Hidup penuh perjuangan

Jumat, 18 Desember 2015

Kamu udah dewasa kan? Kalo belum, pertanyaan di judul ini kayaknya perlu dijawab dengan tegas. Tapi saya rasa kamu yang pada baca buletin ini sudah banyak yang dewasa. Ayo, ngaku aja (bukan nuduh lho, tapi ini sekadar menegaskan). Eh, tapi nggak salah juga kalo ada yang baca buletin ini masih belum dewasa alias belum baligh, misalnya anak SD dan SMP. Silakan aja.
Sobat muda, kalo lihat tayangan televisi di sudut kiri atas atau kadang di bawah kiri (tergantung maunya masing-masing pengelola televisi sih) biasanya suka tercantum lambang: “Dewasa” dengan huruf “D”, “Bimbingan Orangtua” dengan ikon “BO”, dan “Anak-anak” ditulisi dengan ikon “A”; malah ada juga tontonan satu untuk semua—”SU” alias Semua Umur. Meski efektifitasnya juga masih belum terbukti dengan bagus.
Oya, konon kabarnya pelabelan itu sebagai bentuk kepedulian pihak penyelenggara siaran untuk mengelompokkan pemirsanya. Jadi, mereka merasa bahwa dengan memberikan panduan seperti itu para orangtua bisa memantau anak-anaknya dalam menonton tayangan televisi. Misalnya, kalo sebuah tayangan tercantum lambang “Dewasa”, maka ortu berhak menegur anaknya atau memintanya dengan cepat untuk mengalihkan ke chanel lain. Nah, kamu termasuk kelompok yang mana nih? Udah dewasa belum? (jawab dalam hati aja ya… soalnya ada juga yang udah bangkotan tapi masih seneng film kartun—yee apa hubungannya? Emangnya film kartun khusus anak? Nggak juga kan?—ini kok malah ngelantur kemana-mana)
Oya, sebenarnya dalam “kamus” ajaran Islam tak dikenal istilah remaja. Ajaran Islam dalam menilai manusia itu hanya dengan dua kriteria: anak-anak dan dewasa. Perubahan dari dunia anak-anak menjadi dewasa ditandai dengan perubahan pada hormon-hormon seksualnya, seperti pada anak laki-laki sudah mengalami ihtilam (mimpi basah, yakni pas mimpi keluar sperma, bukan karena diguyur air se-ember). Buat anak perempuan sudah mulai haid alias datangnya ‘tamu bulanan’. Dalam Islam, kejadian itu dikenal dengan istilah sudah “baligh”.
Nah, jika sudah baligh, berarti ia sudah terbebani hukum (mukallaf). Artinya, segala perbuatannya dalam menjalani kehidupan ini akan dicatat. Jika berbuat baik, pahala ganjarannya, jika berbuat salah, dosa yang ia dapat. Tapi jika masih anak-anak, tak akan dinilai baik atau buruk, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Diangkat pena dari tiga orang; orang yang tidur sampai ia bangun, anak hingga baligh, dan orang yang gila sampai ia sembuh.” “Pengangkatan pena” (tidak dicatat amalnya)dari mereka maksudnya adalah mereka bukanlah mukallaf secara syar’i.
Mengenal pubertas
Rasanya nggak ada salahnya jika teman remaja mengenal masa-masa ini. Bahkan mungkin sangat perlu, karena emang berkaitan dengan kehidupan kita sendiri. Nah, dalam perkembangan fisik dan jiwa manusia, para pakar psikologi mengenalkan istilah “masa pubertas” atau puber. Omong-omong, pada usia berapa sih remaja mengalami pubertas?
Menurut para ahli perkembangan jiwa, usia remaja mengalami pubertas adalah pada usia 14 - 16 tahun. Masa ini disebut juga “masa remaja awal”, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Catet, bukan anak-anak lagi, lho.
Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama.
Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri. Itu sebabnya, cenderung semau gue.
Kesalahan berpikir
Seringkali para orangtua menilai bahwa remaja yang berbuat “aneh” dan bahkan terkesan nakal dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dianggap biasa saja. Misalnya, ketika ada temen-temen remaja yang mengecat rambutnya pakai pylox disikapi bahwa itu bagian dari perkembangan jaman. Melihat remaja yang asyik berpacaran, tak merasa bahwa itu membahayakan. Apalagi sampai berdalil, “Saya juga dulu seperti itu...” Wah, musibah besar namanya nih kalo ada ortu yang berpikiran kayak gitu.
Nggak hanya itu, seringkali juga para orangtua secara umum membiarkan bebas anak remajanya untuk berbuat sesukanya dengan alasan bahwa itu bagian dari upaya mencari jadi diri. Kalo dikekang, bisa berbahaya. Nah, jika dikekang bisa berbahaya, apakah ada jaminan kalo dibiarkan bebas sesukanya tidak akan membahayakan? Betul ndak?
Sobat muda muslim, kesalahan berpikir seperti ini nggak cuma ada di kalangan para orangtua, tapi juga di antara kita sendiri. Yup, kita sendiri seringkali menganggap enteng masalah. Bahkan kesannya mengampuni diri sendiri dan memiliki standar ganda dalam menilai satu masalah. Aneh banget kan? Misalnya, ketika terlibat tawuran kita bilang ke temen-temen dan ke orang-orang bahwa kita sebagai remaja pemberani. Ketika kita pacaran, kita bilang ke siapa pun bahwa kita sudah dewasa. Udah gede. Tapi ketika ada razia KTP atau kena batunya pas digiring ke kantor polisi, kita ngaku-ngaku masih anak-anak. Biar nggak kena sanksi alias hukuman. Gimana nih?
Kondisi seperti ini kalo boleh dibilang sebagai “kedewasaan yang menjanin” dan masa kanak-kanak yang “menua”. Artinya, masa remaja adalah masa transisi. Lepas dari masa kanak-kanak dan masuk (tapi belum semuanya) ke masa dewasa. Jadi masih bisa berubah-ubah alias belum stabil. Di sinilah perlunya bimbingan yang benar dan arahan yang jelas dan pasti. Tidak dikekang, tapi juga tidak dibiarkan liar. Sehingga tidak terjadi kesalahan dalam berpikir. Baik bagi para orangtua yang menilai perilaku remaja, maupun bagi teman remja itu sendiri. Karena apa? Karena kesalahan dalam berpikir akan membawa dampak yang parah pada penilaian dan penanganan kasus yang terjadi di kalangan remaja. Contohnya, untuk tindak kriminal remaja, polisi biasanya tidak bisa memberi hukuman seperti kepada orang dewasa. Bahkan cenderung hanya memberi sanksi ringan. Padahal, dalam Islam, jika sudah baligh ya sudah masuk kategori dewasa. Jadi jelas sudah terbebani hukum. Dia wajib melaksanakan perintah dan wajib pula menghindari larangan yang diatur dalam ajaran agama.
         
Bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’
Nah, ngomongin tentang kedewasaan, jadi teringat sebuah semboyan iklan rokok yang berbunyi, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Cukup bagus dan menyegarkan. Kenapa? Karena usia tua itu pasti, tapi soal kedewasaan berpikir belum tentu berbanding lurus dengan usianya. Sebaliknya, meski masih usia 17-an (setelah baligh), tapi sudah dewasa secara pikiran. Itulah kenapa dewasa itu disebut sebagai pilihan. Karena apa? Karena memang bisa dipilih. Bisa diupayakan untuk ‘mengatur’ diri ini dengan hiasan amal kita. Amal yang baik, atau amal yang buruk. Tapi, sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib banget untuk memilih jalan hidup dan amal perbuatan yang memang dibenarkan oleh Islam. Oke?
Dalam pandangan Islam, dewasa tidak hanya ditinjau dari perubahan secara biologis, tapi juga pola berpikir. Itu sebabnya, jika seorang remaja sudah berpikir dewasa, maka ia akan tahu arti tanggung jawab, meminta maaf, berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang untuk agama, patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, taat pada aturan Allah Swt. dsb. Jika masih gemar melakukan kemaksiatan, berarti belum dewasa secara pikiran. Padahal, secara biologis sudah sangat dewasa, gitu lho.
Itu sebabnya, seringkali kita saksikan dalam kehidupan nyata ada orang yang masih betah berbuat maksiat. Padahal, umurnya sih udah menjelang “maghrib” alias udah sepuh. Kepada model orang yang seperti ini, kita bisa bilang bahwa dia belum dewasa. Secara fisik memang udah dewasa, tapi secara pemikiran dan perbuatannya masih “anak-anak”. Cemen deh!
Sobat muda muslim, dengan kata lain, bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’ di tubuh sebagai ukuran untuk menilai sebuah kedewasaan. Terlalu sederhana. Karena dalam Islam, selain ukuran fisik, cara berpikir dan apa yang dilakukan juga harus masuk penilaian.
Menyiapkan diri jadi dewasa
Karena menjadi dewasa adalah sebuah “pilihan”, maka tentunya harus direkayasa alias disiapkan. Nggak bisa dibiarkan alami. Karena memang jadi dewasa dalam cara berpikir itu bukan kebetulan, tapi pilihan. Itu sebabnya, ada pelatihannya juga. Memang sih, model pelatihannya nggak perlu dibuat semacam jenjang akademik, tapi melalui “schooling society” (sekolah kehidupan). Di sinilah kita belajar. Istilahnya,  “learning society”. Belajar dari masyarakat.
Kita bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman Rasulullah saw. Banyak para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada Islam sangat besar. Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena kondisi kehidupannya mendukung. “Sekolah kehidupan” telah mengajarkan dan membentuk kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika sekarang banyak remaja yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik, itu juga karena model kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak benar. Gimana pun juga, individu itu pasti akan terwarnai oleh kondisi masyarakat. Kalo masyarakatnya rusak seperti sekarang, kayaknya udah alhamdulillah banget kalo masih ada remaja yang selamat kepribadiannya.
Sobat muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)
Nah, untuk memudahkan kita dalam berpikir dan berbuat dewasa dalam pandangan Islam, wajib juga adanya peran besar dari negara untuk mewujudkannya. Seperti apa? Misalnya, negara harus mengawasi isi media massa untuk remaja. Kalo merusak, tegur. Bila bandel, beri sanksi. Terus, rajin juga ngasih pembinaan mental. Setuju? Sumber ; buletin studia

0 komentar:

Posting Komentar