Hidup penuh perjuangan

Sabtu, 26 Desember 2015

Aduh, lagunya aja bikin hati kita berbunga-bunga, apalagi filmnya? Wow, dijamin bagi remaja yang lagi dimabuk cinta bisa “tentrem” banget. Gimana nggak, meski ceritanya “pasaran”, tapi plotnya menarik. Dimulai dari tengah, kemudian melakukan kilas balik, lalu kembali lagi untuk melanjutkan cerita hingga akhir. Teknik plot seperti ini memang sudah cukup lazim digunakan sekarang, dan Kuch Kuch Hota Hai telah melakukannya dengan cukup baik.
Seperti kebanyakan film India lainnya, Kuch Kuch Hota Hai sarat dengan adegan ngelilingi pohon dan tiang sambil diiringi dengan nyanyian dan tarian. Sebetulnya, film ini boleh dibilang udah kadaluwarsa, Non. Buktinya, film besutan sutradara Karan Johar yang berdurasi 184 menit ini dibuat pada tahun 1997 di negeri asalnya. Namun karena di stasiun televisi Indosiar ditayangkan kembali sampe tiga kali dalam tiga minggu terakhir ini, jadi deh teman-teman remaja yang hobi nonton aksi bintang-bintang Bollywood (Hollywood-nya negeri Tuan Takur) jadi ikutan ber-hmmm…hmmm..hmmm…. (tahu kan yang kita maksud?)
Syair-syair dalam soundtrack-nya aja bikin yang lagi kasmaran “kelenger”, simak ya senandungnya Udit Naryan dan Alka Yagnik ini; Tum paas aaye, yun muskuraaye (kau hampiri diriku, tersenyum manisnya)/ Tumne na jaane kya sapne dikhaaye (tanpa sadari kau berikan impian padaku). Walah, bagi para bujangan atawa para gadis, bisa bikin jantung berdetak dua kali lebih kenceng, tuh.
Sekadar tahu saja, sebab kita yakin deh kamu-kamu udah gaul banget dengan cerita ini. Film yang dibintangi Shahrukh Khan (Rahul), Kajol (Anjali), Rani Mukherjee (Tina) dan Salman Khan (Amman) ini bercerita tentang cinta dan persahabatan. Rahul dan Anjali adalah dua bersahabat semasa kuliah. Teman bermain basket. Rahul yang playboy; Anjali yang tomboy. Keduanya kompak, populer di kampus, dan terlibat hubungan benci-suka yang unik. Terus gimana? Hubungan mereka ‘tercemar’ benih-benih cinta, tapi lucunya keduanya nggak mau mengakui. Keadaan ini makin parah dengan munculnya Tina, mahasiswi baru, putri sang rektor. Singkat cerita Rahul “takluk” oleh Tina, dan tragisnya, Anjali sempat jadi “tempat berlatih” Rahul untuk menyatakan cintanya pada Tina. Sampai di sini kayaknya yang pada nonton udah nyiapin ember buat nampung air mata. Sedih dan tragis emang.
Akhirnya Anjali memilih tak meneruskan kuliah dan meninggalkan Rahul-Tina. Lalu gimana lanjutannya? Well, Tina nyadar kalo dirinya telah memutuskan jalinan cinta Rahul-Anjali. Rahul-Tina jadi menikah, tapi akhirnya Tina meninggal saat melahirkan putrinya yang kemudian diberi nama Anjali. Dalam suratnya kepada anaknya yang udah disiapkan semasa hidupnya, Tina menuliskan, “Ayahmu pernah bilang, "Cinta adalah persahabatan." Aku memang jadi temannya, tapi tak akan pernah bisa jadi sahabatnya. Kini ayahmu kesepian, tapi tak akan mengatakan apa pun. Ia butuh teman; ia butuh cinta. Teman itu adalah Anjali; Cinta itu adalah Anjali. Kembalikanlah Anjali ke dalam hidup ayahmu; Kembalikan cinta pertama Anjali kepadanya. Anjali dan Rahul sudah ditakdirkan untuk saling memiliki. Inilah kebenarannya, dan inilah mimpiku” Hemm..
Gimana Non? Singkat cerita, film ini ditutup dengan bersatunya kembali cinta lama Rahul dan Anjali. Dan juga keberanian tunangan Anjali, Amman, untuk menjadi semacam the sacrifying hero alias pahlawan yang rela berkorban. Sebab ia tahu, Anjali tak mencintainya, Anjali adalah milik Rahul. Happy ending dong? Ini yang emang biasanya disuka sebagian besar penonton.
Nah, begitulah film yang konon sempat menghebohkan jagat perfilman India dan juga di negeri ini. Nggak heran juga kalo akhirnya Ashraff dan Iis Dahlia memanfaatkan popularitas film Kuch Kuch Hota Hai dengan menyanyikan soundtrack-nya, Kuch Kuch Hota Hai… (sesuatu terjadi dalam hatiku…) Wah?

 

Cinta dan persahabatan

Itulah Kuch Kuch Hota Hai, lalu bagaimana dengan kehidupan kita? Nah ini dia yang bakal kita kupas abis. Film bertema cinta emang suka bikin kita “damai” dan indah. Hidup kayaknya cuma milik kita dan orang yang jadi pujaan hati kita. Cinta emang mengalahkan segalanya. Itu sebabnya cinta acapkali dinobatkan sebagai “makhluk” yang mampu memberikan “kehidupan”. Dengan cinta, kita bisa memberikan napas segar bagi seseorang. Cinta juga bisa bikin hidup seseorang menjadi lebih indah dan terasa nikmat. Namun demikian, cinta juga acapkali bisa bikin hidup sumpek, susah, dan menderita. Itu bergantung kepada problem yang dihadapi setiap orang. Mira W, penulis novel yang sebagian besar karyanya diangkat ke sinema elektronik alias sinetron pernah menuliskan dalam salah satu novelnya; “kita boleh hidup dengan cinta, tapi jangan mati karena cinta.” Wah?
Sahabat, adalah teman yang boleh dibilang dekat banget dengan kita. Sahabat adalah orang yang bener-bener bisa ngertiin kita, tempat kita curhat, dan bila perlu rela berkorban untuk kita. Ya, pokoknya lebih dari sekadar seorang teman.
Karena alasan itu pula kemudian di antara kita suka nyari-nyari teman yang bisa ngertiin siapa kita, dan kita pun care juga dengan persoalan doi. Boleh dibilang sehidup-semati deh (cieeee..). Cinta dan persahabatan bisa jadi tumbuh bersama. Ia akan memberikan angin segar bagi pelakunya. Suka maupun duka, bila dilandasi dengan cinta, merupakan bagian dari seni dalam hidup ini. Boleh dibilang nggak ada yang perlu dipusingkan. Asyik asyik aja deh. Ini namanya cinta. Memang cinta bikin hidup lebih hidup, kawan.
Nah, berkaitan dengan persoalan ini, tentu yang bakal jadi problem adalah bila kita berteman atau bersahabat dengan lawan jenis. Ini dia yang bikin berabe kayak Anjali dan Rahul di film Kuch Kuch Hota Hai itu. Awalnya sekadar berteman, bersahabat, tapi lama-lama malah timbul rasa yang bukan sekadar seneng doang. Itu wajar, bagaimana pun juga, dua insan yang berlainan jenis itu adalah “magnet”. Ia bisa saling menarik dengan kekuatan cintanya yang dahsyat. Kata pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino alias cinta tumbuh karena seringnya bersama (bertemu).
Jangan salah, kalo dua insan yang berlainan jenis sering bertemu, apalagi suka curhat satu sama lain, ini bisa bikin gaswat urusan, Non. Itu namanya udah bermain api. Hati-hati bisa kebakar nanti, apalagi api asmara. Wow!
Memang, tidak semua hubungan dua jenis manusia ini selalu identik dengan pacaran, sebab ada juga yang, itu tadi, hanya bersahabat. Tapi tetep Non, ini adalah problem yang kudu diselesaikan. Bagaimanapun juga, bersahabat dengan lain jenis bikin berabe dan tentu berdosa—bila hubungannya spesial banget. Coba, udah spesial, banget lagi. Nggak harus dijelaskan, sebab kayaknya kamu juga ngerti deh apa yang kita maksud. Hati-hati!

Cinta sejati, kekasih sejati
Duh, kalo ngomong beginian penulis jadi pengen kembali ke masa remaja. Hemmm. Abisnya di situlah masa-masa indah. Nggak salah kan kalo Mbak Paramitha Rusadhi pernah nyanyiin lagu Nostalgia SMA. Ya, nostalgia SMA kita…… (tuh kan, jadi KLBK deh).
Masa remaja, saat tubuh dan jiwa kita mengalami perubahan yang kita juga kadang nggak ngeh dan nggak ngerti. Dengan kata lain, saat kita mulai “trengginas” untuk melirik-lirik lawan jenis. Saat kita merasa seneng kalo lawan jenis kita nengok ke arah kita dan memainkan ekor matanya. Lalu… plassss.. jantung terasa berhenti sejenak. Itu artinya, energi cinta kamu sedang kenceng-kencengnya.
Maka jangan heran bila ada di antara kamu yang cowok suka caper. Berbagai cara sering dicoba dalam rangka pdkt sang gadis idaman hati. Perkara hasil? Nomor dua belas! Yang penting aktualisasi diri dulu. Meski boleh dibilang, cintanya itu adalah “cinta monyet”.
Bagi sebagian besar teman remaja yang cintanya langsung disambut sang pujaan hati, karuan aja senengnya setengah hidup. Kemana-mana kayak perangko, nempeeeel terus. Yang tadinya nggak suka romantis-romantisan, saat itu ngedadak jadi pujangga karbitan. Puisi melulu yang dibikin, meski kaidah penulisannya semau gue. Ujungnya, mereka mengharap dan mengklaim, inilah cinta sejati, inilah kekasih sejati. Cintanya tak akan pernah pudar, meski laut dan pantai dipisahkan, begitulah kira-kira seperti apa yang Amy Search dan Inka Christie senandungkan dalam salah satu lagunya tentang cinta. Padahal mah tipe setia alias selingkuh tiada akhir. JJ
Tapi benarkah itu cinta sejati, kekasih sejati? Rasanya kudu kita renungkan kembali. Sebab, nggak sedikit di antara pasangan-pasangan yang katanya cocok luar-dalem itu harus mengakhiri petualangannya karena merasa bosan atau emang karena ada cinta lain di hatinya. Itukah cinta sejati dan kekasih sejati? Bukan sobat. Apalagi aktivitas pacaran emang dilarang dalam ajaran Islam. Kenapa? Karena itu adalah perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lalu yang bagaimana cinta sejati kita, dan siapa kekasih sejati kita? Imam Hasan al-Basry berkata: “Siapa yang mengetahui Rabb-nya, maka dia akan mencintai-Nya, dan siapa yang mencintai selain Allah, itu disebabkan karena kebodohan dan keterbatasannya dalam mengetahui Allah.” Lebih lanjut Imam Hasan al-Basry menyatakan bahwa mencintai Rasul-Nya tidak akan muncul kecuali dari cinta kepada Allah. Dengan kata lain, cinta sejati kita kudu diberikan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah Swt. dengan kemurahan, kasih sayang, dan cinta-Nya kepada kita, Dia memberikan segalanya bagi kita; kehidupan, kesenangan, kebahagiaan, termasuk rasa cinta kepada lawan jenis. Semuanya Allah berikan tanpa kita kudu membayar sepeserpun. Pokoknya gratis. Tinggal bagaimana kita bersyukur atas nikmat yang begitu banyak diberikan kepada kita. Firman Allah Swt.:
 “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nahl [16]: 18)
Tentu saja, ini berbeda banget dengan cinta kita kepada makhluk-Nya. Dengan kata lain, kalo makhluk-Nya suka pilih-pilih dalam mencintai seseorang, maka Allah tidak pernah begitu, siapapun—termasuk orang kafir sekalipun—Allah akan berikan rizki, dan itu merupakan wujud cinta Allah kepada makhluk-makhluk-Nya. Tinggal bagaimana kita sebagai makhluk-Nya harus pandai bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Bagi kita, yang memang beriman kepada Allah, tentu saja, kita harus lebih mencintai Allah ketimbang yang lain. Firman Allah Swt.:
 “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 165)
Jadi cinta sejati kita adalah cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Kekasih sejati kita adalah jelas Allah dan Rasul-Nya. Karena alasan itu pula, Handlolah al-Gusail lebih memilih jihad untuk memerangi orang-orang kafir saat Rasulullah menyeru kaum Muslimin untuk berangkat ke medan perang, ketimbang “bulan madu” bersama istri yang baru sehari dinikahinya. Dan di medan jihad itu, Handlolah menemui kekasih sejatinya. Handlolah syahid sebagai pejuang Islam. Handlolah hidup dan mati karena cinta kepada Allah. Bagaimana dengan kita? Rasanya kita kudu merenungkan kembali dalam-dalam. Jangan-jangan kita lebih mencintai dunia dan perhiasannya ketimbang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ah, jangan sampe deh.
Insya Allah, bila kita mencintai Allah dengan sepenuh hati kita—tanpa ada sedikitpun keraguan dalam hati kita—nikmatnya bener-bener terasa. Indahnya nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sebab memang nilainya terlalu tinggi bila sekadar dibandingkan dengan cinta kita kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Apa saja permintaan dari Allah dan Rasul-Nya, senantiasa kita berikan dengan sepenuh hati kita. Nggak pernah merasa enggan untuk menolak, sebab kita yakin, bahwa Allah akan membalas cinta kita dengan nikmat yang banyak.
Pastikan bahwa prioritas cinta kita hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Tidak untuk yang lain. Sebab, yakinlah bahwa keberadaan kita di dunia inipun, juga karena cinta-Nya. Jadi, nggak perlulah kita terbius oleh cinta kepada selain Allah. Suka rugi dan kecewa hati. Bener.

0 komentar:

Posting Komentar