Hidup penuh perjuangan

Senin, 30 Januari 2017

Menurut Hardiyatmo, 2002, istilah penurunan digunakan untuk menunjukkan gerakan titik tertentu pada bangunan terhadap titik referensi yang tetap. Jika seluruh permukaan tanah dibawah dan disekitar bangunan turun secara seragam dan penurunan tidak terjadi berlebihan, maka turunnya bangunan akan tidak nampak oleh pandangan mata dan penurunan yang terjadi tidak menyebabkan kerusakan bangunan.
Bila penurunan terjadi secara berlebihan, maka akan nampak mengganggu pandangan mata maupun kesetabilan bangunan, hal yang perlu diketaui mengenai penurunan yaitu, besarnya penurunan maupun kecepatan penurunannya. Berikut ini contoh kerusakan akibat penurunan dapat dilihat pada Gambar 1. 
Gambar 1. Contoh Kerusakan Bangunan Akibat Penurunan

Agar secara teknis penurunan memenuhi syarat, maka penurunan suatu bangunan harus memenuhi penurunan izin. Penurunan izin dari suatu bangunan atau besarnya penurunan yang telah ditoleransikan, bergantung terhadap beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi jenis, tinggi, kekakuan, fungsi bangunan serta distribusinya. Rancangan dibutuhkan untuk dapat memperkirakan besarnya penurunan maksimum dan beda penurunan yang masih dalam batas toleransi. Jika penurunan berjalan lambat, semakin besar kemungkinan struktur untuk menyesuaikan diri terhadap penurunan yang terjadi tanpa adanya kerusakan struktur oleh pengaruh rangkak (creep), Oleh karena itu dengan alasan tersebut kriteria penurunan pondasi pada tanah pasir dan pada tanah lempung berbeda.
Karena penurunan dapat diprediksi, umumnya dapat diadakan hubungan antara penurunan izin dengan penurunan maksimum. Skempton dan Mac Donald, 1955, menyarankan batas-batas penurunan maksimum seperti yang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Batas Penurunan Maksimum
(Skempton dan Mac Donald, 1955)

Jenis Pondasi
Batas Penurunan Maksimum
(mm)
Pondasi terpisah pada tanah lempung
65
Pondasi terpisah pada tanah pasir
40
Pondasi rakit pada tanah lempung
65-100
Pondasi rakit pada tanah pasir
40-65

Bjerrum, 1963, menyarankan hubungan antara tipe masalah struktur dan nilai distorsi kaku (δ/L) dengan δ adalah penurunan total dan L adalah jarak antaara 2 kolom atau jarak 2 titik yang ditinjau. Nilai-nilai distorsi kaku dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel tersebut menjelaskan hubungan distorsi kaku dengan tipe kerusakan yang timbul akibat distorsi kaku. 

Tabel 2. Hubungan Tipe Masalah Pada Struktur
Dan Distorsi Kaku (Bjerrum, 1963)

Type masalah
Distorsi kaku
(δ/L)
Kesulitan pada mesin yang sensitif terhadap penurunan
1/700
Bahaya pada rangka-rangka dengan diagonal
1/600
Nilai batas untuk bangunan yang tidak diijinkan retak
1/500
Nilai batas dengan retakan pertama diharapkan terjadi pada dinding-dinding panel, atau dengan kesulitan terjadi pada overhead crane
1/300
Nilai pada batas penggulingan (miring) bangunan tingkat tinggi dapat terlihat
1/250
Retakan signifikan dalam panel dan tembok. Batasan yang aman untuk dinding tembok fleksibel dengan h/L < ¼ ( h = tinggi dinding)
1/150
     
Untuk mempercepat proses perhitungan penurunan, berikut ini disajikan tutorial bagaimana mencari penurunan dengan bantuan program Plaxis 3D foundation. Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca pada e-book berikut ini link download 

Menurut Hardiyatmo, 2002, istilah penurunan digunakan untuk menunjukkan gerakan titik tertentu pada bangunan terhadap titik referensi yang tetap. Jika seluruh permukaan tanah dibawah dan disekitar bangunan turun secara seragam dan penurunan tidak terjadi berlebihan, maka turunnya bangunan akan tidak nampak oleh pandangan mata dan penurunan yang terjadi tidak menyebabkan kerusakan bangunan.
Bila penurunan terjadi secara berlebihan, maka akan nampak mengganggu pandangan mata maupun kesetabilan bangunan, hal yang perlu diketaui mengenai penurunan yaitu, besarnya penurunan maupun kecepatan penurunannya. Berikut ini contoh kerusakan akibat penurunan dapat dilihat pada Gambar 1. 
Gambar 1. Contoh Kerusakan Bangunan Akibat Penurunan

Agar secara teknis penurunan memenuhi syarat, maka penurunan suatu bangunan harus memenuhi penurunan izin. Penurunan izin dari suatu bangunan atau besarnya penurunan yang telah ditoleransikan, bergantung terhadap beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi jenis, tinggi, kekakuan, fungsi bangunan serta distribusinya. Rancangan dibutuhkan untuk dapat memperkirakan besarnya penurunan maksimum dan beda penurunan yang masih dalam batas toleransi. Jika penurunan berjalan lambat, semakin besar kemungkinan struktur untuk menyesuaikan diri terhadap penurunan yang terjadi tanpa adanya kerusakan struktur oleh pengaruh rangkak (creep), Oleh karena itu dengan alasan tersebut kriteria penurunan pondasi pada tanah pasir dan pada tanah lempung berbeda.
Karena penurunan dapat diprediksi, umumnya dapat diadakan hubungan antara penurunan izin dengan penurunan maksimum. Skempton dan Mac Donald, 1955, menyarankan batas-batas penurunan maksimum seperti yang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Batas Penurunan Maksimum
(Skempton dan Mac Donald, 1955)

Jenis Pondasi
Batas Penurunan Maksimum
(mm)
Pondasi terpisah pada tanah lempung
65
Pondasi terpisah pada tanah pasir
40
Pondasi rakit pada tanah lempung
65-100
Pondasi rakit pada tanah pasir
40-65

Bjerrum, 1963, menyarankan hubungan antara tipe masalah struktur dan nilai distorsi kaku (δ/L) dengan δ adalah penurunan total dan L adalah jarak antaara 2 kolom atau jarak 2 titik yang ditinjau. Nilai-nilai distorsi kaku dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel tersebut menjelaskan hubungan distorsi kaku dengan tipe kerusakan yang timbul akibat distorsi kaku. 

Tabel 2. Hubungan Tipe Masalah Pada Struktur
Dan Distorsi Kaku (Bjerrum, 1963)

Type masalah
Distorsi kaku
(δ/L)
Kesulitan pada mesin yang sensitif terhadap penurunan
1/700
Bahaya pada rangka-rangka dengan diagonal
1/600
Nilai batas untuk bangunan yang tidak diijinkan retak
1/500
Nilai batas dengan retakan pertama diharapkan terjadi pada dinding-dinding panel, atau dengan kesulitan terjadi pada overhead crane
1/300
Nilai pada batas penggulingan (miring) bangunan tingkat tinggi dapat terlihat
1/250
Retakan signifikan dalam panel dan tembok. Batasan yang aman untuk dinding tembok fleksibel dengan h/L < ¼ ( h = tinggi dinding)
1/150
     
Untuk mempercepat proses perhitungan penurunan, berikut ini disajikan tutorial bagaimana mencari penurunan dengan bantuan program Plaxis 3D foundation. Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca pada e-book berikut ini link download 

Selasa, 03 Januari 2017

Seringkali ketika kita akan mendesain dalam program plaxis (salahsatu software geoteknik) menemui kesulitan menentukan titik koordinat dari sebuah model, sehingga kadang titik koordinat tersebut harus dihitung dengan rumus tertentu, hal tersebut akan memerlukan waktu yang sangat lama, oleh karena itu dalam kesempatan ini akan dibahas sedikit tutorial menentukan titik koordinat pada plaxis dengan bantuan program autocad, khususnya program yang saya gunakan adalah program autocad 2007, berikut ini adalah langkah-langkahnya.


1.      Buat gambar objek yang akan didesain pada program autocad.

Misalnya kita akan membuat objek konstruksi tanggul.


Gambar 1. Gamba Konstruksi tanggul

2.      Pindahkan ke objek pada koorinat 0,0,0.
Cara memindahkan objek ke koordinat 0,0,0 adalah dengan menggunakan tools move atau dengan ketik M pada keyboard dengan sebelumnya blok obek tersebut, kemudian ketikkan pada commond angka koordinat 0,0,0 kemudian enter maka akan pindah objek tersebut seperti pada gambar berikut 


Gambar 2. Blok objek konstruksi tanggul


Gambar 3. Objek pindah pada koordinat 0,0,0

3.      Membuat titik koordinat referensi dengan tools poin.
Cari tools point pada autocad kemudian klik pada obek yang akan diadikan koordinat referensi.


Gambar 4. Membuat titi koordinat dengan tools point

4.      Cek titik koordinat titik referensi
Cek titik koordinat dengan menggunakan id pada keyboard kemudian arahkan pada titik point tersebut.


Gambar 5. Cek koodinat dengan perintah id

Dari hasil titik-titik koordinat kemudian dimasukkan ke program plaxis, berikut adalah hasil penggambaran koordinat-koordinat pada program plaxis

Gambar 6. Hasil penggambaran pada program plaxis 2D 

# Catatan, koordinat plaxis 2D dan autocad sudah sama, jika dengan plaxis 3D sesuaikan kembali pengaturan koordinatnya 


Seringkali ketika kita akan mendesain dalam program plaxis (salahsatu software geoteknik) menemui kesulitan menentukan titik koordinat dari sebuah model, sehingga kadang titik koordinat tersebut harus dihitung dengan rumus tertentu, hal tersebut akan memerlukan waktu yang sangat lama, oleh karena itu dalam kesempatan ini akan dibahas sedikit tutorial menentukan titik koordinat pada plaxis dengan bantuan program autocad, khususnya program yang saya gunakan adalah program autocad 2007, berikut ini adalah langkah-langkahnya.


1.      Buat gambar objek yang akan didesain pada program autocad.

Misalnya kita akan membuat objek konstruksi tanggul.


Gambar 1. Gamba Konstruksi tanggul

2.      Pindahkan ke objek pada koorinat 0,0,0.
Cara memindahkan objek ke koordinat 0,0,0 adalah dengan menggunakan tools move atau dengan ketik M pada keyboard dengan sebelumnya blok obek tersebut, kemudian ketikkan pada commond angka koordinat 0,0,0 kemudian enter maka akan pindah objek tersebut seperti pada gambar berikut 


Gambar 2. Blok objek konstruksi tanggul


Gambar 3. Objek pindah pada koordinat 0,0,0

3.      Membuat titik koordinat referensi dengan tools poin.
Cari tools point pada autocad kemudian klik pada obek yang akan diadikan koordinat referensi.


Gambar 4. Membuat titi koordinat dengan tools point

4.      Cek titik koordinat titik referensi
Cek titik koordinat dengan menggunakan id pada keyboard kemudian arahkan pada titik point tersebut.


Gambar 5. Cek koodinat dengan perintah id

Dari hasil titik-titik koordinat kemudian dimasukkan ke program plaxis, berikut adalah hasil penggambaran koordinat-koordinat pada program plaxis

Gambar 6. Hasil penggambaran pada program plaxis 2D 

# Catatan, koordinat plaxis 2D dan autocad sudah sama, jika dengan plaxis 3D sesuaikan kembali pengaturan koordinatnya 


Sabtu, 31 Desember 2016

Perhitungan daya dukung tiang bor pada dasarnya mengikuti rumus umum yaitu diperoleh dari penjumlahan tahanan ujung dan tahanan selimut, perhitungan ini yang dinyatakan dengan rumus berikut :

Qu = Qp + Qs - Wp

Dimana :
Qu       = Daya dukung ultimit tiang (ton)
Qp       = Daya dukung ultimit ujung tiang (ton)
Qs        = Daya dukung ultimit selimut tiang (ton)
Wp      = Berat pondasi tiang (ton)

Untuk menghitung besarnya daya dukung ultimit pada ujung tiang bor dapat dinyatakan dengan rumus :

Qp       = qp x A

Dimana :
Qp       = Daya dukung ultimit ujung tiang (ton)
qp        = Tahanan ujung per satuan Luas (ton/m2)
A         = Luas penampang tiang bor (m2)


Pada tanah kohesif besarnya tahanan ujung per satuan luas (qp), dapat diambil sebesar 9 * Kuat geser tanah (Su), sedangkan untuk tanah non kohesif Reese menggusulkan korelasi antara qp dengan Nspt seperti pada gambar berikut ini

Gambar 1. Tahanan Ujung ultimit pada tanah non-kohesif (Reese & Wright, 1977)

Sedangkan untuk menghitung daya dukung seimut dapat dinyatakan dengan rumus

Qs        = fs x L x P

Dimana :
Qs        = Daya dukung ultimit selimut tiang (ton)
fs         = gesekan selimut tiang (ton/m2)
L          = panjang tiang (m)
P          = Keliling penampang tiang (m)

Menurut Reese dan Wright, gesekan selimut tiang per satuan luas dipengaruhi oleh jenis tanah dan parameter kuat geser tanah. Untuk tanah kohesif gesekan selimut tiang dapat mengunakan formula sebagai berikut :

fs         = a x cu 

Dimana :
a          = faktor adhesi
cu        = kohesi tanah (ton/m2)

Berdasarkan hasil penelitian reese, faktor koreksi terhadap adhesi (a) dapat diambil sebesar 0.55, sedangkan untuk tanah non-kohesif nilai fs dapat diperoleh dari korelasi langsung dengan Nspt.


Gambar 2. Hubungan Tahanan selimut ultimit terhadap NSPT (Wright, 1977)


Keterangan : untuk mencari kuat geser tanah (Su) dapat diperoleh dari korelasi Nspt


Gambar 3. Perkiraan Hubungan NSPT vs. Su (Terzaghi & Peck, 1967; Sowers, 1979)

Perhitungan daya dukung tiang bor pada dasarnya mengikuti rumus umum yaitu diperoleh dari penjumlahan tahanan ujung dan tahanan selimut, perhitungan ini yang dinyatakan dengan rumus berikut :

Qu = Qp + Qs - Wp

Dimana :
Qu       = Daya dukung ultimit tiang (ton)
Qp       = Daya dukung ultimit ujung tiang (ton)
Qs        = Daya dukung ultimit selimut tiang (ton)
Wp      = Berat pondasi tiang (ton)

Untuk menghitung besarnya daya dukung ultimit pada ujung tiang bor dapat dinyatakan dengan rumus :

Qp       = qp x A

Dimana :
Qp       = Daya dukung ultimit ujung tiang (ton)
qp        = Tahanan ujung per satuan Luas (ton/m2)
A         = Luas penampang tiang bor (m2)


Pada tanah kohesif besarnya tahanan ujung per satuan luas (qp), dapat diambil sebesar 9 * Kuat geser tanah (Su), sedangkan untuk tanah non kohesif Reese menggusulkan korelasi antara qp dengan Nspt seperti pada gambar berikut ini

Gambar 1. Tahanan Ujung ultimit pada tanah non-kohesif (Reese & Wright, 1977)

Sedangkan untuk menghitung daya dukung seimut dapat dinyatakan dengan rumus

Qs        = fs x L x P

Dimana :
Qs        = Daya dukung ultimit selimut tiang (ton)
fs         = gesekan selimut tiang (ton/m2)
L          = panjang tiang (m)
P          = Keliling penampang tiang (m)

Menurut Reese dan Wright, gesekan selimut tiang per satuan luas dipengaruhi oleh jenis tanah dan parameter kuat geser tanah. Untuk tanah kohesif gesekan selimut tiang dapat mengunakan formula sebagai berikut :

fs         = a x cu 

Dimana :
a          = faktor adhesi
cu        = kohesi tanah (ton/m2)

Berdasarkan hasil penelitian reese, faktor koreksi terhadap adhesi (a) dapat diambil sebesar 0.55, sedangkan untuk tanah non-kohesif nilai fs dapat diperoleh dari korelasi langsung dengan Nspt.


Gambar 2. Hubungan Tahanan selimut ultimit terhadap NSPT (Wright, 1977)


Keterangan : untuk mencari kuat geser tanah (Su) dapat diperoleh dari korelasi Nspt


Gambar 3. Perkiraan Hubungan NSPT vs. Su (Terzaghi & Peck, 1967; Sowers, 1979)

Selasa, 25 Oktober 2016




Faktor utama yang sering menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis pondasi adalah biaya dan keandalannya. Keandalan disini merupakan keyakinan dari ahli pondasi dimana rancangan yang tertulis dalam dokumen desain akan memperoleh kondisi yang mendekati kondisi lapangan, sehingga dapat memikul beban dengan suatu faktor keamanan yang memadai. kemajuan-kemajuan telah diperoleh terhadap informasi mengenai perilaku tiang bor dengan adanya instrumentasi pada tiang bor yang diuji.
Pondasi tiang bor mempunyai karakteristik khusus karena cara pelaksanaannya yang dapat mengakibbatkan perbedaan perilakunya di bawah pembebanan dibandingkan dengan tiang pancang. Hal-hal yang mengakibatkan perbedaan tersebut diantaranya adalah :
  • Tiang bor dilaksanakan dengan menggali lubang bor dan mengisinya dengan material beton, sedangkan tiang pancang dimasukkan ketanah dengan mendesak tanah disekitarnya.
  •  Beton dicor dengan keadaan basah dan mengalami masa curing di bawah tanah.
  •   Kadang-kadang digunakan casing untuk menjaga stabiitas dinding lubang bor dan dapat pula casing tersebut tidak dicabut karena kesulitan dilapangan.
  •  Kadang-kadang digunakan slurry untuk menjaga stabilitas lubang bor yang dapat membentuk lapisan lumpur pada dinding galian serta mempengaruhi mekanisme gesekan tiang dengan tanah.
  •  Cara penggalian lubang bor disesuaikan dengan kondisi tanah.

Beberapa masalah pada tiang bor yang belum terjawab diantaranya adalah :
  •          Besarnyya reduksi kuat geser tanah akibat cara pemboran yang berbeda.
  •          Efek migrasi air dari beton ke dalam tanah.
  •          Pengaruh dari teknik pelaksanaan.
  •          Pemikulan beban di dasar tiang bor

Beberapa keuntungan pemakaian pondasi tiang bor adalah :
  •          Metode desain yang semakin handal. Berbagai metode desain yang rasional telah dikembangkan untuk berbagai macam pembbebanan dan kondisi tanah.
  •          Kepastian penentuan kedalam elevasi ujung pondasi atau lapisan pendukung. Penentuan lokasi yang pasti dari penggalian untuk pondasi tiang bor dapat diinspeksi atau diukur, sedangkan pada pondasi tiang pancang lokasi dapat menyimpang dari lokasinya akibat adanya lapisan batuan, batu besar dan faktor-faktor lainnya.
  •          Inspeksi tanah hasil pemboran. Keandalan desain dari pondasi hanya baik apabila tanah diketahui. Pada pondasi tiang bor, saat pengalian atau pengeboran dapat dilakukan pemeriksaan mengenai jenis tanah untuk dibandingkan dengan jenis tanah ang digunakan dalam perencanaan.
  •          Dapat dilakukan pada berbagai jenis tanah. Pondasi tiang bor pada umumnya dapat dikonstuksi pada hampir semua jenis tanah. Penetrasi dapat dilakukan pada tanah kerikil dan breksi, juga dapat menembus batuan.
  •          Gangguan lingkungan yang minimal. Suara, getaran dan gerakan dari tanah sekitarnya dapat dikatakan minimum.
  •          Kemudahan terhadap perubahan konstruksi. Kontraktor dapat dengan mudah mengikuti perubahan diameter atau panjang tiang bor, untuk mengkompensasikan suatu kondisi yang tidak terduga.
  •          Umumnya daya dukung yang amat tinggi memungkinkan perencanaan satu kolom dengan dukungan satu tiang sehingga dapat menghemat kebutuhan untuk pile cap.
  •          Kepala atau bagian atas tiang dapat diperbesar bila diperlukan, misalnya untuk meningkatkan inersia terhadap momen.
  •          Kaki atau ujung bawah tiang dapat diperbesar untuk meningkatkan daya dukung ujung tiang, baik dalam pembebanan tekan maupun tarik
  •          Tiang bor dengan diameter 0.5 hingga 6.0 m sudah dapat dibuat.
  •          Tidak ada resiko penyembulan (heaving)

Namun demikian terdapat juga kekurangan dengan tiang bor :
  •          Berbeda dengan tiang pancang atau pondasi dangkal, pelaksanaan konstruksi tiang bor yang sukses sangat bergantung pada ketrampilan dan kemampuan dari kontraktor, dimana pelaksanaan yang buruk dapat menyebabkan penurunan daya dukung yang signifikan.
  •          Kondisi tanah dikaki tiang seringkali rusak oleh proses pemboran, terjadi tumpukan tanah dari runtuhan didnding tiang bor atau sedimentasi lumpur, sehingga seringkali daya dukung ujung dari tiang bor tidak dapat diandalkan.
  •          Pengecoran beton bukan pada kondisi ideal dan tidak dapat segera diperiksa.
  •          Berbahaya bila ada tekanan artesis karena tekanan ini dapat menerobos keatas.


Sebagai konsekwensi dari keandalan yang ditawarkan oleh pondasi tiang bor, perhatian yang lebih besar juga harus dicurahkan pada detail pelaksanaannya an pengaruh potensial terhadap perilaku serta biaya konstruksinya. Hal ini dapat menuntut investasi lanjut, misalnya untuk memperoleh data penelidikan tanah yang lebbih akurat dan perencana atau pengawas yang berpengalaman untuk pekerjaan inspeksi.




Faktor utama yang sering menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis pondasi adalah biaya dan keandalannya. Keandalan disini merupakan keyakinan dari ahli pondasi dimana rancangan yang tertulis dalam dokumen desain akan memperoleh kondisi yang mendekati kondisi lapangan, sehingga dapat memikul beban dengan suatu faktor keamanan yang memadai. kemajuan-kemajuan telah diperoleh terhadap informasi mengenai perilaku tiang bor dengan adanya instrumentasi pada tiang bor yang diuji.
Pondasi tiang bor mempunyai karakteristik khusus karena cara pelaksanaannya yang dapat mengakibbatkan perbedaan perilakunya di bawah pembebanan dibandingkan dengan tiang pancang. Hal-hal yang mengakibatkan perbedaan tersebut diantaranya adalah :
  • Tiang bor dilaksanakan dengan menggali lubang bor dan mengisinya dengan material beton, sedangkan tiang pancang dimasukkan ketanah dengan mendesak tanah disekitarnya.
  •  Beton dicor dengan keadaan basah dan mengalami masa curing di bawah tanah.
  •   Kadang-kadang digunakan casing untuk menjaga stabiitas dinding lubang bor dan dapat pula casing tersebut tidak dicabut karena kesulitan dilapangan.
  •  Kadang-kadang digunakan slurry untuk menjaga stabilitas lubang bor yang dapat membentuk lapisan lumpur pada dinding galian serta mempengaruhi mekanisme gesekan tiang dengan tanah.
  •  Cara penggalian lubang bor disesuaikan dengan kondisi tanah.

Beberapa masalah pada tiang bor yang belum terjawab diantaranya adalah :
  •          Besarnyya reduksi kuat geser tanah akibat cara pemboran yang berbeda.
  •          Efek migrasi air dari beton ke dalam tanah.
  •          Pengaruh dari teknik pelaksanaan.
  •          Pemikulan beban di dasar tiang bor

Beberapa keuntungan pemakaian pondasi tiang bor adalah :
  •          Metode desain yang semakin handal. Berbagai metode desain yang rasional telah dikembangkan untuk berbagai macam pembbebanan dan kondisi tanah.
  •          Kepastian penentuan kedalam elevasi ujung pondasi atau lapisan pendukung. Penentuan lokasi yang pasti dari penggalian untuk pondasi tiang bor dapat diinspeksi atau diukur, sedangkan pada pondasi tiang pancang lokasi dapat menyimpang dari lokasinya akibat adanya lapisan batuan, batu besar dan faktor-faktor lainnya.
  •          Inspeksi tanah hasil pemboran. Keandalan desain dari pondasi hanya baik apabila tanah diketahui. Pada pondasi tiang bor, saat pengalian atau pengeboran dapat dilakukan pemeriksaan mengenai jenis tanah untuk dibandingkan dengan jenis tanah ang digunakan dalam perencanaan.
  •          Dapat dilakukan pada berbagai jenis tanah. Pondasi tiang bor pada umumnya dapat dikonstuksi pada hampir semua jenis tanah. Penetrasi dapat dilakukan pada tanah kerikil dan breksi, juga dapat menembus batuan.
  •          Gangguan lingkungan yang minimal. Suara, getaran dan gerakan dari tanah sekitarnya dapat dikatakan minimum.
  •          Kemudahan terhadap perubahan konstruksi. Kontraktor dapat dengan mudah mengikuti perubahan diameter atau panjang tiang bor, untuk mengkompensasikan suatu kondisi yang tidak terduga.
  •          Umumnya daya dukung yang amat tinggi memungkinkan perencanaan satu kolom dengan dukungan satu tiang sehingga dapat menghemat kebutuhan untuk pile cap.
  •          Kepala atau bagian atas tiang dapat diperbesar bila diperlukan, misalnya untuk meningkatkan inersia terhadap momen.
  •          Kaki atau ujung bawah tiang dapat diperbesar untuk meningkatkan daya dukung ujung tiang, baik dalam pembebanan tekan maupun tarik
  •          Tiang bor dengan diameter 0.5 hingga 6.0 m sudah dapat dibuat.
  •          Tidak ada resiko penyembulan (heaving)

Namun demikian terdapat juga kekurangan dengan tiang bor :
  •          Berbeda dengan tiang pancang atau pondasi dangkal, pelaksanaan konstruksi tiang bor yang sukses sangat bergantung pada ketrampilan dan kemampuan dari kontraktor, dimana pelaksanaan yang buruk dapat menyebabkan penurunan daya dukung yang signifikan.
  •          Kondisi tanah dikaki tiang seringkali rusak oleh proses pemboran, terjadi tumpukan tanah dari runtuhan didnding tiang bor atau sedimentasi lumpur, sehingga seringkali daya dukung ujung dari tiang bor tidak dapat diandalkan.
  •          Pengecoran beton bukan pada kondisi ideal dan tidak dapat segera diperiksa.
  •          Berbahaya bila ada tekanan artesis karena tekanan ini dapat menerobos keatas.


Sebagai konsekwensi dari keandalan yang ditawarkan oleh pondasi tiang bor, perhatian yang lebih besar juga harus dicurahkan pada detail pelaksanaannya an pengaruh potensial terhadap perilaku serta biaya konstruksinya. Hal ini dapat menuntut investasi lanjut, misalnya untuk memperoleh data penelidikan tanah yang lebbih akurat dan perencana atau pengawas yang berpengalaman untuk pekerjaan inspeksi.

Kamis, 09 Juni 2016

Dari hasil uji pembebanan (loading test), dapat dilakukan interpretasi untuk menentukan besarnya beban ultimit. Ada berbagai metode interpretasi , diantaranya
1.       Metode Davisson (1972)
2.       Metode Mazurkiewicz (1972)
3.       Metode Chin (1970,1971)
4.       Kriteria Brinch Hansen 90% ( 1963)
5.       Kriteria Brinch Hansen 80% ( 1963)
6.       Metode Fuller dan Hoy (1970)
7.       Metode Butler dan Hoy (1977)
8.       Metode Decourt (1999)
Pada kali ini pembahasan yang akan dibahas adalah metode mazurkiewicz
Dalam metode ini penentuan beban utimit dari pondasi tiang memeiliki prosedur sebagai berikut :
a.       Gambar kurva beban terhadap penurunan
b.       Tentukan beberapa titik pada sumbu penurunan dengan interval penurunan yang sama
c.        Tarik garis sejajar dengan sumbu beban dari beberapa titik penurunan yang telah ditentukan hingga memotong kurva, dan tarik garis sejajar sumbu penurunan hingga memotong sumbu beban
d.       dari perpotongan setiap beban tersebut, tarik garis yang membentuk sudut 45 derajat terhadap garis perpotongan berikutnya, dan seterusnya

e.       Tarik garis lurus yang mewakili titik-titik yang terbentuk. perpotongan garis lurus ini dengan sumbu beban merupakan beban beban ultimit dari tiang.
Gambar 1. Hasil Olah Data Loading test

Gambar 1. Interpetasi daya dukung dengan metode Mazurkiewicz

Dari hasil uji pembebanan (loading test), dapat dilakukan interpretasi untuk menentukan besarnya beban ultimit. Ada berbagai metode interpretasi , diantaranya
1.       Metode Davisson (1972)
2.       Metode Mazurkiewicz (1972)
3.       Metode Chin (1970,1971)
4.       Kriteria Brinch Hansen 90% ( 1963)
5.       Kriteria Brinch Hansen 80% ( 1963)
6.       Metode Fuller dan Hoy (1970)
7.       Metode Butler dan Hoy (1977)
8.       Metode Decourt (1999)
Pada kali ini pembahasan yang akan dibahas adalah metode mazurkiewicz
Dalam metode ini penentuan beban utimit dari pondasi tiang memeiliki prosedur sebagai berikut :
a.       Gambar kurva beban terhadap penurunan
b.       Tentukan beberapa titik pada sumbu penurunan dengan interval penurunan yang sama
c.        Tarik garis sejajar dengan sumbu beban dari beberapa titik penurunan yang telah ditentukan hingga memotong kurva, dan tarik garis sejajar sumbu penurunan hingga memotong sumbu beban
d.       dari perpotongan setiap beban tersebut, tarik garis yang membentuk sudut 45 derajat terhadap garis perpotongan berikutnya, dan seterusnya

e.       Tarik garis lurus yang mewakili titik-titik yang terbentuk. perpotongan garis lurus ini dengan sumbu beban merupakan beban beban ultimit dari tiang.
Gambar 1. Hasil Olah Data Loading test

Gambar 1. Interpetasi daya dukung dengan metode Mazurkiewicz

Selasa, 07 Juni 2016

FOR SALE!!!
Dapatkan “FLASDISK KUMPULAN TUTORIAL + GAMBAR LENGKAP”, Paket Flasdisk ini meliputi :
1. Tutorial Plaxis 2D + File Instaler Plaxis 2D
2. Tutorial Plaxis 3D Foundation + File Instaler Plaxis 3D Foundation
3. Tutorial Geoslpoe
4. Tutorial Pengujian Tanah
5. Gambar Jembatan Komposit (Format Autocad)
6. Gambar Jembatan Baja (Format autocad)
7. Gambar Bangunan Air (Format autocad)
8. Gambar Masjid (Format autocad)
Bukan itu saja, anda akan mendapatkan BONUS 5000 Gambar diantaranya :
- Denah Rumah
- Interior Rumah
- Eksterior Rumah
- Gazebo
- Library Cad
HARGA PAKET FLASDISK INI HANYA Rp.200 ribu, KARENA FLASDISK INI LOUNCHING PERTAMA MAKA ANDA BERHAK MENDAPATKAN FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA

# Dalam Rangka menyambut Ramadhan Paket Flasdisk ini juga mempunyai program yaitu setiap pembelian yang anda lakukan akan disumbangkan 10.000 untuk pembangunan masjid, Dapatkan Flasdisknya raih amal soleh dengan sedekah

FOR SALE!!!
Dapatkan “FLASDISK KUMPULAN TUTORIAL + GAMBAR LENGKAP”, Paket Flasdisk ini meliputi :
1. Tutorial Plaxis 2D + File Instaler Plaxis 2D
2. Tutorial Plaxis 3D Foundation + File Instaler Plaxis 3D Foundation
3. Tutorial Geoslpoe
4. Tutorial Pengujian Tanah
5. Gambar Jembatan Komposit (Format Autocad)
6. Gambar Jembatan Baja (Format autocad)
7. Gambar Bangunan Air (Format autocad)
8. Gambar Masjid (Format autocad)
Bukan itu saja, anda akan mendapatkan BONUS 5000 Gambar diantaranya :
- Denah Rumah
- Interior Rumah
- Eksterior Rumah
- Gazebo
- Library Cad
HARGA PAKET FLASDISK INI HANYA Rp.200 ribu, KARENA FLASDISK INI LOUNCHING PERTAMA MAKA ANDA BERHAK MENDAPATKAN FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA

# Dalam Rangka menyambut Ramadhan Paket Flasdisk ini juga mempunyai program yaitu setiap pembelian yang anda lakukan akan disumbangkan 10.000 untuk pembangunan masjid, Dapatkan Flasdisknya raih amal soleh dengan sedekah

Senin, 06 Juni 2016

Cara yang paling dapat diandalkan untuk menguji daya dukung pondasi tiang adalah dengan uji pembebanan statik. Interpretasi dari hasil uji pembebanan static merupakan bagian yang cukup penting untuk mengetahui respon tiang pada selimut dan ujungnya serta besarnya daya dukung ultimitnya. Berbagai metode interpretasi perlu mendapat perhatian dalam hal nilai daya dukung ultimit yang diperoleh karena setiap metode dapat memberikan hasil yang berbeda. Yang terpenting adalah agar dari hasil uji pembebanan static, seorang praktisi dalam rekayasa pondasi dapat menentukan mekanisme yang terjadi, misalnya dengan melihat kurva beban-penurunan, besarnya deformasi plastis tiang, kemungkinan terjadinya kegagalan bahan tiang, dan sebagainya.
Pengujian hingga 200% dari beban kerja sering dilakukan pada tahap verifikasi daya dukung, tetapi untuk alas an lain misalnya untuk keperluan optimasi dan untuk control beban ultimit pada gempa kuat, seringkali diperlukan pengujian 250% hingga 300% dari beban kerja.
Pengujian beban statik melibatkan pemberian beban statik dan pengukuran pergerakan tiang. Beban-beban umumnya diberikan secara bertahap dan penurunan tiang diamati. Umumnya definisi keruntuhan yang diterima dan dicatat untuk interpretasi lebih lanjut adalah bila dibawah suatu beban yang konstan. tiang terus menerus mengalami penurunan. Pada umumnya beban runtuh tidak dicapai pada saat pengujian. Oleh karena itu daya dukung ultimit dari tiang hanya merupakan suatu estimasi. Sesudah tiang uji dipersiapkan (di pancang atau di cor), perlu ditunggu dulu selama 7 hingga 30 hari sebelum tiang dapat di uji. Hal ini penting untuk memungkinkan tanah yang telah terganggu kembali ke keadaan semula.
Beban kontra dapat dilakukan dengan dua cara kentledge seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, selain itu juga dapat digunakan kerangka baja atau jangkar pada tanah, Pembebanan diberikan pada tiang dengan menggunakan dongkrak hidrolik.
Pergerakan tiang dapat diukur dengan menggunakan satu set dial gauges yang dipasang kepada kepala tiang. Toleransi pembacaan antara satu dial gauges dial gauges dengan dial gauges lainnya adalah 1 mm. Dalam banyak hal, sangat penting untuk mengukur pergerakan relatif dari tiang.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari interaksi tanah dengan tiang, pengujian tiang sebaiknya dilengkapi instrumentasi. Instrumentasi yang dapat digunakan adalah strain gauges yang dapat dipasang pada lokasi-lokasi tertentu disepanjang tiang, tell tales pada kedalaman-kedalaman tertentu, atau load cell yang ditempatkan di bawah kaki tiang. Instrumentasi dapat memberikan informasi mengenai pergerakan kaki tiang, deformasi sepanjang tiang, atau distribusi beban sepanjang tiang selama pengujian. Sumber : Manual Pondasi Tiang
Gambar 1. Pengujian dengan Kentledge


Cara yang paling dapat diandalkan untuk menguji daya dukung pondasi tiang adalah dengan uji pembebanan statik. Interpretasi dari hasil uji pembebanan static merupakan bagian yang cukup penting untuk mengetahui respon tiang pada selimut dan ujungnya serta besarnya daya dukung ultimitnya. Berbagai metode interpretasi perlu mendapat perhatian dalam hal nilai daya dukung ultimit yang diperoleh karena setiap metode dapat memberikan hasil yang berbeda. Yang terpenting adalah agar dari hasil uji pembebanan static, seorang praktisi dalam rekayasa pondasi dapat menentukan mekanisme yang terjadi, misalnya dengan melihat kurva beban-penurunan, besarnya deformasi plastis tiang, kemungkinan terjadinya kegagalan bahan tiang, dan sebagainya.
Pengujian hingga 200% dari beban kerja sering dilakukan pada tahap verifikasi daya dukung, tetapi untuk alas an lain misalnya untuk keperluan optimasi dan untuk control beban ultimit pada gempa kuat, seringkali diperlukan pengujian 250% hingga 300% dari beban kerja.
Pengujian beban statik melibatkan pemberian beban statik dan pengukuran pergerakan tiang. Beban-beban umumnya diberikan secara bertahap dan penurunan tiang diamati. Umumnya definisi keruntuhan yang diterima dan dicatat untuk interpretasi lebih lanjut adalah bila dibawah suatu beban yang konstan. tiang terus menerus mengalami penurunan. Pada umumnya beban runtuh tidak dicapai pada saat pengujian. Oleh karena itu daya dukung ultimit dari tiang hanya merupakan suatu estimasi. Sesudah tiang uji dipersiapkan (di pancang atau di cor), perlu ditunggu dulu selama 7 hingga 30 hari sebelum tiang dapat di uji. Hal ini penting untuk memungkinkan tanah yang telah terganggu kembali ke keadaan semula.
Beban kontra dapat dilakukan dengan dua cara kentledge seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, selain itu juga dapat digunakan kerangka baja atau jangkar pada tanah, Pembebanan diberikan pada tiang dengan menggunakan dongkrak hidrolik.
Pergerakan tiang dapat diukur dengan menggunakan satu set dial gauges yang dipasang kepada kepala tiang. Toleransi pembacaan antara satu dial gauges dial gauges dengan dial gauges lainnya adalah 1 mm. Dalam banyak hal, sangat penting untuk mengukur pergerakan relatif dari tiang.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari interaksi tanah dengan tiang, pengujian tiang sebaiknya dilengkapi instrumentasi. Instrumentasi yang dapat digunakan adalah strain gauges yang dapat dipasang pada lokasi-lokasi tertentu disepanjang tiang, tell tales pada kedalaman-kedalaman tertentu, atau load cell yang ditempatkan di bawah kaki tiang. Instrumentasi dapat memberikan informasi mengenai pergerakan kaki tiang, deformasi sepanjang tiang, atau distribusi beban sepanjang tiang selama pengujian. Sumber : Manual Pondasi Tiang
Gambar 1. Pengujian dengan Kentledge


Jumat, 03 Juni 2016

Burhan, anak yang terkenal paling okem di kampung itu kini telah berubah. Alhamdulillah, barangkali inilah ‘hikmah’nya bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Jika Burhan pada bulan biasanya tampil mirip-mirip para personelnya Limp Bizkit atawa Korn, yang memang pada liar, kini doi kelihatan lebih tenang. Raut muka yang bulan kemarin bertampang Romusa, alias Roman Muka Sadis, kini setelahnya Primus, alias Pria Muka Sholeh. Kalo dulu, kemana-mana nyekek botol cap “Topi Miring” kini lebih sering bawa al-Quran dan kepalanya tertutup peci (tapi bukan peci miring lho, he..he..he..), bahkan doi ikutan aktif di remaja masjid di kampungnya. Pokoknya, kita-kita kaget banget, tapi sekaligus senang, karena ada perubahan dalam diri doi. Syukurlah.
Burhan, orangnya memang cool, tapi dulu suka bikin kesel. Makanya, anak-anak kampung situ suka ngeledekin doi dengan membuat akronim untuk namanya, Burhan, adalah akronim dari burung hantu. Hih (nyambung nggak seh? He..he..he..). Tapi label itulah yang diberikan teman-temannya saat Burhan merajalela dengan kemaksiatannya. Yup, ketika Burhan lagi seneng-senengnya berbuat dosa. Tapi sekali lagi, alhamdulillah, sekarang nggak lagi. Moga-moga seterusnya berubah jadi baik, bukan sekadar jeda, untuk kemudian kembali gokil. Amit-amit ya? Meskipun doi imut-imut (tapi ini bukan akronim dari item mutlak lho...)
Sobat muda muslim, contoh kasus Burhan kayaknya menarik juga. Moga aja bisa jadi semacam cermin buat kita, ternyata orang sebejat apapun dia, insya Allah masih bisa berubah. Tentunya jika dia memang berusaha keras untuk mengubah dirinya. Sekadar tahu saja, perubahan Burhan nggak begitu saja terjadi. Tapi, teman-teman di sekitar Burhan sebelumnya juga kerap ngingetin doi. Lama-lama doi mikir juga, ternyata banyak temannya yang mau peduli dengan doi. Ternyata begitu berharga memiliki teman-teman baik. Teman yang mau bersusah payah mengingatkan dirinya di kala berada dalam kegelapan. Teman yang mampu menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam kehidupannya. Maka, sungguh sangat malu bagi Burhan, jika temannya begitu menaruh perhatian kepada masa depan dirinya, sementara dirinya sendiri masa bodoh dengan masa depan. Inilah yang membuat Burhan mau mikir dan akhirnya berubah.
Nah, proses ini kemudian menghantarkan Burhan mulai mengenal Islam. Bulan Ramadhan inilah waktu yang pas buat doi untuk berubah. Ramadhan memang mampu menjadikan orang bisa mengubah gaya hidupnya. Tentu buat mereka yang memang menginginkan dengan serius perubahan dalam dirinya. Tapi, bagi mereka yang hanya menganggap bahwa Ramadhan adalah bulan dimana dia kudu berubah sesaat, maka orang model begitu kemungkinan besar nggak akan berubah menuju kebaikan. Buktinya, banyak seleb yang begitu. Sebelum Ramadhan kelakuannya naudzubillah, pas Ramadhan berubah drastis, jadi kalem. Eh, begitu selesai Ramadhan, mereka kembali ‘gila’. Emang sih bukan cuma kalangan seleb yang begitu rupa, dari kalangan kita-kita juga banyak. But, berhubung kaum seleb mudah dilihat penampilannya di layar kaca dan media cetak, maka merekalah yang paling mungkin untuk disorot. Duh, pada sadar ngapa?
Yang taat Vs yang maksiat
Memang sih, pengennya ketika Ramadhan tiba, maksiat serta merta jeda, atau malah reda sama sekali. Tapi lain di harapan, lain pula dalam kenyataan. Di satu sisi, kita nggak menutup mata kalo memang ada perubahan yang berarti bagi sebagian dari kita. Tapi kita juga prihatin, sebab masih ada juga yang nggak kenal kata akhir dalam maksiat. Ramadhan dibabat juga. Orang model begini memang rada susah diajak untuk baik.
Coba deh kalo kamu jalan-jalan ke pasar, meski di hari pertama bulan puasa, sudah banyak dijumpai mereka yang melalaikan kewajiban puasa. Konyolnya, sambil melayani pembeli mulutnya nggak berhenti ngunyah makanan. Padahal, mereka muslim lho. Tapi apa mau dikata, orang model begitu maunya menang sendiri. Kalo disebut bukan Islam kayaknya bakalan murka juga, tapi, kelakuannya malah bertolak belakang dengan prinsip hidup seorang muslim. Apa nggak aneh tuh orang?
Malah, bulan suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum untuk menambah kuantitas amal dan kualitas amal kita, ternyata justru dinodai dengan tetap bukanya tempat-tempat hiburan yang full maksiat. Coba, siapa yang kagak dongkol?
Eh, udah gitu, di Surabaya beberapa hari menjelang Ramadhan ratusan pekerja seks komersial (baca: pelacur) yang bekerja di diskotik, bar, dan club-club malam memprotes pemda kota Surabaya agar mencabut larangan beroperasinya hiburan malam di kota tersebut selama Ramadhan. Sebab, kalo tempat itu ditutup mereka nggak bisa kerja. Parahnya lagi, mereka berdalih bahwa jika mereka tidak bekerja di tempat hiburan tersebut, bagaimana bisa membeli kebutuhan untuk lebaran? Waduh, ini benar-benar IQ jongkok! Sori rada kasar dikit. Lebaran mau, tapi maksiat jalan terus. Wah, berarti perzinahan jalan terus meski sedang puasa. Aduh, pantas jika Allah murka kepada mereka. Rasulullah saw. bersabda: “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132).
Sobat muda muslim, terus terang kita sedih, kesal, dan juga kecewa dengan kenyataan ini. Ternyata Ramadhan, bagi sebagian dari kaum muslimin yang masih getol maksiat, tidak membuat mereka berhenti dan meninggalkan kebiasaan buruk dan terkutuknya itu. Malah tetep maju terus pantang mundur. Mereka bisa berbuat begitu, selain karena kebodohannya, juga karena kemalasannya untuk mencari ilmu, yakni malas untuk mengetahui tentang ajaran Islam. Jadi ada kesan masa bodoh dengan ajaran Islam. Dengan demikian, orang model begini layak dicap sebagai orang yang tak mau tahu dengan ajaran Islam. Bahaya sobat.
Begitu pula kita prihatin dengan kondisi pergaulan teman-teman remaja, baik di kota maupun di desa. Ternyata aktivitas maksiatnya tetep jalan meski sedang berpuasa. Ambil contoh tentang pergualan laki-perempuan, sampe sekarang masih dijumpai remaja yang tak bisa lepas dari pacaran. Maka jangan kaget jika acara JJS (Jalan-Jalan Subuh) di bulan Ramadhan jadi ajang untuk PDKT dengan pasangannya. Hasilnya, mulut mereka memang puasa dari makan dan minum, tapi beliau-beliau ini tidak tidak puasa dari berbuat maksiat. STMJ, Shaum Terus, Maksiat Jalan! Walah?
Maka, kita-kita ingin ngingetin teman-teman yang masih doyan maksiat, tolong hentikan semua aktivitas tercela itu. Mari kita mengubah diri kita dengan Islam, dan tentunya tidak setengah-setengah, tapi kudu totalitas dengan tuntunan Islam. Yang memang satu-satunya solusi untuk kemaslahatan manusia di muka bumi ini. Maka sungguh heran jika masih ada manusia yang nggak demen dengan Islam. Apalagi sampe membencinya setengah mati. Kita nggak ingin menyaksikan ada umat Islam yang tidak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Mengerikan banget kalo memang itu terjadi. Semoga saja, temen-temen remaja segera sadar dari kekeliruannya. Oke deh, pengennya kita neh, kamu-kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat. Jadi, jangan coba-coba maksiat lagi ya?
Jangan malu untuk berubah!
Sobat muda muslim, kalo merhatiin perkembangan sekarang, kayaknya dari kita-kita jadi pada malu untuk berbuat baik. Nggak semua sih, tapi.. ada aja. Aneh memang. Padahal, justru kudu bangga kalo kita berbuat kebenaran dan kebaikan sesuai ajaran agama kita, Islam. Mau bukti?
Hmm.. kelihatannya udah mengikis rasa bangga menjadi seorang muslim. Teman remaja kita justru bisa merasa bangga ketika menyandang cacat, eh, predikat yang wah di mata masyarakat umum. Misalnya, ada anak (sekaligus orangtuanya) yang bangga kalo jadi bagian dari anggota paskibra (pasukan pengibar bendera). Ada juga yang bangga jika doi adalah pemain basket. Maka, jangan kaget kalo doi kerapkali memamerkan keterampilannya dalam memainkan bola basket tersebut. Ada juga teman yang merasa udah hebat kalo doi jadi orang yang wara-wiri di panggung show.
Sayangnya, kebanggaan semu seperti itu seperti telah mengubur kebanggaan lainnya, yang justru kudu dimiliki setiap muslim, yakni bangga menjadi seorang muslim. Sori, bukannya kita merendahkan teman-teman yang punya keahlian di bidang yang tadi kita sebutkan. Nggak. Kita ‘menghargai’ kok. Tapi inget lho, kebanggaan seperti itu nggak akan memberikan kontribusi yang besar untuk kemajuan Islam. Lagian itu kan kebanggaan semu.
Oke, rasanya kudu ditumbuhkan kembali kebanggaan menjadi seorang muslim. Itu sebabnya, jangan minder kalo jadi anak muslim. Jangan pernah merasa bersalah dan mengutuki diri sendiri hanya gara-gara kamu muslim. Sehingga membuat kamu kudu tampil dengan gaya hidup seperti orang-orang Barat. Kamu pun jadi terbiasa dengan model kehidupannya. Bahkan untuk sekadar nama saja, kamu pengen nama itu terdengar modern, dan tentu mengandung unsur dari ‘kulon’. Maka jangan heran jika para orangtua di kampung saja bangga punya anak yang namanya David, misalkan. Lucunya, kalo pas ditanya, “David ke mana?” Jawabannya, “Lagi ngambil kayu di hutan” Wackss..? Jangan-jangan namanya David Bacem! ?
Sobat muda muslim, dengan menuliskan gambaran seperti itu, tentunya kita punya tujuan ingin mengajak kamu untuk berubah. Jadi kita harap kamu jangan males, apalagi malu untuk berubah menjadi baik. Kalo dulu kamu bangga dengan hal-hal sepele, termasuk bangga menjadi bagian dari masyarakat Barat, maka sekarang tunjukan kebanggaan kamu sebagai seorang muslim. Nggak ada salahnya kamu belajar dari kasus Burhan di atas. Dari okem menjadi alim. Sebuah prestasi hebat bukan? Dan itu hanya bisa diraih ketika kita juga punya niatan yang benar dan sungguh-sungguh ingin mengubah diri. Sebab, Allah akan menolong orang-orang yang memang mau mengubah dirinya. Firman Allah Swt.: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (TQS ar-Ra’d [13]: 11)
Dalam ayat lain, Allah Swt. Akan menolong orang-orang yang beriman. Jadi, kalo pengen ditolong oleh Allah di dunia dan di akhirat, maka jangan malu untuk berbuat baik (baca: beriman) Allah Swt. menjelaskan: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (TQS al-Mukmin [40]: 51)
Yuk, kita benahi diri kita untuk menjadi baik mumpung bulan Ramadhan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang mendapat berkah, rahmat, dan ampunan. Jadi, jangan takut untuk berubah menjadi baik! Semoga ‘semangat’ Ramadhan ini bikin kita berhenti sama sekali dari perbuatan maksiat. Dan sebaliknya, kita getol beribadah. Amin.?
Sumber : Buletin Studia


Burhan, anak yang terkenal paling okem di kampung itu kini telah berubah. Alhamdulillah, barangkali inilah ‘hikmah’nya bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Jika Burhan pada bulan biasanya tampil mirip-mirip para personelnya Limp Bizkit atawa Korn, yang memang pada liar, kini doi kelihatan lebih tenang. Raut muka yang bulan kemarin bertampang Romusa, alias Roman Muka Sadis, kini setelahnya Primus, alias Pria Muka Sholeh. Kalo dulu, kemana-mana nyekek botol cap “Topi Miring” kini lebih sering bawa al-Quran dan kepalanya tertutup peci (tapi bukan peci miring lho, he..he..he..), bahkan doi ikutan aktif di remaja masjid di kampungnya. Pokoknya, kita-kita kaget banget, tapi sekaligus senang, karena ada perubahan dalam diri doi. Syukurlah.
Burhan, orangnya memang cool, tapi dulu suka bikin kesel. Makanya, anak-anak kampung situ suka ngeledekin doi dengan membuat akronim untuk namanya, Burhan, adalah akronim dari burung hantu. Hih (nyambung nggak seh? He..he..he..). Tapi label itulah yang diberikan teman-temannya saat Burhan merajalela dengan kemaksiatannya. Yup, ketika Burhan lagi seneng-senengnya berbuat dosa. Tapi sekali lagi, alhamdulillah, sekarang nggak lagi. Moga-moga seterusnya berubah jadi baik, bukan sekadar jeda, untuk kemudian kembali gokil. Amit-amit ya? Meskipun doi imut-imut (tapi ini bukan akronim dari item mutlak lho...)
Sobat muda muslim, contoh kasus Burhan kayaknya menarik juga. Moga aja bisa jadi semacam cermin buat kita, ternyata orang sebejat apapun dia, insya Allah masih bisa berubah. Tentunya jika dia memang berusaha keras untuk mengubah dirinya. Sekadar tahu saja, perubahan Burhan nggak begitu saja terjadi. Tapi, teman-teman di sekitar Burhan sebelumnya juga kerap ngingetin doi. Lama-lama doi mikir juga, ternyata banyak temannya yang mau peduli dengan doi. Ternyata begitu berharga memiliki teman-teman baik. Teman yang mau bersusah payah mengingatkan dirinya di kala berada dalam kegelapan. Teman yang mampu menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam kehidupannya. Maka, sungguh sangat malu bagi Burhan, jika temannya begitu menaruh perhatian kepada masa depan dirinya, sementara dirinya sendiri masa bodoh dengan masa depan. Inilah yang membuat Burhan mau mikir dan akhirnya berubah.
Nah, proses ini kemudian menghantarkan Burhan mulai mengenal Islam. Bulan Ramadhan inilah waktu yang pas buat doi untuk berubah. Ramadhan memang mampu menjadikan orang bisa mengubah gaya hidupnya. Tentu buat mereka yang memang menginginkan dengan serius perubahan dalam dirinya. Tapi, bagi mereka yang hanya menganggap bahwa Ramadhan adalah bulan dimana dia kudu berubah sesaat, maka orang model begitu kemungkinan besar nggak akan berubah menuju kebaikan. Buktinya, banyak seleb yang begitu. Sebelum Ramadhan kelakuannya naudzubillah, pas Ramadhan berubah drastis, jadi kalem. Eh, begitu selesai Ramadhan, mereka kembali ‘gila’. Emang sih bukan cuma kalangan seleb yang begitu rupa, dari kalangan kita-kita juga banyak. But, berhubung kaum seleb mudah dilihat penampilannya di layar kaca dan media cetak, maka merekalah yang paling mungkin untuk disorot. Duh, pada sadar ngapa?
Yang taat Vs yang maksiat
Memang sih, pengennya ketika Ramadhan tiba, maksiat serta merta jeda, atau malah reda sama sekali. Tapi lain di harapan, lain pula dalam kenyataan. Di satu sisi, kita nggak menutup mata kalo memang ada perubahan yang berarti bagi sebagian dari kita. Tapi kita juga prihatin, sebab masih ada juga yang nggak kenal kata akhir dalam maksiat. Ramadhan dibabat juga. Orang model begini memang rada susah diajak untuk baik.
Coba deh kalo kamu jalan-jalan ke pasar, meski di hari pertama bulan puasa, sudah banyak dijumpai mereka yang melalaikan kewajiban puasa. Konyolnya, sambil melayani pembeli mulutnya nggak berhenti ngunyah makanan. Padahal, mereka muslim lho. Tapi apa mau dikata, orang model begitu maunya menang sendiri. Kalo disebut bukan Islam kayaknya bakalan murka juga, tapi, kelakuannya malah bertolak belakang dengan prinsip hidup seorang muslim. Apa nggak aneh tuh orang?
Malah, bulan suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum untuk menambah kuantitas amal dan kualitas amal kita, ternyata justru dinodai dengan tetap bukanya tempat-tempat hiburan yang full maksiat. Coba, siapa yang kagak dongkol?
Eh, udah gitu, di Surabaya beberapa hari menjelang Ramadhan ratusan pekerja seks komersial (baca: pelacur) yang bekerja di diskotik, bar, dan club-club malam memprotes pemda kota Surabaya agar mencabut larangan beroperasinya hiburan malam di kota tersebut selama Ramadhan. Sebab, kalo tempat itu ditutup mereka nggak bisa kerja. Parahnya lagi, mereka berdalih bahwa jika mereka tidak bekerja di tempat hiburan tersebut, bagaimana bisa membeli kebutuhan untuk lebaran? Waduh, ini benar-benar IQ jongkok! Sori rada kasar dikit. Lebaran mau, tapi maksiat jalan terus. Wah, berarti perzinahan jalan terus meski sedang puasa. Aduh, pantas jika Allah murka kepada mereka. Rasulullah saw. bersabda: “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132).
Sobat muda muslim, terus terang kita sedih, kesal, dan juga kecewa dengan kenyataan ini. Ternyata Ramadhan, bagi sebagian dari kaum muslimin yang masih getol maksiat, tidak membuat mereka berhenti dan meninggalkan kebiasaan buruk dan terkutuknya itu. Malah tetep maju terus pantang mundur. Mereka bisa berbuat begitu, selain karena kebodohannya, juga karena kemalasannya untuk mencari ilmu, yakni malas untuk mengetahui tentang ajaran Islam. Jadi ada kesan masa bodoh dengan ajaran Islam. Dengan demikian, orang model begini layak dicap sebagai orang yang tak mau tahu dengan ajaran Islam. Bahaya sobat.
Begitu pula kita prihatin dengan kondisi pergaulan teman-teman remaja, baik di kota maupun di desa. Ternyata aktivitas maksiatnya tetep jalan meski sedang berpuasa. Ambil contoh tentang pergualan laki-perempuan, sampe sekarang masih dijumpai remaja yang tak bisa lepas dari pacaran. Maka jangan kaget jika acara JJS (Jalan-Jalan Subuh) di bulan Ramadhan jadi ajang untuk PDKT dengan pasangannya. Hasilnya, mulut mereka memang puasa dari makan dan minum, tapi beliau-beliau ini tidak tidak puasa dari berbuat maksiat. STMJ, Shaum Terus, Maksiat Jalan! Walah?
Maka, kita-kita ingin ngingetin teman-teman yang masih doyan maksiat, tolong hentikan semua aktivitas tercela itu. Mari kita mengubah diri kita dengan Islam, dan tentunya tidak setengah-setengah, tapi kudu totalitas dengan tuntunan Islam. Yang memang satu-satunya solusi untuk kemaslahatan manusia di muka bumi ini. Maka sungguh heran jika masih ada manusia yang nggak demen dengan Islam. Apalagi sampe membencinya setengah mati. Kita nggak ingin menyaksikan ada umat Islam yang tidak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Mengerikan banget kalo memang itu terjadi. Semoga saja, temen-temen remaja segera sadar dari kekeliruannya. Oke deh, pengennya kita neh, kamu-kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat. Jadi, jangan coba-coba maksiat lagi ya?
Jangan malu untuk berubah!
Sobat muda muslim, kalo merhatiin perkembangan sekarang, kayaknya dari kita-kita jadi pada malu untuk berbuat baik. Nggak semua sih, tapi.. ada aja. Aneh memang. Padahal, justru kudu bangga kalo kita berbuat kebenaran dan kebaikan sesuai ajaran agama kita, Islam. Mau bukti?
Hmm.. kelihatannya udah mengikis rasa bangga menjadi seorang muslim. Teman remaja kita justru bisa merasa bangga ketika menyandang cacat, eh, predikat yang wah di mata masyarakat umum. Misalnya, ada anak (sekaligus orangtuanya) yang bangga kalo jadi bagian dari anggota paskibra (pasukan pengibar bendera). Ada juga yang bangga jika doi adalah pemain basket. Maka, jangan kaget kalo doi kerapkali memamerkan keterampilannya dalam memainkan bola basket tersebut. Ada juga teman yang merasa udah hebat kalo doi jadi orang yang wara-wiri di panggung show.
Sayangnya, kebanggaan semu seperti itu seperti telah mengubur kebanggaan lainnya, yang justru kudu dimiliki setiap muslim, yakni bangga menjadi seorang muslim. Sori, bukannya kita merendahkan teman-teman yang punya keahlian di bidang yang tadi kita sebutkan. Nggak. Kita ‘menghargai’ kok. Tapi inget lho, kebanggaan seperti itu nggak akan memberikan kontribusi yang besar untuk kemajuan Islam. Lagian itu kan kebanggaan semu.
Oke, rasanya kudu ditumbuhkan kembali kebanggaan menjadi seorang muslim. Itu sebabnya, jangan minder kalo jadi anak muslim. Jangan pernah merasa bersalah dan mengutuki diri sendiri hanya gara-gara kamu muslim. Sehingga membuat kamu kudu tampil dengan gaya hidup seperti orang-orang Barat. Kamu pun jadi terbiasa dengan model kehidupannya. Bahkan untuk sekadar nama saja, kamu pengen nama itu terdengar modern, dan tentu mengandung unsur dari ‘kulon’. Maka jangan heran jika para orangtua di kampung saja bangga punya anak yang namanya David, misalkan. Lucunya, kalo pas ditanya, “David ke mana?” Jawabannya, “Lagi ngambil kayu di hutan” Wackss..? Jangan-jangan namanya David Bacem! ?
Sobat muda muslim, dengan menuliskan gambaran seperti itu, tentunya kita punya tujuan ingin mengajak kamu untuk berubah. Jadi kita harap kamu jangan males, apalagi malu untuk berubah menjadi baik. Kalo dulu kamu bangga dengan hal-hal sepele, termasuk bangga menjadi bagian dari masyarakat Barat, maka sekarang tunjukan kebanggaan kamu sebagai seorang muslim. Nggak ada salahnya kamu belajar dari kasus Burhan di atas. Dari okem menjadi alim. Sebuah prestasi hebat bukan? Dan itu hanya bisa diraih ketika kita juga punya niatan yang benar dan sungguh-sungguh ingin mengubah diri. Sebab, Allah akan menolong orang-orang yang memang mau mengubah dirinya. Firman Allah Swt.: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (TQS ar-Ra’d [13]: 11)
Dalam ayat lain, Allah Swt. Akan menolong orang-orang yang beriman. Jadi, kalo pengen ditolong oleh Allah di dunia dan di akhirat, maka jangan malu untuk berbuat baik (baca: beriman) Allah Swt. menjelaskan: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (TQS al-Mukmin [40]: 51)
Yuk, kita benahi diri kita untuk menjadi baik mumpung bulan Ramadhan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang mendapat berkah, rahmat, dan ampunan. Jadi, jangan takut untuk berubah menjadi baik! Semoga ‘semangat’ Ramadhan ini bikin kita berhenti sama sekali dari perbuatan maksiat. Dan sebaliknya, kita getol beribadah. Amin.?
Sumber : Buletin Studia


Rabu, 25 Mei 2016

Salah satu yang harus diperhatikan dalam perencanaan pondasi tiang adalah kemungkinan terjadinya seretan kebawah atau downdrag pada tiang. Seretan ini dikenal sebagai gaya hisap atau gesekan selimut negatif (negative skin friction).  Pada berbagai keadaan, khsusnya pada tanah lempung, diistribusi penurunan tanahberubah terhadap waktukarena adanya perubahan tekanan pori yang mengakibatkan konsolidasi pada tanah. Berkaitan dengan penyebab penurunan tanah, besarnya gesekan selimut negative bertambah dengan besarnya gerakan relatif antara selimut tiang dan tanah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan penurunan tanah antara lain adalah :
·         Profil tanah dan elevasi muka air tanah
·         Sifat-sifat tanah (sifat kompresibilitas dan konsolidasi tanah)
·         Besarnya beban dan lamanya pembebanan
Briaud dan Tucker (1993), mengajukan beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam gesekan selimut negative. Apabila satu dari kriteria tersebut terpenuhi, maka gesekan selimut negatif perlu dipertimbangkan dalam perencanaan. Adapun kriteria tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Total penurunan permukaan tanah diperkirakan lebih dari 100 mm.
2.      Penurunan permukaan tanah setelah pemancangan tiang akan lebih besar dari 10 mm.
3.      Tinggi timbunan yang akan ditempatkan pada permukaan tanah eksisting lebih dari 2 m.
4.      Ketebalan dari lapisan lunak yang kompresibel lebih dari 10 m.
5.      Penurunan muka air tanah lebih dari 4 m.
6.      Tiang dengan panjang lebih dari 25 m.
Bila sebuah tiang berada pada tanah timbunan yang cukup tebal yang masih mengalami pemampatan, atau pada tanah timbunan yang ditempatkan di atas lapisan tanah lempung yang kompresibel dan jenuh air, maka tanah cenderung akan memampat dan bergerak ke bawah. akibat dari beban timbunan, akan terjadi peningkatan tekanan air pori ssehingga tanah tersebut akan mengalami konsolidasi dan penurunan. Jika penurunan tanah disekitar tiang lebih besar dari penurunan tiang, maka akan timbul gesekan antara selimut tiang dengan tanah kearah bawah yang akan menyebabkan tiang tertarik kebawah. gaya geser kebawah ini dikenal sebagai gaya hisap, gesekan selimut negatif (negative skin friction) atau downdrag.
Perilaku ini juga terjadi pada daerah endapan lumpur atau lempung akibat terganggunya tanah pada saat pemancangan tiang. Peningkatan air pori pada pemancangan menimbulkan penurunan tanah yang mengakibatkan gesekan selimut negatif.

Akibat utama yang ditimbulkan oleh gesekan selimut negatif adalah penambahan beban aksial pada tiang dan pengurangan tegangan efektif pada ujung tiang yang disertai pengurangan kapasitas daya dukung ultimit. penambahan beban aksial pada tiang mengakibatkan pertambahan penurunan tiang yang disebabkan oleh pemendekan aksial tiang pancang di bawah titik netral (neutral point). yang dimaksud titik netral adalah elevasi pada tiang dimana tidak terjadi geseran antara selimut tiang dengan tanah atau suatu titik batas dimana terjadi perubahan menjadi gesekan selimut negatif seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1

Gambar 1. Skema gesekan negatif pada pondasi tiang

Salah satu yang harus diperhatikan dalam perencanaan pondasi tiang adalah kemungkinan terjadinya seretan kebawah atau downdrag pada tiang. Seretan ini dikenal sebagai gaya hisap atau gesekan selimut negatif (negative skin friction).  Pada berbagai keadaan, khsusnya pada tanah lempung, diistribusi penurunan tanahberubah terhadap waktukarena adanya perubahan tekanan pori yang mengakibatkan konsolidasi pada tanah. Berkaitan dengan penyebab penurunan tanah, besarnya gesekan selimut negative bertambah dengan besarnya gerakan relatif antara selimut tiang dan tanah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan penurunan tanah antara lain adalah :
·         Profil tanah dan elevasi muka air tanah
·         Sifat-sifat tanah (sifat kompresibilitas dan konsolidasi tanah)
·         Besarnya beban dan lamanya pembebanan
Briaud dan Tucker (1993), mengajukan beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam gesekan selimut negative. Apabila satu dari kriteria tersebut terpenuhi, maka gesekan selimut negatif perlu dipertimbangkan dalam perencanaan. Adapun kriteria tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Total penurunan permukaan tanah diperkirakan lebih dari 100 mm.
2.      Penurunan permukaan tanah setelah pemancangan tiang akan lebih besar dari 10 mm.
3.      Tinggi timbunan yang akan ditempatkan pada permukaan tanah eksisting lebih dari 2 m.
4.      Ketebalan dari lapisan lunak yang kompresibel lebih dari 10 m.
5.      Penurunan muka air tanah lebih dari 4 m.
6.      Tiang dengan panjang lebih dari 25 m.
Bila sebuah tiang berada pada tanah timbunan yang cukup tebal yang masih mengalami pemampatan, atau pada tanah timbunan yang ditempatkan di atas lapisan tanah lempung yang kompresibel dan jenuh air, maka tanah cenderung akan memampat dan bergerak ke bawah. akibat dari beban timbunan, akan terjadi peningkatan tekanan air pori ssehingga tanah tersebut akan mengalami konsolidasi dan penurunan. Jika penurunan tanah disekitar tiang lebih besar dari penurunan tiang, maka akan timbul gesekan antara selimut tiang dengan tanah kearah bawah yang akan menyebabkan tiang tertarik kebawah. gaya geser kebawah ini dikenal sebagai gaya hisap, gesekan selimut negatif (negative skin friction) atau downdrag.
Perilaku ini juga terjadi pada daerah endapan lumpur atau lempung akibat terganggunya tanah pada saat pemancangan tiang. Peningkatan air pori pada pemancangan menimbulkan penurunan tanah yang mengakibatkan gesekan selimut negatif.

Akibat utama yang ditimbulkan oleh gesekan selimut negatif adalah penambahan beban aksial pada tiang dan pengurangan tegangan efektif pada ujung tiang yang disertai pengurangan kapasitas daya dukung ultimit. penambahan beban aksial pada tiang mengakibatkan pertambahan penurunan tiang yang disebabkan oleh pemendekan aksial tiang pancang di bawah titik netral (neutral point). yang dimaksud titik netral adalah elevasi pada tiang dimana tidak terjadi geseran antara selimut tiang dengan tanah atau suatu titik batas dimana terjadi perubahan menjadi gesekan selimut negatif seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1

Gambar 1. Skema gesekan negatif pada pondasi tiang