California at Berkeley, USA sekitar tahun 1970, dari tahun ketahun SAP mengalami perkembangan yang cukup berarti, dari SAP yang bisa dijalankan pada program DOS hingga sekarang sudah sampai ke program window, Maka Untuk melayani keperluan komersial dari program SAP pada tahun 1975 dibentuklah perusahaan Komputer yang diberi nama, CSi (Computer and structure,Inc). Program SAP2000 ini memiliki beberapa kelebihan, terutama dalam perancangan struktur baja dan beton, dalam perancangan struktur baja SAP2000 dapat merancang elemen struktur dengan menggunakan profil baja yang optimal dan seekonomis mungkin, sehingga dalam penggunaanya tidak perlu menentukan elemen awal dengan profil pilihannya, tetapi cukup memberikan data profil dari database yang ada pada SAP2000, dan ini hanya berlaku untuk perancangan struktur baja, sedangkan untuk perancangan struktur beton kita tetap harus menentukan elemen awal sebagai asumsi awal perancangan yang kemudian nanti diperoleh luas tulangan totalnya.
Untuk mengenaal SAP 2000 lebih dalam anda bisa mendownload e-book Pengenalan SAP 2000 berikut ini... monggo download

Seiring dengan perkembangan teknologi sekarang ini, secara otomatis tuntutan penggunaan teknologi mutlak diperlukan, berbagai macam dampak perkembangan teknologi adalah munculnya berbagai software, baik pada bidang desain grafis maupun pada bidang Perencanaan bangunan, adapun salah satu wujud teknologi pada bidang perencanaan adalah SAP (Structural Analysis Program), yang mana SAP ini adalah program yang digunakan untuk menganalisis dan mendesain suatu struktur.
Program SAP merupakan program yang berasal dari Universitas of California at Berkeley, USA sekitar tahun 1970, dari tahun ketahun SAP mengalami perkembangan yang cukup berarti, dari SAP yang bisa dijalankan pada program DOS hingga sekarang sudah sampai ke program window, Maka Untuk melayani keperluan komersial dari program SAP pada tahun 1975 dibentuklah perusahaan Komputer yang diberi nama, CSi (Computer and structure,Inc). Program SAP2000 ini memiliki beberapa kelebihan, terutama dalam perancangan struktur baja dan beton, dalam perancangan struktur baja SAP2000 dapat merancang elemen struktur dengan menggunakan profil baja yang optimal dan seekonomis mungkin, sehingga dalam penggunaanya tidak perlu menentukan elemen awal dengan profil pilihannya, tetapi cukup memberikan data profil dari database yang ada pada SAP2000, dan ini hanya berlaku untuk perancangan struktur baja, sedangkan untuk perancangan struktur beton kita tetap harus menentukan elemen awal sebagai asumsi awal perancangan yang kemudian nanti diperoleh luas tulangan totalnya.
Untuk mengenaal SAP 2000 lebih dalam anda bisa mendownload e-book Pengenalan SAP 2000 berikut ini... monggo download

Kamu udah dewasa kan? Kalo belum, pertanyaan di judul ini kayaknya perlu dijawab dengan tegas. Tapi saya rasa kamu yang pada baca buletin ini sudah banyak yang dewasa. Ayo, ngaku aja (bukan nuduh lho, tapi ini sekadar menegaskan). Eh, tapi nggak salah juga kalo ada yang baca buletin ini masih belum dewasa alias belum baligh, misalnya anak SD dan SMP. Silakan aja.
Sobat muda, kalo lihat tayangan televisi di sudut kiri atas atau kadang di bawah kiri (tergantung maunya masing-masing pengelola televisi sih) biasanya suka tercantum lambang: “Dewasa” dengan huruf “D”, “Bimbingan Orangtua” dengan ikon “BO”, dan “Anak-anak” ditulisi dengan ikon “A”; malah ada juga tontonan satu untuk semua—”SU” alias Semua Umur. Meski efektifitasnya juga masih belum terbukti dengan bagus.
Oya, konon kabarnya pelabelan itu sebagai bentuk kepedulian pihak penyelenggara siaran untuk mengelompokkan pemirsanya. Jadi, mereka merasa bahwa dengan memberikan panduan seperti itu para orangtua bisa memantau anak-anaknya dalam menonton tayangan televisi. Misalnya, kalo sebuah tayangan tercantum lambang “Dewasa”, maka ortu berhak menegur anaknya atau memintanya dengan cepat untuk mengalihkan ke chanel lain. Nah, kamu termasuk kelompok yang mana nih? Udah dewasa belum? (jawab dalam hati aja ya… soalnya ada juga yang udah bangkotan tapi masih seneng film kartun—yee apa hubungannya? Emangnya film kartun khusus anak? Nggak juga kan?—ini kok malah ngelantur kemana-mana)
Oya, sebenarnya dalam “kamus” ajaran Islam tak dikenal istilah remaja. Ajaran Islam dalam menilai manusia itu hanya dengan dua kriteria: anak-anak dan dewasa. Perubahan dari dunia anak-anak menjadi dewasa ditandai dengan perubahan pada hormon-hormon seksualnya, seperti pada anak laki-laki sudah mengalami ihtilam (mimpi basah, yakni pas mimpi keluar sperma, bukan karena diguyur air se-ember). Buat anak perempuan sudah mulai haid alias datangnya ‘tamu bulanan’. Dalam Islam, kejadian itu dikenal dengan istilah sudah “baligh”.
Nah, jika sudah baligh, berarti ia sudah terbebani hukum (mukallaf). Artinya, segala perbuatannya dalam menjalani kehidupan ini akan dicatat. Jika berbuat baik, pahala ganjarannya, jika berbuat salah, dosa yang ia dapat. Tapi jika masih anak-anak, tak akan dinilai baik atau buruk, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Diangkat pena dari tiga orang; orang yang tidur sampai ia bangun, anak hingga baligh, dan orang yang gila sampai ia sembuh.” “Pengangkatan pena” (tidak dicatat amalnya)dari mereka maksudnya adalah mereka bukanlah mukallaf secara syar’i.
Mengenal pubertas
Rasanya nggak ada salahnya jika teman remaja mengenal masa-masa ini. Bahkan mungkin sangat perlu, karena emang berkaitan dengan kehidupan kita sendiri. Nah, dalam perkembangan fisik dan jiwa manusia, para pakar psikologi mengenalkan istilah “masa pubertas” atau puber. Omong-omong, pada usia berapa sih remaja mengalami pubertas?
Menurut para ahli perkembangan jiwa, usia remaja mengalami pubertas adalah pada usia 14 - 16 tahun. Masa ini disebut juga “masa remaja awal”, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Catet, bukan anak-anak lagi, lho.
Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama.
Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri. Itu sebabnya, cenderung semau gue.
Kesalahan berpikir
Seringkali para orangtua menilai bahwa remaja yang berbuat “aneh” dan bahkan terkesan nakal dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dianggap biasa saja. Misalnya, ketika ada temen-temen remaja yang mengecat rambutnya pakai pylox disikapi bahwa itu bagian dari perkembangan jaman. Melihat remaja yang asyik berpacaran, tak merasa bahwa itu membahayakan. Apalagi sampai berdalil, “Saya juga dulu seperti itu...” Wah, musibah besar namanya nih kalo ada ortu yang berpikiran kayak gitu.
Nggak hanya itu, seringkali juga para orangtua secara umum membiarkan bebas anak remajanya untuk berbuat sesukanya dengan alasan bahwa itu bagian dari upaya mencari jadi diri. Kalo dikekang, bisa berbahaya. Nah, jika dikekang bisa berbahaya, apakah ada jaminan kalo dibiarkan bebas sesukanya tidak akan membahayakan? Betul ndak?
Sobat muda muslim, kesalahan berpikir seperti ini nggak cuma ada di kalangan para orangtua, tapi juga di antara kita sendiri. Yup, kita sendiri seringkali menganggap enteng masalah. Bahkan kesannya mengampuni diri sendiri dan memiliki standar ganda dalam menilai satu masalah. Aneh banget kan? Misalnya, ketika terlibat tawuran kita bilang ke temen-temen dan ke orang-orang bahwa kita sebagai remaja pemberani. Ketika kita pacaran, kita bilang ke siapa pun bahwa kita sudah dewasa. Udah gede. Tapi ketika ada razia KTP atau kena batunya pas digiring ke kantor polisi, kita ngaku-ngaku masih anak-anak. Biar nggak kena sanksi alias hukuman. Gimana nih?
Kondisi seperti ini kalo boleh dibilang sebagai “kedewasaan yang menjanin” dan masa kanak-kanak yang “menua”. Artinya, masa remaja adalah masa transisi. Lepas dari masa kanak-kanak dan masuk (tapi belum semuanya) ke masa dewasa. Jadi masih bisa berubah-ubah alias belum stabil. Di sinilah perlunya bimbingan yang benar dan arahan yang jelas dan pasti. Tidak dikekang, tapi juga tidak dibiarkan liar. Sehingga tidak terjadi kesalahan dalam berpikir. Baik bagi para orangtua yang menilai perilaku remaja, maupun bagi teman remja itu sendiri. Karena apa? Karena kesalahan dalam berpikir akan membawa dampak yang parah pada penilaian dan penanganan kasus yang terjadi di kalangan remaja. Contohnya, untuk tindak kriminal remaja, polisi biasanya tidak bisa memberi hukuman seperti kepada orang dewasa. Bahkan cenderung hanya memberi sanksi ringan. Padahal, dalam Islam, jika sudah baligh ya sudah masuk kategori dewasa. Jadi jelas sudah terbebani hukum. Dia wajib melaksanakan perintah dan wajib pula menghindari larangan yang diatur dalam ajaran agama.
         
Bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’
Nah, ngomongin tentang kedewasaan, jadi teringat sebuah semboyan iklan rokok yang berbunyi, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Cukup bagus dan menyegarkan. Kenapa? Karena usia tua itu pasti, tapi soal kedewasaan berpikir belum tentu berbanding lurus dengan usianya. Sebaliknya, meski masih usia 17-an (setelah baligh), tapi sudah dewasa secara pikiran. Itulah kenapa dewasa itu disebut sebagai pilihan. Karena apa? Karena memang bisa dipilih. Bisa diupayakan untuk ‘mengatur’ diri ini dengan hiasan amal kita. Amal yang baik, atau amal yang buruk. Tapi, sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib banget untuk memilih jalan hidup dan amal perbuatan yang memang dibenarkan oleh Islam. Oke?
Dalam pandangan Islam, dewasa tidak hanya ditinjau dari perubahan secara biologis, tapi juga pola berpikir. Itu sebabnya, jika seorang remaja sudah berpikir dewasa, maka ia akan tahu arti tanggung jawab, meminta maaf, berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang untuk agama, patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, taat pada aturan Allah Swt. dsb. Jika masih gemar melakukan kemaksiatan, berarti belum dewasa secara pikiran. Padahal, secara biologis sudah sangat dewasa, gitu lho.
Itu sebabnya, seringkali kita saksikan dalam kehidupan nyata ada orang yang masih betah berbuat maksiat. Padahal, umurnya sih udah menjelang “maghrib” alias udah sepuh. Kepada model orang yang seperti ini, kita bisa bilang bahwa dia belum dewasa. Secara fisik memang udah dewasa, tapi secara pemikiran dan perbuatannya masih “anak-anak”. Cemen deh!
Sobat muda muslim, dengan kata lain, bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’ di tubuh sebagai ukuran untuk menilai sebuah kedewasaan. Terlalu sederhana. Karena dalam Islam, selain ukuran fisik, cara berpikir dan apa yang dilakukan juga harus masuk penilaian.
Menyiapkan diri jadi dewasa
Karena menjadi dewasa adalah sebuah “pilihan”, maka tentunya harus direkayasa alias disiapkan. Nggak bisa dibiarkan alami. Karena memang jadi dewasa dalam cara berpikir itu bukan kebetulan, tapi pilihan. Itu sebabnya, ada pelatihannya juga. Memang sih, model pelatihannya nggak perlu dibuat semacam jenjang akademik, tapi melalui “schooling society” (sekolah kehidupan). Di sinilah kita belajar. Istilahnya,  “learning society”. Belajar dari masyarakat.
Kita bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman Rasulullah saw. Banyak para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada Islam sangat besar. Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena kondisi kehidupannya mendukung. “Sekolah kehidupan” telah mengajarkan dan membentuk kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika sekarang banyak remaja yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik, itu juga karena model kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak benar. Gimana pun juga, individu itu pasti akan terwarnai oleh kondisi masyarakat. Kalo masyarakatnya rusak seperti sekarang, kayaknya udah alhamdulillah banget kalo masih ada remaja yang selamat kepribadiannya.
Sobat muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)
Nah, untuk memudahkan kita dalam berpikir dan berbuat dewasa dalam pandangan Islam, wajib juga adanya peran besar dari negara untuk mewujudkannya. Seperti apa? Misalnya, negara harus mengawasi isi media massa untuk remaja. Kalo merusak, tegur. Bila bandel, beri sanksi. Terus, rajin juga ngasih pembinaan mental. Setuju? Sumber ; buletin studia

Kamu udah dewasa kan? Kalo belum, pertanyaan di judul ini kayaknya perlu dijawab dengan tegas. Tapi saya rasa kamu yang pada baca buletin ini sudah banyak yang dewasa. Ayo, ngaku aja (bukan nuduh lho, tapi ini sekadar menegaskan). Eh, tapi nggak salah juga kalo ada yang baca buletin ini masih belum dewasa alias belum baligh, misalnya anak SD dan SMP. Silakan aja.
Sobat muda, kalo lihat tayangan televisi di sudut kiri atas atau kadang di bawah kiri (tergantung maunya masing-masing pengelola televisi sih) biasanya suka tercantum lambang: “Dewasa” dengan huruf “D”, “Bimbingan Orangtua” dengan ikon “BO”, dan “Anak-anak” ditulisi dengan ikon “A”; malah ada juga tontonan satu untuk semua—”SU” alias Semua Umur. Meski efektifitasnya juga masih belum terbukti dengan bagus.
Oya, konon kabarnya pelabelan itu sebagai bentuk kepedulian pihak penyelenggara siaran untuk mengelompokkan pemirsanya. Jadi, mereka merasa bahwa dengan memberikan panduan seperti itu para orangtua bisa memantau anak-anaknya dalam menonton tayangan televisi. Misalnya, kalo sebuah tayangan tercantum lambang “Dewasa”, maka ortu berhak menegur anaknya atau memintanya dengan cepat untuk mengalihkan ke chanel lain. Nah, kamu termasuk kelompok yang mana nih? Udah dewasa belum? (jawab dalam hati aja ya… soalnya ada juga yang udah bangkotan tapi masih seneng film kartun—yee apa hubungannya? Emangnya film kartun khusus anak? Nggak juga kan?—ini kok malah ngelantur kemana-mana)
Oya, sebenarnya dalam “kamus” ajaran Islam tak dikenal istilah remaja. Ajaran Islam dalam menilai manusia itu hanya dengan dua kriteria: anak-anak dan dewasa. Perubahan dari dunia anak-anak menjadi dewasa ditandai dengan perubahan pada hormon-hormon seksualnya, seperti pada anak laki-laki sudah mengalami ihtilam (mimpi basah, yakni pas mimpi keluar sperma, bukan karena diguyur air se-ember). Buat anak perempuan sudah mulai haid alias datangnya ‘tamu bulanan’. Dalam Islam, kejadian itu dikenal dengan istilah sudah “baligh”.
Nah, jika sudah baligh, berarti ia sudah terbebani hukum (mukallaf). Artinya, segala perbuatannya dalam menjalani kehidupan ini akan dicatat. Jika berbuat baik, pahala ganjarannya, jika berbuat salah, dosa yang ia dapat. Tapi jika masih anak-anak, tak akan dinilai baik atau buruk, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Diangkat pena dari tiga orang; orang yang tidur sampai ia bangun, anak hingga baligh, dan orang yang gila sampai ia sembuh.” “Pengangkatan pena” (tidak dicatat amalnya)dari mereka maksudnya adalah mereka bukanlah mukallaf secara syar’i.
Mengenal pubertas
Rasanya nggak ada salahnya jika teman remaja mengenal masa-masa ini. Bahkan mungkin sangat perlu, karena emang berkaitan dengan kehidupan kita sendiri. Nah, dalam perkembangan fisik dan jiwa manusia, para pakar psikologi mengenalkan istilah “masa pubertas” atau puber. Omong-omong, pada usia berapa sih remaja mengalami pubertas?
Menurut para ahli perkembangan jiwa, usia remaja mengalami pubertas adalah pada usia 14 - 16 tahun. Masa ini disebut juga “masa remaja awal”, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Catet, bukan anak-anak lagi, lho.
Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama.
Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri. Itu sebabnya, cenderung semau gue.
Kesalahan berpikir
Seringkali para orangtua menilai bahwa remaja yang berbuat “aneh” dan bahkan terkesan nakal dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dianggap biasa saja. Misalnya, ketika ada temen-temen remaja yang mengecat rambutnya pakai pylox disikapi bahwa itu bagian dari perkembangan jaman. Melihat remaja yang asyik berpacaran, tak merasa bahwa itu membahayakan. Apalagi sampai berdalil, “Saya juga dulu seperti itu...” Wah, musibah besar namanya nih kalo ada ortu yang berpikiran kayak gitu.
Nggak hanya itu, seringkali juga para orangtua secara umum membiarkan bebas anak remajanya untuk berbuat sesukanya dengan alasan bahwa itu bagian dari upaya mencari jadi diri. Kalo dikekang, bisa berbahaya. Nah, jika dikekang bisa berbahaya, apakah ada jaminan kalo dibiarkan bebas sesukanya tidak akan membahayakan? Betul ndak?
Sobat muda muslim, kesalahan berpikir seperti ini nggak cuma ada di kalangan para orangtua, tapi juga di antara kita sendiri. Yup, kita sendiri seringkali menganggap enteng masalah. Bahkan kesannya mengampuni diri sendiri dan memiliki standar ganda dalam menilai satu masalah. Aneh banget kan? Misalnya, ketika terlibat tawuran kita bilang ke temen-temen dan ke orang-orang bahwa kita sebagai remaja pemberani. Ketika kita pacaran, kita bilang ke siapa pun bahwa kita sudah dewasa. Udah gede. Tapi ketika ada razia KTP atau kena batunya pas digiring ke kantor polisi, kita ngaku-ngaku masih anak-anak. Biar nggak kena sanksi alias hukuman. Gimana nih?
Kondisi seperti ini kalo boleh dibilang sebagai “kedewasaan yang menjanin” dan masa kanak-kanak yang “menua”. Artinya, masa remaja adalah masa transisi. Lepas dari masa kanak-kanak dan masuk (tapi belum semuanya) ke masa dewasa. Jadi masih bisa berubah-ubah alias belum stabil. Di sinilah perlunya bimbingan yang benar dan arahan yang jelas dan pasti. Tidak dikekang, tapi juga tidak dibiarkan liar. Sehingga tidak terjadi kesalahan dalam berpikir. Baik bagi para orangtua yang menilai perilaku remaja, maupun bagi teman remja itu sendiri. Karena apa? Karena kesalahan dalam berpikir akan membawa dampak yang parah pada penilaian dan penanganan kasus yang terjadi di kalangan remaja. Contohnya, untuk tindak kriminal remaja, polisi biasanya tidak bisa memberi hukuman seperti kepada orang dewasa. Bahkan cenderung hanya memberi sanksi ringan. Padahal, dalam Islam, jika sudah baligh ya sudah masuk kategori dewasa. Jadi jelas sudah terbebani hukum. Dia wajib melaksanakan perintah dan wajib pula menghindari larangan yang diatur dalam ajaran agama.
         
Bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’
Nah, ngomongin tentang kedewasaan, jadi teringat sebuah semboyan iklan rokok yang berbunyi, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Cukup bagus dan menyegarkan. Kenapa? Karena usia tua itu pasti, tapi soal kedewasaan berpikir belum tentu berbanding lurus dengan usianya. Sebaliknya, meski masih usia 17-an (setelah baligh), tapi sudah dewasa secara pikiran. Itulah kenapa dewasa itu disebut sebagai pilihan. Karena apa? Karena memang bisa dipilih. Bisa diupayakan untuk ‘mengatur’ diri ini dengan hiasan amal kita. Amal yang baik, atau amal yang buruk. Tapi, sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib banget untuk memilih jalan hidup dan amal perbuatan yang memang dibenarkan oleh Islam. Oke?
Dalam pandangan Islam, dewasa tidak hanya ditinjau dari perubahan secara biologis, tapi juga pola berpikir. Itu sebabnya, jika seorang remaja sudah berpikir dewasa, maka ia akan tahu arti tanggung jawab, meminta maaf, berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang untuk agama, patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, taat pada aturan Allah Swt. dsb. Jika masih gemar melakukan kemaksiatan, berarti belum dewasa secara pikiran. Padahal, secara biologis sudah sangat dewasa, gitu lho.
Itu sebabnya, seringkali kita saksikan dalam kehidupan nyata ada orang yang masih betah berbuat maksiat. Padahal, umurnya sih udah menjelang “maghrib” alias udah sepuh. Kepada model orang yang seperti ini, kita bisa bilang bahwa dia belum dewasa. Secara fisik memang udah dewasa, tapi secara pemikiran dan perbuatannya masih “anak-anak”. Cemen deh!
Sobat muda muslim, dengan kata lain, bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’ di tubuh sebagai ukuran untuk menilai sebuah kedewasaan. Terlalu sederhana. Karena dalam Islam, selain ukuran fisik, cara berpikir dan apa yang dilakukan juga harus masuk penilaian.
Menyiapkan diri jadi dewasa
Karena menjadi dewasa adalah sebuah “pilihan”, maka tentunya harus direkayasa alias disiapkan. Nggak bisa dibiarkan alami. Karena memang jadi dewasa dalam cara berpikir itu bukan kebetulan, tapi pilihan. Itu sebabnya, ada pelatihannya juga. Memang sih, model pelatihannya nggak perlu dibuat semacam jenjang akademik, tapi melalui “schooling society” (sekolah kehidupan). Di sinilah kita belajar. Istilahnya,  “learning society”. Belajar dari masyarakat.
Kita bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman Rasulullah saw. Banyak para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada Islam sangat besar. Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena kondisi kehidupannya mendukung. “Sekolah kehidupan” telah mengajarkan dan membentuk kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika sekarang banyak remaja yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik, itu juga karena model kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak benar. Gimana pun juga, individu itu pasti akan terwarnai oleh kondisi masyarakat. Kalo masyarakatnya rusak seperti sekarang, kayaknya udah alhamdulillah banget kalo masih ada remaja yang selamat kepribadiannya.
Sobat muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)
Nah, untuk memudahkan kita dalam berpikir dan berbuat dewasa dalam pandangan Islam, wajib juga adanya peran besar dari negara untuk mewujudkannya. Seperti apa? Misalnya, negara harus mengawasi isi media massa untuk remaja. Kalo merusak, tegur. Bila bandel, beri sanksi. Terus, rajin juga ngasih pembinaan mental. Setuju? Sumber ; buletin studia

Kamis, 17 Desember 2015

Bagi anda yang akan terjun di lapangan... khususnya bidang jalan, berikut ini saya lampirkan peraturan pekerjaan lapis pondasi jalan (Lapis Pondasi Agregat), peraturan ini dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga. Dalam peraturan ini dibahas mengenai Spesifikasi Agregat Kasar Kelas A, B dan C... Monggo... yang mau download peraturannya... link download

Bagi anda yang akan terjun di lapangan... khususnya bidang jalan, berikut ini saya lampirkan peraturan pekerjaan lapis pondasi jalan (Lapis Pondasi Agregat), peraturan ini dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga. Dalam peraturan ini dibahas mengenai Spesifikasi Agregat Kasar Kelas A, B dan C... Monggo... yang mau download peraturannya... link download

Untuk melengkapi tugas bangunan air, biasanya hasil dari perencanaan kita akan dibuatkan dalam bentuk gambar perencanaan, berikut ini saya juga akan lampirkan gambar bendung dalam format autocad, dalam file ini anda bisa merubah dimensi  sesuai hasil perencanaan anda.... enak apa enak hayooo.... yuk langsung saja sedot gan... berikut area untuk unduhannya download 

Untuk melengkapi tugas bangunan air, biasanya hasil dari perencanaan kita akan dibuatkan dalam bentuk gambar perencanaan, berikut ini saya juga akan lampirkan gambar bendung dalam format autocad, dalam file ini anda bisa merubah dimensi  sesuai hasil perencanaan anda.... enak apa enak hayooo.... yuk langsung saja sedot gan... berikut area untuk unduhannya download 

Bagi rekan-rekan mahasiwa teknik, tentu tidak asing lagi tentang tugas besar perencanaan sebagai syarat untuk menempuh sarjana, tugas besar ini kadang mencapai 10 tugas besar, salahsatu tugas besar yang ada diantaranya bangunan air, dalam tugas ini anda akan merencanakan saluran primer, sekunder, sampai bangunan pelengkapnya... berbicara masalah tugas besar perencanaan rasanya melelahkan, apalagi anda tidak punya buku atau tulisan yang menjelaskan tentang tugas besar itu sendiri... santai saja mas... hehe... ga usah panik dulu, di postingan ini saya sediakan contoh tugas besar bangunan air... enak apa enak hayooo....  Berikut ini adalah contoh tampilan isi tugas tersebut
Monggo yang mau download

Bagi rekan-rekan mahasiwa teknik, tentu tidak asing lagi tentang tugas besar perencanaan sebagai syarat untuk menempuh sarjana, tugas besar ini kadang mencapai 10 tugas besar, salahsatu tugas besar yang ada diantaranya bangunan air, dalam tugas ini anda akan merencanakan saluran primer, sekunder, sampai bangunan pelengkapnya... berbicara masalah tugas besar perencanaan rasanya melelahkan, apalagi anda tidak punya buku atau tulisan yang menjelaskan tentang tugas besar itu sendiri... santai saja mas... hehe... ga usah panik dulu, di postingan ini saya sediakan contoh tugas besar bangunan air... enak apa enak hayooo....  Berikut ini adalah contoh tampilan isi tugas tersebut
Monggo yang mau download

Ortu adalah teladan, guru, dan sekaligus pelindung kita. Betapa mulianya jasa mereka membesarkan kita. Dari kecil hingga segede sekarang ini. Apalagi ibu, beliau melindungi kita sejak masih dalam rahimnya sampai saat ini, dan insya Allah sampai akhir hayatnya. Kasih ibu memang sepanjang masa. Nggak pernah luntur di telan jaman. Nggak bakalan pudar dimakan usia. Amat besar cintanya kepada kita. Tinggal bagaimana cinta kita kepada mereka.
Sobat muda muslim, jaman berubah begitu cepatnya. Sampe-sampe kata Bung Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya, “Roda jaman menggilas kita. Terseret tertatih-tatih. Sungguh hidup terus diburu, berpacu dengan waktu…”. Bung Ebiet boleh jadi benar bersenandung begitu. Sebab, jaman kiwari ini, dampak perubahan jaman nggak selamanya berbuah kebaikan. Justru sebaliknya, adakala-nya terjadi perubahan ke arah kerusakan nilai.
Ambil contoh, ada anak yang tega membunuh ortunya. Mungkin masih ingat kejadian beberapa tahun lalu di Medan, seorang anak SMU tega membantai anggota keluarganya; kakaknya, ibu, dan bapaknya. Aduh, entah setan apa yang merasuk dalam benaknya. Tapi yang pasti, energi cinta sang anak yang seharusnya dialirkan kepada ortunya, ternyata sudah habis tak berbekas, hingga tega “mengantarkan” mereka ke liang lahat secara paksa.
Berubahnya gaya hidup yang seperti inilah yang sangat kita khawatirkan, kawan. Di jaman penulis kecil, ortu adalah segalanya. Ayah memelototkan mata saja, tanda nggak suka dengan perbuatan yang penulis lakukan, rasa takut langsung memenuhi pikiran. Nggak berani balik memandang tajam ke arah wajahnya. Nggak. Nggak berani. Dengan ibu juga demikian, setiap kali ibu minta tolong, rasanya kok nggak enak kalo harus menolak. Meski adakalanya juga menolak, tapi kemudian merasa amat bersalah. Entahlah. Tapi yang pasti, penulis melihat itu secara objektif, kok. Sebab banyak juga teman-teman main penulis yang hormat dan patuh pada ortunya. Mungkin saat itu nggak banyak informasi rusak masuk ke rumah-rumah lewat televisi. Ya, bisa jadi. 
Kalo sekarang? Aduh, berubah total ketimbang 20-an atau 30-an tahun ke belakang. Kalo dulu, betapa rasa hormat kepada ortu masih tersimpan di lubuk hati yang paling dalam. Terawat dan terjaga dalam bingkai rasa cinta. Sekarang rasa cinta itu pudar menjadi sikap saling membenci dan penuh rasa curiga.
Hubungan anak dengan ortu aja sekarang makin kendor. Perhatian ortu yang mulai terbelah mungkin bisa menjadi sebab lunturnya kemesraan antara ortu dan anaknya. Gimana nggak, kalo dulu seorang ibu cukup di rumah menjaga anak-anak dan melindungi kehormatan keluarga, sekarang harus ikutan keluar rumah dan bekerja untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Sebab katanya di jaman sekarang nggak cukup cuma mengandalkan tenaga suami. Meski sebetulnya banyak juga para ibu yang terseret arus karena nggak tahu apa-apa. Yang ia tahu hanya satu: emansipasi.
Akibatnya, mudah ditebak,  jarak antara anak dengan ortu menjadi renggang, dan itu banyak menimbulkan masalah. Rasa cinta dan sayang hanya dihargai dengan uang, bukan lagi perhatian dan sikap lemah lembut. Anaknya? Karena diajarkan seperti itu, ia mulai belajar membenci. Jangan heran pula bila kemudian anak menjadi musuh bebuyutan ortunya. Aduh sedih deh!
Sobat muda muslim, rasa sayang tidak bisa hanya diukur dari materi semata. Nggak. samasekali Nggak bisa. Itu sebabnya, dalam tulisan kali ini, kita berupaya merekatkan kembali hubungan antara ortu dan anak yang mulai retak dan hampir lepas. Dan alangkah indahnya bila kita mencoba berinisiatif untuk mencintai mereka. Insya Allah, ortu kita akan terharu dengan sikap kita. Lagipula, untuk berbuat baik, kenapa harus menunggu ortu menyapa kita? Tul nggak? Yap, salurkan energi cinta kita buat mereka. Walau bagaimanapun juga mereka berhak mendapatkannya dari kita. Dan kita, wajib memberikannya. Itu pasti, biar tambah mesra!


Kita lahir karena “cintanya”
Suatu saat nanti, kamu akan tahu sendiri betapa bahagianya punya anak. Ortu kita juga demikian, rasa cinta mereka bersatu dalam ikatan pernikahan, lalu lahirlah kita, anaknya. Sebab rasa cinta adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Buktinya apa? Banyak pasangan yang sudah lama menikah, merasa gelisah bila belum punya anak. Berarti di sini jelas, bahwa cinta berbeda dengan seks dalam pengertian hubungan biologis semata.
Setelah kita lahir, tanggung jawab ortu bertambah, yakni merawat dan membesarkan kita. Dan itu dijalaninya dengan rasa cinta dan sayangnya yang menggunung. Ayah kita rela berpanas-panas dan basah kuyup mencari uang untuk beli susu dan makanan kita. Adakalanya bagi para ayah yang kebetulan kondisi ekonominya termasuk golongan “alit” alias pas-pasan, mereka mencari nafkah harus dengan mengeluarkan keringat, dan bahkan juga darah. Kamu bisa lihat bagaimana para buruh kasar di pabrik, pasar, dan juga pelabuhan. Apa yang bisa kamu bayangkan saat melihat mereka tengah berjuang? Ya, itu bagian dari tanggung jawabnya. Dan jangan lupa, juga bagian dari rasa cinta mereka untuk anak dan istrinya.
Sobat muda muslim, pernahkah kita mengukur rasa cinta kita kepada ortu? Seberapa besar sih rasa cinta kita kepada ortu? Sebab, ada kalanya kita suka itung-itungan dengan ortu kita. Bener nggak? Misalnya, kalo kamu udah jagain adik, kamu suka minta jatah es krim sepulang ibu dari pasar. Apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan beres-beres rumah, ujungnya kita suka minta imbalan uang atau barang lainnya. Malah ada juga di antara teman remaja yang masang “tarif” duluan sebelum bekerja. Kita bersedia melakukan pekerjaan itu, tapi ada syaratnya: ada uang jajannya sebagai “sogokan”. Kalo nggak, kagak pake deh!  Waduh kejamnya!
Ada cerita menarik yang berhubungan dengan tema ini dari buku Chicken Soup for the Soul karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Dikisahkan ada seorang anak yang menyodorkan selembar kertas berisi tulisan semacam tagihan kepada ibu. Isinya: Memotong rumput 5 dolar, membersihkan kamar 1 dolar, pergi ke toko menggantikan ibu 0.5 dolar, menjaga adik waktu ibunya belanja 0.25 dolar, membuang sampah 1 dolar, untuk rapor yang bagus 5 dolar, dan untuk membersihkan dan menyapu halaman 2.99 dolar. Total utang ibu kepadaku: 14.75 dolar.
Si ibu menatap anaknya lekat-lekat, lalu mengambil bolpen, dan kemudian menulis di balik kertas tersebut. Isinya begini: Untuk sembilan bulan ketika Ibu mengandung kamu selama tumbuh dalam perut Ibu, Gratis. Untuk semua malam ketika Ibu menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, Gratis. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah Gratis. Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis. Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, Gratis, Anakku. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati Ibu adalah Gratis.
Setelah itu, si anak berkata kepada ibunya, “Bu, aku sayang sekali sama Ibu.” Dan kemudian si anak mengambil bolpen dan menuliskan dengan huruf besar: “LUNAS”
Nah, ini sekadar contoh aja sobat, betapa kita kadangkala suka itungan banget sama ortu kita. Kita mogok melakukan perintahnya, hanya karena uang jajan belum masuk kantong kita. Jangan lagi deh!  Suer jangan lagi!!.

Wajib menghormati mereka
Emang sih, namanya hidup berdampingan, apalagi ini sama ortu kita, selalu aja ada gesek-gesek dikit itu wajar. Ibarat piring-piring yang kita cuci, selalu aja ada gesekan, sekecil apapun. Namanya juga hidup bersama.
Menghadapi ortu nggak selamanya berjalan sesuai harapan, artinya nggak dapat masalah. Suatu saat bisa jadi kita sama-sama punya kepentingan. Di sinilah akhirnya kita kudu bersikap bijak.  Ya, kita coba untuk belajar mengerti sobat. Misalnya aja kamu seneng nonton siaran langsung sepak bola. Tapi dalam waktu yang bersamaan ortu kita juga pengen nonton wayang kulit. Kalo sama-sama ngotot kan repot. Apalagi itu hobi beratnya. Wuih, bisa perang saudara itu.
Jangankan cuma urusan kecil model begitu, untuk urusan yang rada gawat sekalipun kita tetap kudu menghormati mereka, meski ada batasannya; kita nggak boleh melaksanakan permintaannya untuk menyuruh maksiat.
Dalam kitab al-'Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa'ad bin Malik, dia berkata: "Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata: "Hai Sa'ad! Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu!" Aku menjawab: "Hai Ibu! Jangan lakukan itu". Sungguh dia tidak makan, sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari, sehingga tubuhnya menjadi letih sekali. Setelah aku melihatnya demikian aku berkata: "Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika engkau punya seratus nyawa, lalu engkau menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau dapat makan maupun tidak sesuai dengan kehendakmu". (Tafsir Ibnu Katsir III/791).
Rasa kesal sekalipun kepada ortu jangan pernah kita tunjukkan dalam sikap atau kata-kata. Bersabar, itu lebih baik bagi kita. Firman Allah Swt.:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (TQS al-Isrâ’ [17]: 23)
Walau bagaimanapun juga ortu adalah segalanya buat kita. Rasa hormat dan cinta kasih kita tetap untuknya. Kapan lagi kalo tidak saat ini. Sebab, inilah salah satu bentuk berbakti kepada mereka. Allah Swt. berfirman:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (TQS al-Isrâ’ [17]: 24)
Dari Abdullah Bin Mas'ud berkata:
"Aku bertanya kepada Rasulullah: "Amalan apakah yang dicintai oleh Allah" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Jihad dijalan Allah". (HR. Bukhari dan Muslim).

Sobat muda muslim, masih banyak ayat dan hadis yang berkaitan dengan persoalan ini. Kamu bisa eksplor lagi deh. Hmm.. betapa kalo kita mau sedikit bersikap bijak untuk merenung, ternyata cinta kita kepada ortu belum seberapa jika dibanding cinta ortu kepada kita. Salutnya, mereka nggak pernah itungan sama anaknya. Subhanallah. Yuk, kita bahagiakan mereka, kita cintai dan hormati mereka berdua. Tapi bagaimana bila mereka justru menyuruh berbuat maksiat? Jangan penuhi permintaannya, tapi kita tetap menghormatinya. Tugas kita adalah mengingatkan aja jika mereka berbuat salah. Itu kan lahan dakwah juga. Tul nggak? Kita belajar mencintai mereka sepenuh hati. Ridho Allah bergantung kepada ridho mereka, lho.
sumber : Buletin cendikia

Ortu adalah teladan, guru, dan sekaligus pelindung kita. Betapa mulianya jasa mereka membesarkan kita. Dari kecil hingga segede sekarang ini. Apalagi ibu, beliau melindungi kita sejak masih dalam rahimnya sampai saat ini, dan insya Allah sampai akhir hayatnya. Kasih ibu memang sepanjang masa. Nggak pernah luntur di telan jaman. Nggak bakalan pudar dimakan usia. Amat besar cintanya kepada kita. Tinggal bagaimana cinta kita kepada mereka.
Sobat muda muslim, jaman berubah begitu cepatnya. Sampe-sampe kata Bung Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya, “Roda jaman menggilas kita. Terseret tertatih-tatih. Sungguh hidup terus diburu, berpacu dengan waktu…”. Bung Ebiet boleh jadi benar bersenandung begitu. Sebab, jaman kiwari ini, dampak perubahan jaman nggak selamanya berbuah kebaikan. Justru sebaliknya, adakala-nya terjadi perubahan ke arah kerusakan nilai.
Ambil contoh, ada anak yang tega membunuh ortunya. Mungkin masih ingat kejadian beberapa tahun lalu di Medan, seorang anak SMU tega membantai anggota keluarganya; kakaknya, ibu, dan bapaknya. Aduh, entah setan apa yang merasuk dalam benaknya. Tapi yang pasti, energi cinta sang anak yang seharusnya dialirkan kepada ortunya, ternyata sudah habis tak berbekas, hingga tega “mengantarkan” mereka ke liang lahat secara paksa.
Berubahnya gaya hidup yang seperti inilah yang sangat kita khawatirkan, kawan. Di jaman penulis kecil, ortu adalah segalanya. Ayah memelototkan mata saja, tanda nggak suka dengan perbuatan yang penulis lakukan, rasa takut langsung memenuhi pikiran. Nggak berani balik memandang tajam ke arah wajahnya. Nggak. Nggak berani. Dengan ibu juga demikian, setiap kali ibu minta tolong, rasanya kok nggak enak kalo harus menolak. Meski adakalanya juga menolak, tapi kemudian merasa amat bersalah. Entahlah. Tapi yang pasti, penulis melihat itu secara objektif, kok. Sebab banyak juga teman-teman main penulis yang hormat dan patuh pada ortunya. Mungkin saat itu nggak banyak informasi rusak masuk ke rumah-rumah lewat televisi. Ya, bisa jadi. 
Kalo sekarang? Aduh, berubah total ketimbang 20-an atau 30-an tahun ke belakang. Kalo dulu, betapa rasa hormat kepada ortu masih tersimpan di lubuk hati yang paling dalam. Terawat dan terjaga dalam bingkai rasa cinta. Sekarang rasa cinta itu pudar menjadi sikap saling membenci dan penuh rasa curiga.
Hubungan anak dengan ortu aja sekarang makin kendor. Perhatian ortu yang mulai terbelah mungkin bisa menjadi sebab lunturnya kemesraan antara ortu dan anaknya. Gimana nggak, kalo dulu seorang ibu cukup di rumah menjaga anak-anak dan melindungi kehormatan keluarga, sekarang harus ikutan keluar rumah dan bekerja untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Sebab katanya di jaman sekarang nggak cukup cuma mengandalkan tenaga suami. Meski sebetulnya banyak juga para ibu yang terseret arus karena nggak tahu apa-apa. Yang ia tahu hanya satu: emansipasi.
Akibatnya, mudah ditebak,  jarak antara anak dengan ortu menjadi renggang, dan itu banyak menimbulkan masalah. Rasa cinta dan sayang hanya dihargai dengan uang, bukan lagi perhatian dan sikap lemah lembut. Anaknya? Karena diajarkan seperti itu, ia mulai belajar membenci. Jangan heran pula bila kemudian anak menjadi musuh bebuyutan ortunya. Aduh sedih deh!
Sobat muda muslim, rasa sayang tidak bisa hanya diukur dari materi semata. Nggak. samasekali Nggak bisa. Itu sebabnya, dalam tulisan kali ini, kita berupaya merekatkan kembali hubungan antara ortu dan anak yang mulai retak dan hampir lepas. Dan alangkah indahnya bila kita mencoba berinisiatif untuk mencintai mereka. Insya Allah, ortu kita akan terharu dengan sikap kita. Lagipula, untuk berbuat baik, kenapa harus menunggu ortu menyapa kita? Tul nggak? Yap, salurkan energi cinta kita buat mereka. Walau bagaimanapun juga mereka berhak mendapatkannya dari kita. Dan kita, wajib memberikannya. Itu pasti, biar tambah mesra!


Kita lahir karena “cintanya”
Suatu saat nanti, kamu akan tahu sendiri betapa bahagianya punya anak. Ortu kita juga demikian, rasa cinta mereka bersatu dalam ikatan pernikahan, lalu lahirlah kita, anaknya. Sebab rasa cinta adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Buktinya apa? Banyak pasangan yang sudah lama menikah, merasa gelisah bila belum punya anak. Berarti di sini jelas, bahwa cinta berbeda dengan seks dalam pengertian hubungan biologis semata.
Setelah kita lahir, tanggung jawab ortu bertambah, yakni merawat dan membesarkan kita. Dan itu dijalaninya dengan rasa cinta dan sayangnya yang menggunung. Ayah kita rela berpanas-panas dan basah kuyup mencari uang untuk beli susu dan makanan kita. Adakalanya bagi para ayah yang kebetulan kondisi ekonominya termasuk golongan “alit” alias pas-pasan, mereka mencari nafkah harus dengan mengeluarkan keringat, dan bahkan juga darah. Kamu bisa lihat bagaimana para buruh kasar di pabrik, pasar, dan juga pelabuhan. Apa yang bisa kamu bayangkan saat melihat mereka tengah berjuang? Ya, itu bagian dari tanggung jawabnya. Dan jangan lupa, juga bagian dari rasa cinta mereka untuk anak dan istrinya.
Sobat muda muslim, pernahkah kita mengukur rasa cinta kita kepada ortu? Seberapa besar sih rasa cinta kita kepada ortu? Sebab, ada kalanya kita suka itung-itungan dengan ortu kita. Bener nggak? Misalnya, kalo kamu udah jagain adik, kamu suka minta jatah es krim sepulang ibu dari pasar. Apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan beres-beres rumah, ujungnya kita suka minta imbalan uang atau barang lainnya. Malah ada juga di antara teman remaja yang masang “tarif” duluan sebelum bekerja. Kita bersedia melakukan pekerjaan itu, tapi ada syaratnya: ada uang jajannya sebagai “sogokan”. Kalo nggak, kagak pake deh!  Waduh kejamnya!
Ada cerita menarik yang berhubungan dengan tema ini dari buku Chicken Soup for the Soul karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Dikisahkan ada seorang anak yang menyodorkan selembar kertas berisi tulisan semacam tagihan kepada ibu. Isinya: Memotong rumput 5 dolar, membersihkan kamar 1 dolar, pergi ke toko menggantikan ibu 0.5 dolar, menjaga adik waktu ibunya belanja 0.25 dolar, membuang sampah 1 dolar, untuk rapor yang bagus 5 dolar, dan untuk membersihkan dan menyapu halaman 2.99 dolar. Total utang ibu kepadaku: 14.75 dolar.
Si ibu menatap anaknya lekat-lekat, lalu mengambil bolpen, dan kemudian menulis di balik kertas tersebut. Isinya begini: Untuk sembilan bulan ketika Ibu mengandung kamu selama tumbuh dalam perut Ibu, Gratis. Untuk semua malam ketika Ibu menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, Gratis. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah Gratis. Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis. Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, Gratis, Anakku. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati Ibu adalah Gratis.
Setelah itu, si anak berkata kepada ibunya, “Bu, aku sayang sekali sama Ibu.” Dan kemudian si anak mengambil bolpen dan menuliskan dengan huruf besar: “LUNAS”
Nah, ini sekadar contoh aja sobat, betapa kita kadangkala suka itungan banget sama ortu kita. Kita mogok melakukan perintahnya, hanya karena uang jajan belum masuk kantong kita. Jangan lagi deh!  Suer jangan lagi!!.

Wajib menghormati mereka
Emang sih, namanya hidup berdampingan, apalagi ini sama ortu kita, selalu aja ada gesek-gesek dikit itu wajar. Ibarat piring-piring yang kita cuci, selalu aja ada gesekan, sekecil apapun. Namanya juga hidup bersama.
Menghadapi ortu nggak selamanya berjalan sesuai harapan, artinya nggak dapat masalah. Suatu saat bisa jadi kita sama-sama punya kepentingan. Di sinilah akhirnya kita kudu bersikap bijak.  Ya, kita coba untuk belajar mengerti sobat. Misalnya aja kamu seneng nonton siaran langsung sepak bola. Tapi dalam waktu yang bersamaan ortu kita juga pengen nonton wayang kulit. Kalo sama-sama ngotot kan repot. Apalagi itu hobi beratnya. Wuih, bisa perang saudara itu.
Jangankan cuma urusan kecil model begitu, untuk urusan yang rada gawat sekalipun kita tetap kudu menghormati mereka, meski ada batasannya; kita nggak boleh melaksanakan permintaannya untuk menyuruh maksiat.
Dalam kitab al-'Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa'ad bin Malik, dia berkata: "Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata: "Hai Sa'ad! Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu!" Aku menjawab: "Hai Ibu! Jangan lakukan itu". Sungguh dia tidak makan, sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari, sehingga tubuhnya menjadi letih sekali. Setelah aku melihatnya demikian aku berkata: "Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika engkau punya seratus nyawa, lalu engkau menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau dapat makan maupun tidak sesuai dengan kehendakmu". (Tafsir Ibnu Katsir III/791).
Rasa kesal sekalipun kepada ortu jangan pernah kita tunjukkan dalam sikap atau kata-kata. Bersabar, itu lebih baik bagi kita. Firman Allah Swt.:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (TQS al-Isrâ’ [17]: 23)
Walau bagaimanapun juga ortu adalah segalanya buat kita. Rasa hormat dan cinta kasih kita tetap untuknya. Kapan lagi kalo tidak saat ini. Sebab, inilah salah satu bentuk berbakti kepada mereka. Allah Swt. berfirman:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (TQS al-Isrâ’ [17]: 24)
Dari Abdullah Bin Mas'ud berkata:
"Aku bertanya kepada Rasulullah: "Amalan apakah yang dicintai oleh Allah" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Jihad dijalan Allah". (HR. Bukhari dan Muslim).

Sobat muda muslim, masih banyak ayat dan hadis yang berkaitan dengan persoalan ini. Kamu bisa eksplor lagi deh. Hmm.. betapa kalo kita mau sedikit bersikap bijak untuk merenung, ternyata cinta kita kepada ortu belum seberapa jika dibanding cinta ortu kepada kita. Salutnya, mereka nggak pernah itungan sama anaknya. Subhanallah. Yuk, kita bahagiakan mereka, kita cintai dan hormati mereka berdua. Tapi bagaimana bila mereka justru menyuruh berbuat maksiat? Jangan penuhi permintaannya, tapi kita tetap menghormatinya. Tugas kita adalah mengingatkan aja jika mereka berbuat salah. Itu kan lahan dakwah juga. Tul nggak? Kita belajar mencintai mereka sepenuh hati. Ridho Allah bergantung kepada ridho mereka, lho.
sumber : Buletin cendikia

Rabu, 16 Desember 2015

Dalam perencanaan baja kita sering jumpai tabel baja untuk mendimensi suatu batang, tetapi yang menjadi masalah adalah kadang kita lupa menempatkan buku tabel baja dimana… hehe … Untuk memudahkan temen-temen semua saya sediakan tabel struktur baja dalam bentuk M. excel… Biar temen-temen semua ga usah bawa-bawa buku kemana mana… 
Dalam tabel tersebut terdapat:
·        Macam-macam profil
·        Berat
·        Ukuran profil
·        Titik berat profil baja
·        DLL
Macam – macam bentuk profil baja antara lain:
·        Profil siku
·        Profil I
·        Profil WF
·        Profil Pipa
·        Profil Canal
·        Profil H beam
Contoh suatu gambar penampang profil baja beserta ukuran dimensinya:


Monggo yang mau download

Dalam perencanaan baja kita sering jumpai tabel baja untuk mendimensi suatu batang, tetapi yang menjadi masalah adalah kadang kita lupa menempatkan buku tabel baja dimana… hehe … Untuk memudahkan temen-temen semua saya sediakan tabel struktur baja dalam bentuk M. excel… Biar temen-temen semua ga usah bawa-bawa buku kemana mana… 
Dalam tabel tersebut terdapat:
·        Macam-macam profil
·        Berat
·        Ukuran profil
·        Titik berat profil baja
·        DLL
Macam – macam bentuk profil baja antara lain:
·        Profil siku
·        Profil I
·        Profil WF
·        Profil Pipa
·        Profil Canal
·        Profil H beam
Contoh suatu gambar penampang profil baja beserta ukuran dimensinya:


Monggo yang mau download

Jumat, 23 November 2012


Kadang kalau kita dilapangan tentu kita akan menemukan banyak masalah, termasuk dalam pemancangan sebuah pondasi.
Biasaanya hasil pemancangan akan disajikan dengan data 10 pukulan terakhir (final set)
Lalu kita berfikir apa gunanya data ini, kita kan sudah menghitung pondasinya?
Biasaanya data ini bisa dipergunakan untuk mengecek perhitungan secara teoritis terhadap data lapangan.
Berikut adalah cara perhitungannya :
R = ((2WH/S+K)*(W+N2P/W+P)) Rumus Hiley
R = ((2WH/S+K)*(W/W+P)) Rumus Cobelco
Ket :
R             = Kapasitas daya dukung batas (ton)
W            = Berat palu atau Ram (Ton)
P             = Berat tiang pancang (Ton)
H             = Tinggi jatuh ram (M)
S              = Penetrasi tiang pancang pada saat penumbukkan terakhir “SET” (cm)
K             = Rata-rata untuk 10 pukulan terakhir (cm)
N             = Koef restitusi *
                                - 0,4 – 0,5 untuk palu besi cor, tiang beton tanpa helm
                                - 0,3 – 0,4 untuk palu landasan kayu
                                - 0,25 – 0,3 untuk tiang kayu
Agar R dapat dijadikan hitungan yang aman maka rumus di atas digunakan factor keamanan juga efisiensi hammer, sehingga
Rpakai = ef R (1/SF)
Ket
Ef            = 0,8 – 0.9 untuk diesel hammer
                   0,7 – 0,9 untuk drop hammer
                   0,7 – 0,85 untuk single/double acting hammer
SF = biasanya tergantung dari kita sebagai perencana akantetapi perusahaan pancang juga menggunakan factor keamaanan (SF) tersendiri. Misalnya 2,5 – 3,0
Sampai sini dulu ya pembahasannya nanti kita coba hitung contoh soalnya…
Jangan lupa ketika perusahaan memancang biasanya ada manual pemancangannya, tinggal diminta saja manualnya jika tidak ada boleh gunakan rumus-rumus diatas… bagi yang ingin mendownload materi perhitungan pondasi silahkan Download


Kadang kalau kita dilapangan tentu kita akan menemukan banyak masalah, termasuk dalam pemancangan sebuah pondasi.
Biasaanya hasil pemancangan akan disajikan dengan data 10 pukulan terakhir (final set)
Lalu kita berfikir apa gunanya data ini, kita kan sudah menghitung pondasinya?
Biasaanya data ini bisa dipergunakan untuk mengecek perhitungan secara teoritis terhadap data lapangan.
Berikut adalah cara perhitungannya :
R = ((2WH/S+K)*(W+N2P/W+P)) Rumus Hiley
R = ((2WH/S+K)*(W/W+P)) Rumus Cobelco
Ket :
R             = Kapasitas daya dukung batas (ton)
W            = Berat palu atau Ram (Ton)
P             = Berat tiang pancang (Ton)
H             = Tinggi jatuh ram (M)
S              = Penetrasi tiang pancang pada saat penumbukkan terakhir “SET” (cm)
K             = Rata-rata untuk 10 pukulan terakhir (cm)
N             = Koef restitusi *
                                - 0,4 – 0,5 untuk palu besi cor, tiang beton tanpa helm
                                - 0,3 – 0,4 untuk palu landasan kayu
                                - 0,25 – 0,3 untuk tiang kayu
Agar R dapat dijadikan hitungan yang aman maka rumus di atas digunakan factor keamanan juga efisiensi hammer, sehingga
Rpakai = ef R (1/SF)
Ket
Ef            = 0,8 – 0.9 untuk diesel hammer
                   0,7 – 0,9 untuk drop hammer
                   0,7 – 0,85 untuk single/double acting hammer
SF = biasanya tergantung dari kita sebagai perencana akantetapi perusahaan pancang juga menggunakan factor keamaanan (SF) tersendiri. Misalnya 2,5 – 3,0
Sampai sini dulu ya pembahasannya nanti kita coba hitung contoh soalnya…
Jangan lupa ketika perusahaan memancang biasanya ada manual pemancangannya, tinggal diminta saja manualnya jika tidak ada boleh gunakan rumus-rumus diatas… bagi yang ingin mendownload materi perhitungan pondasi silahkan Download